Alkisah, dua tahun yang lalu, tergabunglah puluhan orang hebat dari seluruh penjuru negeri untuk bergabung dalam sebuah organisasi. Mereka adalah orang-orang terpilih yang memiliki semangat dan integritas tinggi, untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Organisasi yang tadinya mayoritas diisi dari golongan tertentu ini kemudian bertransformasi menjadi organisasi yang lebih berwarna, terbuka, dan penuh dengan romansa.

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Pun dengan orang-orang di organisasi ini. Tulisan ini hanya   sebagai refleksi, perjalanan cinta beberapa pejuang di organisasi yang saya kira patut kita apresiasi.

1. Namanya X, beliau memegang jabatan sebagai koordinator bidang yang membawahi bagian sosial politik. Satu tahun yang lalu, beliau mengalami kegalauan yang luar biasa karena kisah cintanya selama 3 tahun di kampus berakhir begitu saja. Tuhan ternyata berikan X yang terbaik. Tidak sampai 6 bulan kemudian, X sudah mendapatkan penggantinya dan beberapa hari yang lalu, X telah melangsungkan pernikahan dengan gadis pujannya yang ternyata dulu sama-sama menjadi pengurus organisasi ini. Jodoh memang tidak kemana dan Tuhan berikan X pengganti jauh yang lebih baik dari yang sebelumnya.

2. Namanya Y, dahulu dia adalah seorang yang sangat ceria, mudah bergaul dan cerdas. Dua tahun yang lalu, dia memiliki kekasih yang sama-sama berada di organisasi tapi beda divisi. Mereka terlihat sangat akrab dan serasi sampai-sampai pada saat wisuda, tak segan-segan mereka berfoto berdua bersama keluarga. Sayangnya, kisah cinta Y berakhir pula. Bulan depan, sang gadis akan melangsungkan pertunangan dengan pria lain, bukan Y. Kalian bisa membayangkan bagaimana kondisi Y saat ini. Y menjadi orang yang tidak seceria dan se"ceplas-ceplos" dulu lagi. Namun demikian, Y berusaha mengalihkan kegalauannya dengan hal-hal positif, terutama membantu kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat sesuai dengan passionnya.

3. Namanya Z, ia adalah sosok yang misterius. Kisah cintanya jarang terendus publik, padahal ia merupakan salah satu pria idaman di organisasi ini. Sekalinya terekspos, ia ternyata memiliki kisah cinta yang tidak kalah mengenaskan. Diam-diam Z jatuh cinta dengan teman sepermainannya. Mereka sangat dekat karena setiap minggu memiliki kegiatan bersama. Gadis ini merupakan kolega organisasi, sementara Z menduduki jabatan kedua tertinggi di salah satu divisi. Z yang juga satu organisasi dengan si gadis di tempat lain berencana menyatakan cintanya satu saat. Sayangnya si gadis menganggap hal itu bercanda dan telah memilih pria lain sebagai pujaan hatinya. Bulan depan si gadis akan melangsungkan lamaran dan jika Tuhan mengizinkan, 5 atau 6 bulan setelahnya akan dilangsungkan pernikahan. Kisah cinta yang berakhir tidak sesuai harapan, seperti yang ada di novel-novel persahabatan.

Selain ketiga kisah cinta di atas, masih banyak lagi kisah cinta di organisasi ini. Ada kisah cinta tapi beda (agama), kisah cinta jarak jauh yang menguji kesetiaan hingga kisah cinta antar bangsa. Ah, semuanya memiliki kesan tersendiri. Semoga kita semua dapat mencintai dan dicintai dengan orang yang tepat di waktu dan tempat yang tepat :)
Read More
Pertanyaan kritis gw pertama kali setelah bangun tidur menyadari hari ini tanggal 22 Desember adalah

"Kenapa hari ini dijadikan sebagai hari nasional tanpa libur yang kita sebut dengan 'Hari Ibu'?"

Padahal, sejarahnya tanggal 22 Desember ini adalah awal mula Kongres Wanita (gw lebih suka menulisnya dengan kata perempuan) I di Indonesia. Logikanya, tidak semua perempuan adalah seorang Ibu, tapi kenapa hari ini dijadikan hari Ibu?

Makna "Hari Ibu" yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno berdasarkan Keppres No. 316/1959 menurut gw mereduksi peran perempuan itu sendiri sebagai "Ibu Rumah Tangga". Artinya, semangat hari Ibu yang dimaksud presiden Soekarno menurut gw ga sejalan dengan semangat perempuan yang berjuang menorehkan tinta sejarah perjuangan sosial politiknya sejak Kongres Perempuan I tahun 1928 di Yogyakarta.

Sekarang kita lihat banyak orang di media sosial berceloteh tentang betapa hebat Ibu mereka, betapa sayang mereka pada Ibunya. Tapi, saya khawatir ini hanyalah selebrasi semata, seperti ungkapan kasih sayang di hari Valentine. Seharusnya, di hari ini kita (para perempuan khususnya) melakukan refleksi atas perjuangan para perempuan-perempuan hebat bangsa Indonesia yang memperjuangkan hak-haknya. Kita juga patut bersyukur bahwa di hari ini, 84 tahun yang lalu, perempuan-perempuan Indonesia berhasil menunjukkan eksistensinya di ranah publik. Di tengah budaya patriarki bangsa Indonesia, para perempuan tersebut dapat dengan tegas menyuarakan keinginannya sehingga perempuan saat ini tidak lagi terkungkung dengan budaya konco wingking.

Well said than done, masih banyak perlakuan-perlakuan tidak adil yang dialami oleh perempuan karena mereka perempuan. Ya, karena sesungguhnya menurut pola pikir jadul nan kuno, perempuan hanyalah pelayan laki-laki, warga kelas satu di negara dan dunia ini. Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena toh akhirnya hanya jadi Ibu Rumah Tangga. Buat apa perempuan ke luar rumah? Tempat terbaik bagi perempuan adalah di rumah, mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.

Hmm, buat saya pikiran-pikiran seperti itu adalah pikiran jadul nan kuno. Di saat perempuan sudah jauh lebih tinggi pendidikannya di atas laki-laki bukan berarti mereka tidak bisa berperan ganda sebagai Ibu Rumah Tangga dan Pelayan Masyarakat. Kontribusi perempuan seharusnya tidak dibatasi pintu pagar rumah tangga.   Menjadi Istri, Ibu, Perempuan Karir ataupun Ibu Rumah Tangga adalah pilihan masing-masing perempuan, jangan karena terpaksa mereka menjalani peran tersebut. Sebab saya yakin, potensi perempuan tidak hanya terbatas menjadi Ibu bagi anak-anaknya ataupun Istri bagi suaminya. Lebih dari itu, perempuan bisa menjadi pelayan masyarakat, pemimpin bangsa hingga pemain global dalam segala bidang.


Jadi, selamat hari perempuan untuk para perempuan di seluruh (dan yang berbangsa) Indonesia :)

referensi: http://historia.co.id/artikel/5/613/Majalah-Historia/Hari_(Perjuangan)_Ibu
Read More
Kemarin ILC TVOne ngebahas tema itu. Lagi-lagi bupati Aceng Fikri yang jadi sorotan. Entah kenapa, pembahasan tentang nikah siri ujung-ujungnya ke masalah Poligami boleh atau ngga? Jelas2 nikah siri secara agama sah, tapi secara hukum ga sah. Kalau menurut kalian gimana?

"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir"- @soedjiwotedjo
Read More
Kemarin gw nonton "Bidadari-Bidadari Surga", film adaptasi novel Tere Liye dengan judul yang sama. Filmnya drama banget sih, tapi makna pesannya dalem banget. Pengorbanan tanpa pamrih, kecantikan hati  jauh lebih berharga dari kecantikan fisik, istiqamah, konsisten, bersyukur, berbesar hati dan sebagainya... Cuma banyak keanehan yang gw tangkep dari film itu. Contohnya, plat nomer mobil B yang jelas2 mereka ambil setting film di daerah Sumatera :p

Hari Minggu gw nonton film "5 cm", lagi-lagi adaptasi film dengan judul yang sama dari Donny Dirghantoro. Novelnya udah gw baca pas SMA, keren, terutama kutipan2nya. Gw sendiri hampir lupa gimana jalan ceritanya. Intinya sih tentang cinta, persahabatan, dan TEKAD. Yup, tekad. Kalau kamu sudah punya cita-cita, gantungkan cita2 tersebut 5 cm di depan kening kamu, yang kamu perlukan tinggal kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..

(http://www.goodreads.com/author/quotes/700880.Donny_Dhirgantoro)

 Lalu, saya diterjang euphoria ingin naik gunung. Ah ya, ceritanya gw punya keinginan naik gunung sebelum lulus (mendaki gunung lebih tepatnya, ga harus Semeru sih) semoga kesampean ya :)

Satu lagi, hari Kamis minggu lalu sebelum gw balik ke Indo, gw sama Emir, Diandra dan Raisa nonton film "Life of Pi", lagi-lagi adaptasi novel karya Yann Martel. Ini film mengajarkan tentang pencarian makna Tuhan, bagaimana seorang anak yang survive di laut sendirian sama sekor harimau bisa bertahan hidup dan melakukan perjalanan panjang. Gw sangat suka dengan quote yang satu ini: 

"and above all, don't lose hope"

Ketiga film yang baru-baru ini gw tonton sebetulnya cuma punya 1 inti pesan, hidup itu adalah kombinasi antara sabar dan syukur. Tetap semangat, pantang menyerah, jangan buat hidupmu sia-sia. Buatlah rencana, tujuan dan strategi yang matang. Laksanakanlah, jangan putus asa, sebab akan ada jalan dari yang Maha Kuasa untuk mengantarmu mencapai impian-impian tersebut.

"Keep our dreams alive, and we will survive.."

Salam,

Vina
Read More
Hi all,

kemarin saya baru saja dari perpustakaan Bank Indonesia, dengan tujuan, apalagi kalau bukan untuk penelitian tesis saya yang berjudul "The Role of Central Bank Independence in Outcoming Financial Crisis: Case Study Bank Indonesia in AFC and GFC". 

Saya senang sekali menghabiskan waktu di sana, seharian membaca dan mencari bahan yang bisa saya gunakan untuk penulisan tesis. Oke, saya juga tiba2 kepikiran, kenapa gw ga kerja di BI aja? :D

ps: supervisor sudah membalas e-mail, he said, go ahead and try to put another view (criticism on Central Bank Independence, lets go ahead :D) 
Read More
susah banget buat merangkai kata2 menjadi kalimat buat tesis saya. hua, bagaimana ini, deadline outline satu minggu lagi, sampai detik ini baru 1-2 paragraf terketik. butuh motivasi. banget. akhir2 ini jadi sering galau ga jelas. gw suka merasa bersalah karena kemarin2 kebanyakan libur dan males2an. besok mau ke luar negeri pula. jumat udh beli tiket balik. ;(

Allahumma yassir, wa la tuassir, ya Allah mudahkan, jangan persulit ;o)
Read More

Today I had an amazing workshop. This workshop titled “Crisis Communication Workshop” in which the participant had a role play in the real scene of crisis and see how we can handle it. The instructors are the PR expert and the real journalists were involved in our simulation.

I was on the TV! Watching myself in unprepared interview was really shameful. I learnt a lot that before you tell anything to media, especially when your company/organization is in crisis, do the preparation and rehearsal. As a head of communication in multinational construction company  that had a building collapse in one of the local office, I did a lot of mistakes by not developing key messages, prepare anticipated Q&A, and not sending the press release. Whooaa, I felt so horrible in front of the media. It was really depressing you know when the media keep asking something that you didn’t event know how to respond.

“Tell nothing but the truth!”

Yeah, I tried to bluff some answer but then it wasn’t work well. I was very bad PR at that time. Too defensive, I was trying to defense indefensible situation. I felt that 5 months working in PR consultant has nothing to count on when I was induced in the “real” situation. I regret that I am not well prepared on this. It should have been better if I can manage the situation well and not trying to answer stupidly.

But, that’s okay. At least, I’m not in the real crisis situation. If so, I definitely will not go on into the camera without developing key messages and rehearsing.

So, the preparation is the key. That’s all :)
Read More
Sounds silly?

Well, actually the title should be "Pelacur Intelektual", as this phrase came from my friend who chat with me at gtalk. She is working as a special staff of Indonesian lawmakers and has a job to write newspapers articles in the name of her boss. She supposed to be the "ghostwriter" for every articles that her boss want to publish. She acknowledged that what she did is abusive, in the name of intellectual and integrity (of course). However, this is common practice that happen in Indonesia, especially the public policy makers (and I guess all over the world). You pay someone to write articles and make a speech. It's usual and acceptable.

The situation is different when you come to academic field. Any writing that is not based on your original idea  and not quoted properly can be considered as plagiarism. You can still take other people though and ideas but you have to quote it properly, otherwise you will be suspected as plagiarist. A friend of mine who works on research center, once had a task to write an article on behalf of his boss. Nevertheless, because he sent the article to academics web and put his own name on his writing, the publisher put his name on the credential. In academics, originality of the work placed first and you will be recognized for what you do (by yourself). Paying someone to write the article on behalf of your name is not acceptable (ideally). Rarely the academician pay someone to write something on behalf of their own, since they also don't have much money to do that.

Thinking and writing is a hard job. Not everyone can be a good thinker and writer at the same time. I think every writer should be appreciated on behalf of his/her own work. As this job requires much of your time and energy, this intelligence work should be appreciated highly. I know that many people (including me) are so lazy to make such a great work. The thing is we can't replace the originality with money. Idea is idea, can't be replaced by bucks. Nonetheless, this has been a common practice since years ago. These "budak/pelacur intelektual" will still be there and many people need them. This is a dilemma. When we were thought to be honest, the situation pushed us to do what we shouldn't do. I remembered one of my senior said "biasakanlah yang benar, jangan benarkan kebiasaan". It seems applicable in this case.

I wonder whether someday I'll be one of them or may be the one who employ them?


Read More

Long time no blogging on "hard" issue, I should have written many things. Nonetheless, due to my laziness (forgive me pals), I haven't post anything yet. So, enjoy my first post after long hiatus (applause to my self :p)

Title : Dilema PKS, Suara dan Syariah
Author : Burhanuddin Muhtadi
Pages : xxviii +307 pages
Publisher : KPG, Jakarta

 Dilema PKS, Suara dan Syariah
Written as the author's sub-thesis, this book really enhances my knowledge about Prosperous and Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera / PKS). When I found this book placed on RSIS library display, I just directly wrote my name under reserve list. Luckily, I got a chance to be the first reader of the book since Pak Leonard (my mentor who reserve it first) still leave on absence from the school.
This book tells about how PKS emerge as a political party from Islamic missionary movement on secular campus (read: Dakwah Kampus). Using integrated social movement approach and protest-event analysis, Burhanuddin has successfully deliberated the phenomena of PKS presence. As we know that after New Order Era, Soeharto regime collapsed, many party suddenly emerged. However, none of the party delivered "harsh" Islamic ideology as PK (the former name of PKS) did.
PK was not really recognized in 1999 election but they managed to place their law maker at House of Representatives. As the party gained more reputation as "clean and caring" party, the votes rocketed very well that this party managed to be middle rank party in 2004 election. The numbers of the voters also increased in 2009 election, although the votes was far behind the-brand-new Democrat Party, which was the only party that can reach 20% votes.
The author writes that PKS that has strong cadre institution. To be the core cadre of this party, one should go for 6 tight steps and it is started by following the liqo. This movement was born in late 1970s-1980s as a response from the repressionary policy of Soeharto regime on student movement. Popularly known as "Jamaah Tarbiyah", the initiators of PKS are the people who involved in Dakwah Kampus. These elites came from top secular state universities in Indonesia, such as UI, ITB and UGM. At first, the movement was only cultural, the activists just wanted to purify Islamic practices based on "Ahlus Sunnah wal Jamaah". Some of the activists were inspired by Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) in Egypt, who was established by Hassan al Banna, to bring the idea of Islam as whole part of our life, including politics and social life. This idea certainly clashed with secularism, which separates religion and politics.
The people who initiated this movement were cadres from DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, lead by M. Natsir) or LMD (Lembaga Mujahid Dakwah, training initiated by Imaduddin Abdurrahim). The idea of "dakwah" was implemented by using usrah and halaqah. This movement then transformed into political movement when there was an opportunity by using Student Movement in 1998.
KAMMI, LDK and FSLDK are the keyword that Burhanuddin stated to describe the emergence of PKS. PKS is the only party that put large attention on the transnational Islamic issue such as Palestine, Lebanon, Afghanistan and Iraq. They often conduct demonstration on Anti-Semit (Jews) and Anti-US. As they was born as an Islamic party, PKS has limited audience and voter targets. Thus, the votes in General Election are lessen than other national-secular party.
This makes a dilemma for the party, especially the young cadres who see that PKS should be more open to gain higher votes. The moves to expand the members for non-muslim and eyeing such bad-politician with large funding potency were responded negatively by many cadres (and even the public). They see that PKS was no longer puritan. The ideology seems to be diminished to gain the votes. The popularity of this party dropped badly when some of its lawmakers involved in corruption and pornography cases. The slogan as "Clean, Caring and Professional" party seems no longer relevant for what the party members had done. Moreover, internal conflict has made this party less credible in public. This dilemma looks like a trade-off and will never be unresolved until the party members reconcile what is the main goal of the party.
Actually, many authors have published several writings on PKS. I see this book as a   complementary to cover unanswered questions of how this party emerge and operate. I like how the author tells the reader about the story. This is not really hard book (if you like politic, of course ;p). You can read it before you sleep (as I did :D). It is more on narrative rather than academic version.
In my opinion, the author has successfully putting the context of how PKS emerge as social movement using social movement integrated theory. However, I don't see the relevance of using protest-event analysis in explaining the social movement derived by PKS and how it can contribute to the party presence. I see the main part of the book (the dilemma) is essentially contextualized with the present situation and not included in research question. This should be more explored in order to give a big picture for what is going on inside the party.
All in all, this book is very recommended, especially for people who interested in politics, social movement, LDK activists and secularists :)
Read More
Assalamu'alaikum wr.wb,

Apa kabar semua?
Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi keberkahan oleh Allah SWT :)

Alhamdulillah, kegalauan akademis saya untuk Trimester 2 ini terjawab sudah. I'm officially taking dissertation track to complete my master program. Doakan ya, tesis saya berjudul "The Importance of Independence Central Bank in the time of Crises: A Case Study of Bank Indonesia in Asia and Global Financial Crises" dapat saya kerjakan dengan lancar dan memperoleh hasil memuaskan, aammiiinnn :)

O, ya, akhirnya, setelah sempat galau mau ambil mata kuliah apa term ini, saya memutuskan untuk mengambil dua mata kuliah yang menantang, yakni Comparative Political Economy dan Bahasa Mandarin. Menantang, sebab tugas2nya lumayan banyak (disamping saya harus mengerjakan disertasi/tesis) dan diisukan susah dapet nilau yg bagus. Ah, sepertinya mind set saya sejak S2 ini cukup berubah, kuliah tidak lagi mencari nilai (yang penting lulus dan bisa disertasi ;p), melainkan mencari jodoh  ilmu :D

Alhamdulillah, saya cukup puas dengan keputusan yang saya ambil, semoga Allah selalu memudahkan langkah kita semua dan semoga Allah memberkahi setiap jalan yang akan kita tempuh :)

Dalam rangka merangkai kehidupan yang lebih baik, sepertinya penting bagi saya untuk menuliskan kembali target2 dan tujuan hidup yang saya ingin capai, setidaknya untuk satu tahun ke depan:

1. Lancar kuliah, disertasi, mendapat nilai A+
2. Lulus M.Sc dengan nilai memuaskan ( target saya setidaknya 4.5 dr 5.0, amin ya Allah)
3. Menerbitkan tulisan di koran berbahasa Inggris minimal 5 kali
4. Menerbitkan tulisan di jurnal ilmiah, minimal 1 kali
5. Lolos tes CPNS Kemlu 2013
6. Bisa jadi Assistant Research/Research Analyst di research center/think thank/MNC
7. Pergi keliling ASEAN, Eropa dan Australia (untuk conference atau lomba)
8. Naik haji

hmmm, 8 target yg menurut saya BISA dicapai, insya Allah :

Read More

Re-Uni berasal dari kata bahasa Inggris, Re-United yang artinya berkumpul kembali (ngasaldotcom, haha).
Seminggu lebih kembali ke tanah air, bertemu dengan teman2 dan sahabat2 di Forum Indonesia Muda, PPSDMS Putri angkatan V, PRasastanian serta teman2 seperjuangan di Bandung dan Depok. Alhamdulillah, masih bisa merasakan indahnya nikmat persahabatan dan kekuatan tali silaturahmi.
Bertemu dengan teman2 membawa banyak cerita, curhat, mimpi dan visi hidup. Ya, kami memang bukan kami yang beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu. Dimensi waktu menjadi saksi perkembangan dan pendewasaan hidup kami.
Teringat masa-masa indah di asrama putih, yg 2 tahun lalu sempat saya "sesali" sebab banyak hal yang tidak berlaku sesuai ekspektasi. Kompetisi menjadi mahasiswa berprestasi, kegiatan sosial di rumah belajar Matahari, mimpi2 yg kami tuliskan di life plan maupun video visi hidup, ah semua tinggal menjadi histori. Lihatlah, kawan2ku saat ini, penghuni asrama putih telah bertransformasi menjadi calon dokter gigi, perawat, apoteker, bahkan ilmuwan yg melanglang buana sampai ke negeri Taiwan. Tentu saja, mereka yang sudah mantap menjalani istikharahnya, akan segera melanjutkan kehidupan ke jenjang pernikahan, mohon doa untuk kawan2 tersayang :)
4 hari di Cibubur, lagi-lagi membawa semangat baru untuk saya menjalani kehidupan di negeri orang. Seperti yang Bunda Tatty ucapkan, "Setiap detik kehidupan adalah perjuangan," dan saya mendapatkan semangat itu kembali di FIM :) bertemu dengan pemuda-pemudi hebat di seluruh nusantara, bercerita, berkelakar hingga ber-modus2an #eeaa. Saling berbagi inspirasi dalam keragaman, FIM memberi makna tersendiri bagi liburan saya kali ini.
Dan oh, PRasastanian, banyak sekali kisah yang saya lewati selama 4 bulan terakhir. Dari teman, pacar, sahabat, hingga udang di balik batu. Saya kangen kalian, para senior consultant. Terima kasih telah memberi inspirasi bagi saya untuk tetap berjuang dalam kondisi sesulit dan setertekan apapun. Saya yaki 4J akan menjadi bintang di masa depan :*
Untuk Dian, Lia, Riza dan Sorang, terima kasih telah berbagi makna dan kebahagiaan tentang menjadi dewasa. Saran Lia dan Dian akan selalu saya ingat dan saya camkan, bahwa perempuan baik hanya untuk laki-laki baik (jangan sampe dapet jackpot :p). Riza dan Sorang, ya, kita bukan lagi mahasiswa HI UI, peluang-peluang kontribusi terbuka lebar di depan mata dan tentu saja jangan lupa mencari jodoh :p Insya Allah, di mana pun kita berkontribusi akan selalu menjadi amal baik jika kita mengerjakan dengan ikhlas.
Sebelum menutup tulisan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Ayya dan Tangguh, kebersamaan dengan kalian (di waktu dan tempat yang berbeda) menginspirasi saya bagaimana kalian sangat gigih memperjuangkan passion dan gelar walaupun sedikit dukungan dan keterbatasan akses. Semoga Allah tetap menjaga indah tali silaturahmi ini :)

Read More
libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira :D

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dua hari lagi, insya Allah saya balik ke Jakarta! Tapiiiii, sebelum liburan, masih ada dua exam yang harus saya lewati, IP 6000 dan IP 6001.

Semangat belajar kiasu, yang artinya berusaha sekeras mungkin karena takut gagal, sepertinya sudah terinternalisasi dalam diri saya. Di Singapura, teman-teman bisa melihat betapa gigih para pelajar dan mahasiswa untuk belajar, bahkan mengorbankan akhir pekan mereka, hanya untuk belajar. Saya sendiri merasakan bagaimana (untuk pertama kali dalam hidup saya) berjuang agar tidak gagal dalam ujian harus sekeras ini.

Ya, untuk pertama kalinya, saya berada di kampus hingga jam 1.30 AM hanya untuk belajar. Exam pertama, yakni S6007, tentang metodologi riset dalam studi internasional, alhamdulillah dapat dikerjakan dengan lancar :)

Tentu saja, hal ini merupakan hasil kerja keras dan doa, sebab tantpa kedua hal itu, saya sangsi bisa mengerjakan soal dengan baik. S6007, merupakan mata kuliah dasar yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa RSIS. Kelasnya merupakan kelas besar dan topik-topik yang diajarkan setiap minggunya mencakup dasar-dasar teori HI, metode penelitian (kualitatif), survey, reading social sciences, assessing social scientific claim, pendekatan sejarah dalam HI dan kajian wilayah. Dosen yang mengajar pun juga ganti-ganti, tergantuk topik yang sedang dibahas (yang salah satunya adalah dosen ganteng, Farish Noor dan dosen gaul, Evan Resnick :p). Kelas ini sendiri dikoordinatori oleh Prof Khoong Yuen Fong, yang merupakan dosen di Oxford University dan pernah meraih award untuk disertasi terbaik dalam Strategic Studies.

Mengingat banyaknya bahan yang harus dipelajari (dan istilah-istilah yang harus dihafal), saya, bersama Emir, Diandra dan Mario membentuk kelompok belajar. Tiga hari sebelum ujian, kami mulai berdiskusi dan membahas bahan-bahan yang diajarkan per minggunya. Sebelumnya, kami telah membagi tugas untuk membuat summary bahan-bahan dan kemudian kami diskusikan pada saat bertemu. Hari pertama, kami mulai belajar jam 9.00 pm dan selesai jam 1.30 am. Besoknya, kami mulai belajar jam 8.00 pm dan selesai jam 12.00 am. Hari terakhir kami belajar dua jam untuk membahas soal. Selain belajar kelompok, saya juga belajar sendiri untuk memahami bahan bacaan dan ilmu-ilmu yang telah disampaikan di kelas. Alhamdulillah, hasilnya memuasakan :)

Besok dan lusa saya masih ada exam, strategi belajar kelompok serta belajar individu juga saya terapkan untuk kedua mata kuliah inti IPE ini. Mudah-mudahan hasil akhirnya juga memuaskan seperti S6007. Mohon doanya ya kawan :)

Semangat!


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Read More
2015 seems to be the "sacred" year for international relations. Many of international institution's ambitious goals are targeted to be completed in 2015. Two of them are Millenium Development Goals and ASEAN Community. It means, UN and ASEAN member states should work vastly to achieve those targets within three years.

Given the current situation, it looks like MDGs and ASEAN Community will not be achieved comprehensively. Some programs are success but many fails (at least has not been achieved within the timeline). Such condition makes initiative to go beyond 2015 is important.

Indonesia, as the "de-facto" leader of ASEAN has proposed the ASEAN Community after 2015. With its tagline, "ASEAN Community in a Global Community of the Nations" has served as a guide line of ASEAN beyond 2015. There might be another declaration of how ASEAN Community beyond 2015 is shaped following the Bali Concord I & II.

Moreover, the UN has established High Level Panel on Global Sustainability, where SBY became together with Liberia's President Ellen Johnson Sirleaf and UK's Prime Minister David Cameroon were appointed has co-chaired. The panel is expected to produce some recommendations on post 2015 global's development agenda.

So, the governments have set up another ambitious goals beyond 2015. Will the goals be more realistic? Let's just see. We hope for the best to advance human development and the betterment of world citizens.

and for myself, I just set up my target to fulfill one half of religion in 2015 or beyond :p
Read More

Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar kawan2? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat serta tetap semangat menjalani aktifitas.
Apa kabar saya?

Alhamdulillah, keadaan saya hari ini jauh lebih baik dari kemarin maupun beberapa hari yang lalu.
Teman2 yang baca postingan saya sebelumnya mungkin telah mengetahui bahwa beberapa hari ke belakang saya menderita suatu penyakit yang membuat saya susah duduk, bangun dan berjalan. Sampai - sampai saya harus masuk UGD untuk disuntik obat penghilang rasa sakit di pantat saking tidak tahannya.

Ternyata, setelah pulang dari UGD, obat penghilang rasa sakit itu hanya bertahan satu malam. Keesokan harinya, saya mengalami sakit yang sama. Susah duduk, bangun dan berjan. Terkadang, rasanya perih sekali, sampai-sampai saya menangis karena tidak dapat menahan sakitnya. Namun, karena sudah diberikan salep dan obat penghilang rasa sakit beberapa saat sakitnya mereda. Bahkan dua hari kemudian saya memberanikan diri untuk pergi ke Jurong Point sendirian membeli beberapa keperluan.

Tubuh memang tidak bisa bohong. Alih-alih semakin nyaman, sakit saya semakin parah. Hari rabu yang seharusnya saya masuk dua kelas, saking sakitnya saya hanya mengikuti setengah pelajaran jam pertama. Kemudian saya segera pergi ke klinik NTU untuk meminta pertolongan pertama (dengan jalan terseok2). Saya menahan rasa sakit selama perjalanan dari RSIS Student Wing ke klinik NTU.

Dokter klinik pun akhirnya memeriksa dan beliau berkata bahwa abses yang saya derita sudah semakin besar sehingga ada kemungkinan harus dioperasi untuk mengangkatnya. Saat itu saya yang berusaha menahan rasa sakit semakin merasa perih dan meminta untuk disuntik obat penghilang rasa sakit. Akhirnya, oleh suster di klinik saya disuntik obat penghilang rasa sakit (lagi-lagi di pantat). Dokter juga memberikan saya antibiotik (lagi) dan obat penghilang rasa sakit (asam metafamat) serta obat penghilang radang yang lumayan membantu menghilangkan rasa sakit beberapa saat.

Namun, sepertinya obat suntik itu tidak bekerja dengan baik. Sebab saya masih harus terseok-seok berjalan ke kantin B untuk kemudian memanggil taksi yang mengantarkan saya ke rumah. Saat itu saya betul-betul tidak dapat menahan rasa sakit. Sampai di rumah, saya langsung tepar dan berusaha mengompres abses saya dengan alkohol.

Di rumah, saya menahan perih, sambil mencari2 apa alternatif terbaik yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan penyakit saya. Saya mulai browsing dan menemukan ternyata penyakit yang saya derita adalah "bartholyn gland cyst". Penyakit yang sebetulnya pernah saya derita saat saya SMA :'(.

Bartholyn Gland Cyst atau pembengkakan (kista) kelenjar bartholini adalah sebuah pembengkakan yang terjadi di daerah vulva, labia mayora (dinding luar vagina) yang salah satu penyebabnya adalah infeksi bakteri (seperti yang saya alami). Kelenjar bartholini yang normalnya mengeluarkan sekret menjadi tersumbat jalannya akibat infeksi tersebut sehingga menyebabkan pembengkakan di daerah labia mayora. Akibatnya sakit terasa ketika penderita ingin bangun, bergerak dan jalan (bahkan duduk sekalipun).

Saya kemudian mencari klinik wanita yang buka 24 jam dan bisa konsultasi dengan dokternya tanpa harus buat janji terlebih dahulu. Sebetulnya saya sudah ada janji bertemu dokter spesialis obestetri dan ginekologi di klinik wanita NUH, tempat saya direferensikan. Namun, karena janji bertemu pada hari Senin dan saya tidak bisa menahan sakit lagi, saya mencari alternatif lain. Pilihan pun jatuh di KK Women and Chlidren Hospital di mana ada klinik O&G yang buka 24 jam.

Keesokan paginya, saya langsung meluncur ke rumah sakit ini dan bertemu dengan dokter spesialis O&G. Seperti biasa, beberapa prosedur seperti administrasi, cek tekanan darah dan tes suhu tubuh saya jalani. Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya saya dipanggil menuju ruang konsultasi. Dihadapan dokter muda yang modus itu langsung saya papqrkan bahwa saya sepertinya menderita Bartholin Gland Cyst. Dokter itu agak kaget juga, kenapa saya bisa tahu langsung penyakit saya. Saya bilang, sekitar 5 tahun lalu saya juga pernab menderita penyakit yang sama. Dokter itu pun langsung memeriksa saya dan melihat pembengkakan yang sudah berujuran 4-5 cm. Pantas saja, betapa sakitnya saya jika ingin duduk dan berjalan. Dokter pun menawarkan 2 opsi. Operasi atau beliau bisa memberikan obat antibiotik (lagi) dan pengurang rasa sakit. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya adalah menghilangkan penyakit ini sesegera mungkin dan setuntas mungkin. Akhirnya, dengan penuh kesadaran, saya ambil opsi pertama yakni operasi.

Saya kemudian ditanyai riwayat kesehatan, kapan tanggal mens terakhir, adakag alergi obat dan lain sebagainya. Pertanyaan yang kemudian diulang oleh setiap paramedis yang menangani kasus saya sampai masuk ruang operasi. Dokter pun menanyakan usia saya, saya jawab sudah lebih dari 21 tahun. Sebab untuk menandatangani consent form untuk operasi sendiri paling tidak say harus sudah berusia 21 tahun ke atas. Terlihat ragu dengan peraturan ini, dokter itu menemui "boss"nya untuk memastikan bahwa saya bisa dioperasi.
Setelah saya menandatangani consent form untuk operasi, saya keluar ruang konsultasi untuk proses administrasi dan pembayaran. Saya yang baru pertama kali pergi ke rumah sakit untuk operasi (sendiri dan di negeri orang pula) belum tahu mengenai prosedur2nya. Termasuk harus puasa 6 jam sebelum operasi dan ditempatkan di ruang rawat inap (ward bed) selama paling tidak satu hari. Satu hal yang saya tidak pikirkan masak-masak waktu itu adalah perihal biaya. Ternyata, biays yang harus saya keluarkab mencapai 1,5 kali monthly stipend saya. Huaaaa, mahal :'(

Saat itu juga saya langsung menghubungi mama dan meminta ditransfer sejumlah uang untuk menutupi biaya tersebut. Bagaimaba reaksi orang tua dan keluarga saya? Oke, mereka cukup (atau mungkin sangat) khawatir dengan keadaan saya. Namun, saya berusaha meyakinkan mereka bahwa saya baik-baik saja dan operasi yang akan dilakukan hanyalah operasi kecil dan mereka tidak perlu datang ke sini. Tapi, sepertinya ucapan saya tidak cukup menghilangkan kekhawatiran mereka. Orang tua saya pagi ini pun terbang ke Singapur untuk menjenguk keadaan anaknya :')

dan ya, setelah urusan administrasi selesai, saya dibawa ke ruang rawat inap untuk menunggu giliran saya dioperasi. Satu jam, dua jam, tiga jam dan berjam-jam kemudian telah berlalu, masih belum ada kabar dari ruang operasi kapan giliran saya. Selama itu juga saya berusaha menahan sakit yang "arrrrrgggghhhh......." luar biasa, naik turun.

Selama menunggu di ruang rawat inap itu juga saya mengabarkan keluarga saya, mbak Yenny, Emir dan Galan. Kebetulan sekali saat itu Galan akan pergi ke Mustafa yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat saya dirawat. Saya pun meminta Galan untuk mengunjungi saya dan membelikan charger bb di Mustafa karena saat itu saya tidak ada persiapan menginap di rumah sakit sehingga tidak sempat membawa charger.
Saya masih menahan rasa sakit yang teramat sangat sembari menunggu kedatangan Galan dab jadwal operasi saya. Doa, istighfar, tasbih, tahmid, tahlil dan shalawat terus saya lantunkan menjelang detik-detik operasi. Saya percaya, semua terjadi atas izin Allah, oleh sebab itu saya meminta kesembuhan yang sempurna dari sang Maha Penyembuh untuk kesembuhan penyakit saya. Saya juga percaya bahwa penyakit ini merupakan tanda Allah sayang sama saya. Dosa-dosa saya mungkin sedang dicuci habis dengan penyakit ini. Terima kasih ya Allah :')

Sekitar jam 6 kurang, Galan akhirnya sampai di tempat saya. Tidak berapa lama kemudian, suster akhirnya masuk ke tempat saya dan meminta saya untuk ganti baju. Saat itu saya tidak sadar bahwa sudah masuk giliran saya untuk bersiap-siap operasi. Sempat ke kamar mandi dan memakai jilbab, akhirnya dibawalah saya ke ruang operasi oleh suster (yang statusnya masih mahasiswa keperawatan) ke operation theatre.
Sampai di operation theatre ternyata saya harus menunggu (lagi) selama kurang lebih 1,5 jam karena ada kasus emergency, ibu melahirkan dengan operasi caesar. Saya pun kembali menunggu dengan tidak tenang karena masih menahan sakit yang teramat sangat. Kembali, do'a dan dzikir saya lantunkan untuk mengurangi sakit tersebut.

Beberapa kali saya memanggil suster dan menanyakan kapan giliran saya dioperasi. Ada satu suster yang sangat baik sekali melayani saya sebelum operasi. Beliau berkali-kali meminta maaf karena saya harus menunggu lama untuk operasi yang sebetulnya cukup sebentar. Terakhir kali ia menemui saya, ia berkata operasi ibu melahirkannya sudah selesai dan 15 menit lagi saya bisa maauk ruang operasi.
Sekitat 15 menit kemudian, datanglah dokter bedah dan dokter anastesi membawa saya ke ruang operasi yang sebenarnya. Lagi2 identitas, riwayat kesehatan dan penyakit, kapan mens terakhir, ada alergi obat atau tidak dan lain sebagainya. Kemudian saya dijelaskan mengenai dua alternatif anastesi, "ditidurkan" dengan uap atau bius di tubuh bagian belakang (yang mana saya masih bisa melihat operasinya). Dokter juga menjelaskan segala resiko dari masing-masing pilihan. Saya pun memilih untuk "ditidurkan" dengan uap yang menurut saya resikonya paling minimal. O ya, sebelum dioperasi saya diminta kembali menandatangani surat persetujuan tindakan operasi dan anastesi setelah dokter menjelaskan segala kemungkinan resiko yang terjadi pada saat dan pasca operasi. Saya juga sempat di"tes" kesadaran sebelum masuj ke ruang operasi dengan menanyakan identitas, tanggal lahir, nomer kartu identitas dan apa tujuan saya di sana.

Operasi yang saya tunggu-tunggu pun akhirnya berlangsung dengan lancar. Bangun-bangun saya langsung merasakan sakit yang teramat sangat sebab luka bekas operasi. Dokter anastesi pun langsung memberikan suntikan morfin dan beberapa waktu kemudian, saya merasa lebih baik. Waktu pemulihan di ruang operasi berjalan sekitar 45 menit. Saya sadar masuk ke ruang operasi jan 20.05 dan berada di ruang pemulihan sampai pukul 21.54. Cukup cepat bukan? Sepertinya operasi saya merupakan tindakan operasi terakhir yang dilakukan para dokter hari itu. Saya bisa melihat betapa para petugas operasi hari itu lelah sekali dan ingin segera pulang.
Selepas operasi saya masih belum bisa (takut) untuk terlalu banyak bergerak. Alhamdulillah, abses saya telah diangkat dengan sempurna dan saat ini saya sudah bisa duduk, berdiri dan jalan dengan lancar.
Alhamdulillah ya Allah :')

Mohon doanya agar segera pulih ya teman2 :)

Read More
Hari ini saya merasakan sakit yang luar biasa. Sebetulnya sejak dua hari yang lalu, eh tiga hari yang lalu. Tepatnya saat hari pertama menstruasi. Wuow, kram perutnya gila2an, padahal saya rutin jalan kaki dan olahraga di gym seminggu sekali (ga ngaruh ya?)

Iya, saking sakitnya, kemarin saya pergi ke klinik NTU. Di sana, dokternya mendiagnosis saya terkena infeksi di dekat (maaf) dubur. Memang sakit sekali di daerah itu, karena minggu sebelumnya saya mengalami konstipasi dan pada saat BAB pertama saya mengejan terlalu keras. Masuk di akal sih kalau saya terkena infeksi semacam itu. Saya pun diberi obat2an yang banyak dan besar2 (dalam bentuk tablet).

Tapi, keesokan harinya (hari ini), alih-alih sakitnya reda, ternyata semakin parah. Saya sampai susah bergerak dan sulit untuk berjalan. Mengetahui penyakit saya tidak biasa, Mba Yenny, landlord saya berinisiatif mengajak ke UGD. Awalnya, saya ragu ke sana, apalagi hal itu merepotkan Mba Yenny dan Abang (suaminya mba Yenny). Namun, karena sakitnya sudah luar biasa, saya ikut saja dengan usulan beliau.

Dan ya, saya memang harus ke UGD sepertinya. Kami pergi ke NUH (National University Hospital) dan langsung menuju ruang Emergency. Subhanallah, pelayanan kesehatan di Singapura memang TOP BGT! Tidak sampai 15 menit saya sampai, sudah ditangani dengan baik. Mulai dari pra-registrasi (diambilkan kursi roda, karena saya sulit berjalan saat itu, tes suhu tubuh), registrasi dan pembayaran (saya bayar 100 SGD sudah termasuk obat dan dapat subsidi dari pemerintah :), cek riwayat kesehatan di tempat suster, konsultasi dengan dokter hingga mengambil obat. Luar biasa, ga sampai 1,5 jam saya di sana, semua proses sudah dapat dilewati dengan baik. Pelayanannya ramah dan para tenaga medis di sana betul-betul memperlakukan anda sebagai "manusia".

Alhamdulillah, suntikan pain killer di pantat tadi betul2 membuat saya nyaman saat ini. O,ya menurut diagnosa dokter di NUH, saya terkena abses di daerah @#$%^&. Penyebabnya? tentu karena saya cuek dan kurang menjaga kebersihan di daerah tersebut. Oleh karena itu, sakit sekali di daerah sana sampai saya tidak bisa bergerak.

Saya membayangkan pelayanan yang sama baiknya juga bisa diberikan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, semoga...
Read More
Salam,
Apa kabar semua? Sudah lumayan lama saya ga update blog. Banyak cerita yang mau saya tulis di sini. Minggu ini benar2 "sesuatu" banget buat saya. Mulai dari deg2an presentasi IP6000, survey ke Labrador Nature Reserve bareng Emir, BBQ Party dengan rekan2 Indonesia di RSIS dan NTU sampe dibawa ke UGD gara2 penyakit yang sebetulnya bisa dicegah kalo saya lebih care dengan tubuh saya sendiri.

Di minggu ini pula saya mendapat hasil book review tugas S6007. Ternyata, "kekejaman" mentor saya dalam menilai esai terbukti juga. Untuk pertama kali (dan insya Allah terakhir kali) dalam hidup saya selama kuliah lebih tepatnya, saya dapat nilai "C"! 

Uwow! Nilai "C" saudara2, gimana rasanya? 

Sejujurnya saya udah memprediksi nilai tugas pertama saya itu ga akan dapet di atas B, secara tulisan bahasa Inggris saya masih amburadul banget, grammarnya dan strukturnya masih kacau. Belum lagi saya salah mengintrepretasikan "siapa" penulisnya. Saya kira penulis artikel/buku yang saya review adalah seorang perempuan, ternyata beliau adalah laki2 saudara2. Jadi keliatan banget saya ga niat bikin tugas itu.

Ah, ya, saya janji, ini untuk pertama dan terakhir kali saya dapet C. Insya Allah, seterusnya akan jauh lebih baik dan semoga nilainya bisa naik menjadi A atau A+, amin!
Read More
Hey Blog!
Long time no see, err, long time no write exactly.
How I've been doing? Not so good in last week. I got rejection in a club that I want. Hmm, maybe it's a sign for me to be more serious in study.
What about my study?
it's a ...
boring.
yeah, i am taking two core (and plus one) courses, in which the basic about IPE.
I am now studying the theories and principles of economics (like I did in my undergraduate, or even high school) also the foundation theories of IPE.
I don't really feel get in touch with my class mates. The lecture, albeit he graduated from LSE, maybe because of his ages, you know the class is not really dynamic. *even he just knew that everything can be search in Google*
I am seated in a big class, so it is not very comfortable enough to have a discussion. It must be the persons (yang itu2 aja) who speaks in front of the class. Unfortunately, I'm not (yet) one of them.
So, do you guys have any idea how I supposed to do to enjoy my class?

Oh, well, I supposed to write about my journey to Johor Bahru.
Yes, last week, on Saturday, I went to Johor Bahru. alone. yes, I was crossing the border by myself.
I wanted to ask my friends like Diandra and Emir to join, but I think they wouldn't join me because the night before they were going to Night Festival and might be tired.

I planned to go to Johor as Mbak Yenny (my Landlord) said to me about "how cheap is the prices of goods and foods in Johor". So, I was planning to break my sunnah syawal fasting there. I didn't have any idea where to go in Johor at first. I just googled how to reach Johor from Singapore and what are the good places to eat there.

I departed at a quarter to four pm from house, walked to bus shelter and went to Jurong Point first to change the money, from SGD to RM. After that, I board into MRT to Kranji. At Kranji, I waited (in a long queue) for bus 170. I was waiting for about half an hour for the bus to come. I was very worried if I couldn't use my EZlink card, because I just brought $10 and I might have some trouble to change.

Then, I board the bus (standing) and waited (in a long queue again) to get into Woodlands Checkpoint (Singapore's immigration). Arrived at the checkpoint, I walked upstairs and go to the counter. I didn't realize that actually I can use the self check immigration machine as I hold the Student Card. So, next time I'll go to Johor (or any places abroad), I'll use that machine. After having my student's pass scanned, I went downstairs and waited (again) for my bus to board. -> I think almost half of my journey was about waiting the bus.

So, I board to the bus 170 again and went to Malaysia's immigration just about 15 minutes riding on a causeway (yeah, it is so close!). Going to immigration counter again, my passport was chopped again. This time, the immigration officer asked me to do fingerprints scan, because it is my first time going there (Malaysia to Singapore). He asked to me what I'll do in Johor, I said I'll go shopping and makan. He then said to me "hati2 ya..." In my heart, I said that "I'll be okay and never mind about my safety"... (adventure intuition).

As this is my first time going to Johor, I don't know if the city center is just so near to the immigration checkpoint. I even just can walk to go to famous food courts and malls there. Sadly, I didn't know it and even didn't notice that Singaporeans who board from my bus already made their way there. So, I just go with bus 170 to Larkin terminal.

And Larkin Terminal, is like 15-20 minutes ride from the checkpoint. From the surrounding, I was sure that it must not be the city center. So, after having Ashar pray there (and the condition of the terminal is 11-12 to Terminal Lebak Bulus), I searched for transportation to go to city (in which I didn't notice that it is near to immigration). Because I am afraid to go by taxi by myself, I decided to go by the bus that have a City Square  sign. I paid about 1.70 RM and board to the bus. The bus condition is not as comfortable as SBS Transit, it's more like the patas ac that I used to ride several times in Jakarta. Going from Larkin Terminal to JB town is like riding a car in Cilegon. Many of "untouched" lands there and not so many people driving there.

The bus went to the town and it stopped at the immigration check point. At that time, I didn't notice that citysquare is just the opposite of immigration center. I was going around by the bus and found that many food stalls (in which later I realized it is the place that some websites refer to) and shops there. I just keep telling my self that may be city square is just miles away from there. After like one hour ride, I felt that there's something wrong with the bus route, why it became further away from the town. Still, I just keep on my "adventurer intuition" that city square must be far away from the check points.

The bus kept riding through the "jungle" and I found it nowhere because I didn't get the map and I didn't ask the question to anyone in the bus. So, after one and a half hour getting lost in the bus, I stopped in a place like hawker center, near the gas station in an area called Masai, in which far far away from the town.

Yeah, I was lost!

But, I know that I can go back by Taxi, because I saw some Taxis were having stop to add the fuel there. Not think twice, I just stop the Taxi and asked the driver to bring me to imigresyen. And yeah, the driver was so amazed that me, myself, going around JB alone and get lost in a far far away place. And oh, it was already night (around 8 o'clock I guess). Then, from the conversation with the taxi driver, I just know that the city center is just a walk away from the immigration.

Okay. At least I went to the right way back. I was dropped at city square and my goal was just to find the prayer room (because it's already near the Isya time and I hadn't pray yet). Yeah, there is a prayer room, near the cinema. One of the movie title that I happened to look is "AjiNohMotor", what a funny title!
Coincidentally, I found "Seoul Garden Restaurant" where I really wanted to go and so I was having dinner there.

I eat like many foods and after all I just gave up because it was too many. The restaurant itself has the policy to add RM 5 surcharge for 100gr foods wasted. I managed to leave as little food as I can. Yeah, it was so hard. Never ever take the food that you are not able to finish it !

After my tummy full, I went around the mall. The food stalls are like in Indonesia. There is a J-Co, Starbucks, McD and others. I went back to the immigration which was just a walk away and stopped to buy  some snacks and Roti Boy. Then I departed the bus, going back to Singapore (this time I used CW1 bus, for RM 1 only).

And finally, I arrived at my room, safely. Alhamdulillahirabbilalamin.

Read More
Kebisuan Suu Kyi
Avina Nadhila Widarsa ; Mahasiswa Pascasarjana S Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura
REPUBLIKA, 04 Agustus 2012

Paradoks, mungkin itulah kata yang tepat menggambarkan `kebisuan' Aung San Suu Kyi, sang ikon demokrasi dari Myanmar terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di negaranya sendiri. Suu Kyi yang meraih Nobel Perdamaian tahun 1991 ini telah dianggap sebagai simbol internasional perlawanan damai masyarakat Myanmar terhadap penindasan yang dilakukan oleh junta militer.
Dunia tentu berharap, pembebasan Suu Kyi dari tahanan rumahnya pada 2010 dan kemenangannya dalam pemilu sela pada April 2012 bisa membawa harapan baru bagi Myanmar. Sayangnya, sikap diam dan cenderung tidak peduli yang dilakukan oleh Suu Kyi dalam kasus pembantaian etnis Muslim Rohingya di Myanmar telah membuat dunia internasional, khususnya para pegiat HAM yang selama ini mengelu-elukannya dan masyarakat di negara-negara Muslim kecewa.
Kemunculan Suu Kyi sebagai tokoh pejuang HAM dan pembela demokrasi di Myanmar pada akhir 1980-an membawa harapan bagi masyarakat Rohingya untuk kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit dari etnis Rohingya yang mengidolakan Suu Kyi dan berharap agar Suu Kyi bisa menjadi pemimpin Myanmar sehingga kehidupan mereka akan menjadi  lebih baik.
Sayangnya, hingga saat ini, Suu Kyi belum menunjukkan sikap yang menandakan afirmasinya terhadap etnis minoritas Rohingya. Alih-alih mendukung keberadaan mereka, Suu Kyi justru menolak berbicara mengenai isu Rohingya dan menegaskan bahwa konflik-konflik yang berkaitan dengan etnis minoritas harus diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku dan dilakukan secara hati-hati.
Motif Politis
Kebisuan Suu Kyi terhadap isu Rohingya tentu menuai tanda tanya besar bagi masyarakat internasional. Sebagian berspekulasi diamnya Suu Kyi dikarenakan alasan politisnya yang ingin maju dalam pemilu presiden di Myanmar sehingga membutuhkan dukungan dari masyarakat etnis Burma dan Arakan, yang menjadi penduduk mayoritas di sana. Sementara itu, penduduk Burma dan Arakan yang memeluk agama Buddha tersebut memiliki sentimen negatif terhadap keberadaan etnis Rohingya yang beragama Islam.
Rohingya tidak diakui sebagai etnis asli dalam Undang-Undang Kependudukan tahun 1948. Mereka yang dianggap sebagai etnis asli di Myanmar hanyalah etnis Burma, Arakan, Chin, Kachin, Karen, Kayan, Mon atau Shad, dan etnis-etnis lain yang telah menetap di Myanmar sebelum tahun 1832 Masehi. Sementara itu, menurut catatan sejarah, etnis Rohingya baru menetap pertama kali di Myanmar tahun 1840. Artinya, pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai etnis aslinya dan menyebabkan mereka tidak bisa diberikan status warga negara berdasarkan undangundang tahun 1948 maupun hukum kependudukan terbaru tahun 1992.
Menurut hemat saya, ada setidaknya tiga alasan yang menjadi kemungkinan sebab diamnya Suu Kyi terhadap isu ini. Pertama, alasan politis yang telah banyak dipaparkan para analis. Suu Kyi yang ingin mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu berikutnya di Myanmar merasa perlu mengambil hati mayoritas masyarakat Myanmar. Isu etnis Rohingya yang sangat sensitif bagi mereka, sehingga jika Suu Kyi terkesan membela etnis Muslim tersebut otomatis akan menjadi blunder bagi langkah politik Suu Kyi ke depannya.
Kedua, alasan hukum. Sesuai dengan hukum kependudukan yang berlaku di Myanmar, etnis Rohingya tidak termasuk ke dalam etnis asli di negara tersebut.
Suu Kyi yang walaupun menentang pemerintahan otoriter junta militer dan menjadi oposisi dari pemerintahan sipil saat ini tetap ingin memosisikan dirinya sebagai warga negara yang baik, taat pada aturan hukum. Jika ia menunjukkan dukungannya terhadap etnis Rohingya, bukan tidak mungkin pemerintahan Presiden Thein Sein akan kembali menangkap dan memenjarakannya karena dianggap melawan hukum yang berlaku.
Hal ini juga terkait dengan alasan pertama, apabila Suu Kyi kembali ditangkap maka kesempatannya menjadi pemimpin di negara tersebut akan semakin kandas. Alasan ketiga yakni alasan personal. Suu Kyi terlahir sebagai etnis Burma yang memeluk agama Buddha Teravada. Walaupun ia senantiasa mem per juangkan penegakan HAM dan demokrasi di Myanmar, namun sentimen pribadinya sebagai etnis mayoritas sangat mungkin memengaruhi keputusan dan sikapnya terhadap berbagai isu.
Cermin Sikap
Keberadaan masyarakat Rohingya yang merupakan etnis minoritas dan beragama Islam bisa jadi juga mendapat reaksi negatif dari Suu Kyi secara pribadi. Interaksi Suu Kyi dengan kaum mayoritas tentu saja memengaruhi persepsinya terhadap keberadaan kaum minoritas, apalagi terhadap etnis Muslim Rohingya yang bermasalah dengan penduduk mayoritas Buddha Burma dan Arakan.
Ketiga alasan di atas cukup membuat Suu Kyi emoh berkomentar lebih jauh terhadap tragedi yang menimpa masyarakat Rohingya. Tentu saja sikap diamnya Suu Kyi terhadap permasalah ini menimbulkan kekecewaan dan tanda tanya yang besar di mata masyarakat internasional. Ia yang dianggap sebagai simbol Myanmar yang demokratis dan peduli dengan HAM ternyata tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat in ternasional yang menginginkannya bertindak lebih dalam menanggapi isu Rohingya.
Sikap diamnya saat ini dapat dilihat sebagai cerminan kebijakan Suu Kyi jika terpilih menjadi presiden Myanmar. Jika memang ia tidak memiliki kemampuan (dan kemauan) untuk mengubah nasib Muslim Rohingya di Myanmar saat ini maka bisa diprediksi, kemungkinan besar keadaan Muslim Rohingya tidak akan jauh berubah di bawah rezim kepemimpinannya apabila terpilih nanti. 

 Alhamdulillah, tulisan saya ternyata dimuat di Koran Republika, artikel awalnya berjudul "Aung San Suu Kyi dan Muslim Rohingya". Saya baru tahu setelah beberapa hari kemudian itupun karena di muat di blog ini, makanya saya mau nyari versi cetaknya. Terima kasih untuk kliping artikel di blognya mas Budi :)
Read More
Assalamu'alaikum wr. wb.,

Apa kabar semuanya? Sudah beberapa waktu saya tak kunjung update blog karena "kesibukan" yang saya jalani di negeri Singa ini (baca:makan,tidur,mandi,nyuci,jalan2,baca -repeat).

Wah, ga terasa Ramadhan tinggal beberapa hari lagi :( Saya merasa beberapa hari menjelang idul fitri ini justru kurang maksimal ibadah (mahdah)nya, udah jarang taraweh di Mesjid atau public area belakang tempat saya tinggal, tilawahnya berkurang, sedekah hampir ga pernah, dll. Sedih banget padahal sebentar lagi Ramadhan mau berakhir. Huaaa :'(

Anyway, hari ini tanggal 25 Ramadhan, artinya tinggal 4 hari lagi dibebastugaskan dari kewajiban puasa. Saya merasa selama puasa saya di sini justru menambah berat badan saya *yearight*, secara kalo buka puasa akhir2 ini langsung makan2an berat, dan habis sahur (yang biasanya makan2an instan/junk food/makan nasi lemak yang porsi kuli) langsung pergi ke pulau kapuk. Di sisi lain, sepatu olahraga yang saya bawa dari Jakarta baru saya pake sekali selama (hampir) satu bulan ini.

Dannn, 4 hari kemarin kebetulan saya tidak-diperbolehkan-puasa-secara-syar'i. Langsung kalap kemarin makan Garrets (Pop Corn asal Chicago yang enak betul), beli Pempek di Ayam Penyet Ria (yang harga seporsinya kalo di convert bisa lebih dari Rp 60k, sementara pempeknya kecil2),beli snack di Mustafa, makan di Pizza Hut dan nyobain cheese fries KFC. Anda bisa bayangkan betapa berat badan saya saat ini bertambah dan bertambah. (ga mau liat timbangan).

Saya mau cerita hari Sabtu yang lalu saya bersama Diandra (teman baru dari Unpar, Bandung yang ambil jurusan Strategic Studies), Emir dan Andi Menwa jalan-jalan ke daerah Geylang Serai. Itu Bazaar Ramadhan yang paling besar se-Singapore kayaknya. Banyak makanan yang dijual. Saya lihat (seperti layaknya di Indonesia) banyak sekali orang datang ke sana, entah sekedar berbuka puasa atau berbelanja untuk kebutuhan Hari Raya Aidil Fitri mereka. Kebanyakan baju2 yang dijual bernuansa Melayu. Saya juga baru tahu kalo orang Malay-Singaporean justru banyak yang pake baju kebaya full make up buat Idul Fitri (kalo di Indonesia kebaya dipake ke acara nikahan, wisuda, dll.). Di Geylang Serai itu sebetulnya cuma mau nyari abon (kalo di sini istilahnya "Serundeng Daging") buat ibunya Menwa, tadinya mau buka puasa di sana, tapi ramenya banget banget banget banget. Ga jadi deh. Saya dan Emir cuma beli minuman untuk buka puasa, sementara Diandra ga beli apa2 karena udah kecapekan.

Geylang Serai itu emang daerah Melayu, yang disulap sama pemerintah jadi tempat Bazaar Hari Raya yang besarrrrr banget se-Singapore. Tempatnya di dekat MRT Paya Lebar, di Geylang Rd. Di sana memang ada pusat makanan / pasar yang jual beragam makanan, terutama makanan Melayu. Kalo mau ke sini jam2 buka puasa, datanglah paling tidak 2 jam sebelumnya, karena percayalah Anda akan sulit menemukan tempat duduk apalagi kalau datangnya pas weekend.

Tapi, saya jadi berpikir, sepertinya orang Singapura lebih heboh "merayakan" Ramadhan di tempat perbelanjaan ketimbang di masjid2. Ya, sama seperti di Indonesia dan tempat2 lain juga barang kali. Jadi, memang tabiat manusia yang suka belanja, tidak mengenal unsur suku, ras, agama ataupun golongan. Apalagi ketika ada event seperti Ramadhan/Idul Fitri, justru uang lebih banyak berputar di pusat perbelanjaan (konsumsi) ketimbang di Masjid (untuk zakat, sedekah, dsb.). Wallahu'alam.




Read More
Itu salah satu kebiasaan buruk saya.

Sepertinya kebiasaan buruk ini mulai "terbentuk" sejak saya SMP kelas 1, hingga sekarang. Telat di sini artinya, mepet waktu, kalau saya janji jam 11 bertemu dengan orang, mungkin saya baru datang 20 menit kemudian (saya selalu berdalih kan masih jam 11). Ah ya, kebiasaan ini makin terbentuk ketika SMA saya sekolah di asrama (yang jarak asrama sekolah cuma 5 menit) dan semakin parah waktu kuliah (secara dosen kasih tenggang waktu 15 menit buat masuk kelas, dan gw pernah baru masuk kelas setelah 45 menit kuliah dimulai). Bahkan saya tidak pernah masuk tepat waktu selama 5 bulan bekerja! (tapi kalo pulang pernah on time dan jarang over time :p)

Parah! Tingkat jam karet saya sudah sangat akut. Tadi pagi pun saya telat balikin buku perpustakaan. Buku yang harusnya saya kembalikan pukul 11.00, baru saya berikan pukul 11.20 waktu Singapura. What a shame :(

Saya memang bukan orang yang terbiasa dengan disiplin waktu (kecuali terpaksa). Kebiasaan mepet waktu ini bukan sekali dua kali merugikan saya. Mulai dari ketinggalan bis sampai ketinggalan pesawat pernah saya alami karena kebiasaan buruk ini. Herannya, saya ga bisa tobat dari kebiasaan jelek ini. Selalu ada "excuse" untuk saya memperlambat waktu bersiap2 dan akhirnya telat.

Hal apa ya yang bisa membuat saya sadar supaya saya ga suka telat lagi?
Read More
Marina Bay Sands,
Sabtu, 4 Agustus 2012.

Hari itu gw jalan2 sama ka Dinar dan ka Patrya selepas interview PPI di KBRI. Mereka ngajak gw nonton eksibisi Harry Potter di Art and Science Museum. Sebenernya, gw cuma mau ikut mereka jalan2 aja ke MBS (ini singkatan gw dapet dari Ibu Tomi :)). Walaupun gw suka sama Harry Potter tapi harga tiketnya yang kalo dirupiahin bisa makan hanamasa dua kali, membuat gw tidak ikut masuk ke sana.

Dan akhirnya gw sendiri, di malam minggu, di tengah salah satu pusat keramaian paling happening di Singapura. Untungnya waktu itu, bertepatan dengan rangkaian acara National Day Parade, jadi ga kehabisan tontonan lah gw di sana :D O ya, rangkaian acara national day parade ini heboh banget lho, ada kembang api , parade dari berbagai organisasi dan institusi privat-publik di Singapura, sampe mempertontonkan kekuatan angkatan perang mereka (dari helikopter chinook yg bawa bendera Singapur gede2, suara pesawat jet yang membuat telinga bising, sampe kapal perang yang jedar-jeder a.k.a main tembak2an). Serulah acaranya :D

Sayangnya, acaranya cuma sampe jam 9 kurang, jadi sambil nunggu ka Dinar dan ka Patrya, gw jalan2 sampe ke jembatan Gardens By the Bay. Subhanallah, Amazing! Lampunya keren bo! Jadi itu ceritanya semacam kebun raya tapi buatan, dan letaknya deket laut. Bangunannya unik, kayak di film2 macam Final Fantasy gitu *lebay*.

Nah, karena udah jam 9.30, gw sekalian pengen lihat water fall show yang di depan MBS (padahal 2 minggu lalu gw liat juga tapi dari arah Merlion Park, anyway Merlionnya udah ga under construction, jd pd bisa foto2 deh :D). Itu show oke banget! Keren pisan lah pokoknya. Jadi mereka bikin film tp di proyektorin ke air, dibikin jadi water fall show. Pake musik orkestra gitu, terakhirnya ada water bubble yang keluar dari arah lampu. Seru!

yang kurang seru adalah, gw menikmatinya seorang diri, sepi. (kenapa jadi mellow begini? haha)

Ah, tapi mah gw udah biasa sendirian, menikmati apa2 sendiri, dan gw happy2 aja kok, intinya mah bersyukur. Justru gw harus memaksimalkan kesendirian gw sebelum ada orang lain di samping gw. haha.

#okesip
Read More
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ramadhan Mubarak :)

Baru ada mood (dan kesempatan) nulis blog lagi, padahal banyak yang nunggu update dari gw ya? :p

So, setelah sempat balik ke Jakarta seminggu untuk nyoblos, NLC dan bertemu beberapa teman, saya kembali lagi ke habitat saya saat ini, di sebuah kamar blok 646, Jurong West st. 61, #04-146. Tepat seminggu pula saya resmi menjadi mahasiswa baru di S.Rajaratnam School of International Studies, NTU, jurusan International Political Economy. Besok bertepatan pula dengan D-10 Ramadhan 1433H.

Yeah, tahun ini full Ramadhan akan saya lewatkan di negeri orang (Negara Singa) kecuali mungkin buka puasa terakhir a.k.a Malam Takbiran yang akan saya jalankan di Jakarta :D

Sebetulnya, momen puasa di negeri orang kali ini bukan kali pertama saya rasakan. Saya sudah dua kali sebelumnya berpuasa dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan di luar negeri. Pertama kali saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di luar negeri, ketika berada di Arab Saudi tahun 2002. Waktu itu, kebetulan orang tua saya mengajak umroh sekeluarga dan bertepatan dengan akhir Ramadhan, sehingga saya sempat mengalami puasa dan lebaran di Arab Saudi.

Selanjutnya, tahun lalu, saya sempat berpuasa di Korea, ketika saya mengikuti acara Global Model United Nations. Berpuasa di Korea selama kurang lebih 10 hari, alhamdulillah bisa menjadi latihan bagi saya untuk survive menjalani ibadah Ramadhan di negeri yang mayoritas non muslim.

Dan sekarang, saya ada di Singapura, dalam rangka melanjutkan studi yang dimulai bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Alhamdulillah, walaupun Singapura penduduknya mayoritas non-muslim, namun karena etnis Melayu "menguasai" 15-20% negeri ini, tidak begitu sulit untuk berpuasa di sini. Selama 9 hari ke belakang, saya sudah "menikmati" berbuka puasa gratis di tiga masjid, yakni Masjid Sultan di daerah Bugis, Masjid Al-Falah di daerah Orchard, dan Masjid Assyakirin di daerah Lakeside.

Dari ketiga masjid itu, saya paling suka dengan masjid Assyakirin, selain masjidnya luas dan bagus (dan mewah), makanan yang disajikan cocok dengan mulut saya. Mungkin karena mayoritas yang berbuka di sana adalah orang Melayu, sehingga makanan yang disajikan juga makanan Melayu. Sementara di masjid Sultan menu utama yang disajikan adalah Nasi Briyani (masakan India) dan di masjid Al-Falah disajikan kari dan roti (masakan India juga). Bulan puasa ini memang betul2 cocok bagi mahasiswa yang berkantong pas2an seperti saya karena hampir setiap masjid menyediakan buka puasa gratis, tidak hanya ta'jil tetapi juga   makanan utama.

Puasa di sini dimulai sekitar pukul 5.45 AM (setara jam 4.45 WIB) dan waktu berbuka ialah sekitar pukul 7.17 PM. Kebiasaan di sini, berbuka puasa selain ta'jil langsung memakan makanan yang berat, sehingga shalat Maghribnya agak terlambat. Waktu isya' di sini sekitar pukul 8.30 PM, selesai Tarawih rata2 bisa sampai jam 10.00 PM, sebab rata2 Masjid di sini melaksanakan Tarawih 20 Rakaat.

Sebetulnya saya agak kurang sreg dengan kebiasaan langsung berbuka dengan makanan berat, maka dalam beberapa kesempatan buka puasa saya makan ta'jilnya dulu atau membatalkan dengan minum air putih dan teh lalu shalat Maghrib dan kemudian makan makanan berat.

Hari pertama saya puasa, malam sebelumnya shalat Tarawih di lapangan beratap yang di"sulap" menjadi Mushola sementara untuk shalat Tarawih (dan shalat Idul Fitri pada 1 Syawal) yang terletak persis di belakang blok saya tinggal. Alhamdulillah, saya bersyukur tinggal di lingkungan yang kondusif untuk berpuasa dan menjalankan ibadah shalat Tarawih. Malam itu, saya untuk pertama kali mengikuti shalat Tarawih full 20 Rakaat.

Buka puasa hari pertama saya lakukan di Masjid Sultan bersama Aul dan Mumut, yang kebetulan sedang menjadi turis di sini. Makanannya, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, nasi Briyani, saya agak kurang cocok sehingga akhirnya saya membeli nasi Padang di Restoran Minang di belakang Masjid Sultan. Btw, saya sempat melihat Kak Rully di Masjid Sultan, sayang tidak sempat menyapa. O, ya di Masjid Sultan ini saya juga sekalian Tarawih, tapi hanya 8 rakaat saja, kalau ikut 20 rakaat tatkut pulang kemalaman :))

Keesokan harinya, kami pergi ke Orchard, di Masjid Al Falah untuk berbuka puasa. Menunya menurut saya lebih oke di Masjid Sultan, ada puding, buah2an dan tentunya "bubur masjid". "Bubur Masjid" ini memang khas dibagikan setiap berbuka puasa di setiap masjid, semacam bubur dicampur kuah kari, tapi rasanya agak kurang cocok di lidah saya., jadi saya tidak pernah mengambilnya. Hari kedua ini, karena Aul dan Mumut mau melihat Water Fall show di Marina Bay, jadi kami shalat Taraweh di rumah.

Masjid Assyakirin sebetulnya sudah saya kunjungi hari ketiga Ramadhan, tapi tidak sempat berbuka puasa di sana, sehingga Jumat lalu saya baru ke sana lagi dan menikmati menu buka puasa di sana. Makanannya menurut saya paling cocok di lidah. Menu utamanya nasi rendang+sayur+orak arik kentang. Ta'jilnya berbagai macam buah (plus kurma) dan kue2 basah. Minumannya sirup dan teh (teh susu maksudnya). Alhamdulillah, menunya cocok sehingga bisa makan banyak #eh.

Kemarin saya diajak oleh rekan saya ke KBRI, kebetulan KBRI memang ada agenda buka puasa bersama (literally means buka puasa, sehabis makan pulang :D) Saya ke sana bersama Emir, Andi Menwa (HI 2006) dan Patrya (HI 2006). Menu buka puasa di sana disediakan oleh Minang House yang disponsori oleh Ikatan Ibu2 BUMN Se-Singapura (bahkan gw sampe hafal karena disebut terus sama MCnya :p) Ketemu banyak orang Indonesia tentunya di sana. Kalau di KBRI, sistem buka puasanya makan ta'jil dulu, shalat Maghrib, lalu makan makanan berat. Saya paling suka menu ta'jilnya ada kue eclair yang coklatnya langsung meleleh kalau dilumat, mantap!

Yah, sebetulnya Ramadhan di sini asik2 aja, ga ada hambatan yang berarti buat puasa di sini, karena toh banyak juga orang yang puasa. Selain itu, saya jadi lebih "religius" karena ya di tengah2 masyarakat yang mayoritas non muslim, buat menjalankan kewajiban sebagai muslim kalo dipikir2 lumayan berat, apalagi kalo ga kuat iman. That's why saya lebih merasa bertanggung jawab sama ibadah saya karena di sini yang bakal ngingetin lo puasa atau ngga, lo shalat atau ngga, lo ngaji atau ngga ya cuma diri lo sendiri. Lingkungan sekitar cuma membantu menjaga lo aja. Seperti yang gw rasakan, ya kalau mau dekat sama lingkungan yang kondusif, ya dekat2lah dengan orang2 dan lokasi yang kondusif (baca : masjid). Semoga bisa istiqamah terus dalam ibadah di mana pun kita berada. Amin. 

Read More

Only a day left before millions of Jakarta’s citizen choose their new governor. Within these few months, the six candidates have campaigned through many ways. Even the official campaign just started about a week ago, the advertisements have been shown since several weeks ago. From mass media to social media, all candidates are trying to get the voters as many as they can. On their choice to use media campaigning tools, actually we can foresee how the candidates will govern Jakarta in the next five years.

Some candidates are still using the ‘traditional ways’ through putting their faces in posters, flyers, billboards and other printer materials. They also use TV, radio and other mass media placement to introduce themselves to public. By using mass media and all printed materials, it could be the effective ways to get many voters, especially from lower middle class group. The lower middle class people are easy to be influenced through “provocative slogans” and word of mouth. If the candidates put on their faces everywhere, it will be easier for them to be identified. Moreover, the lower middle class citizens do not really care on the candidates’ backgrounds. They prefer to choose the candidate who is familiar for them.

In fact, by using many printed advertisements, it shows that the candidates do not care enough to the environment. They might not consider the “go green” trend, which many of Jakarta’s citizens start to aware about environmental issues. They kind of unaware that using many printed materials for their campaign could give negative impact in their view about environmental issues. If they consider the environment that much, they will reduce using printed advertisement and started to use alternative media for campaign.

Meanwhile, we know that only two main problems in Jakarta that need to be solved immediately, which are traffic jam and flood. Traffic jam and flood are the two main problems in Jakarta that is related to environment. Logically, if the governor does not care enough to the environment, how can he solve the problem of traffic jam and flood in Jakarta? Moreover, if the candidates are using too many printed materials, it means that the candidates are easy to spend money for things that might be unimportant.

Despite using printed advertisement and mass media placement, some candidates are also using the social media. Usually, they are seeking the attention from the young people. They also invited some celebrities in social media to give an endorsement to support their candidatures. This shows how the candidates are very aware with the movement of information and technology. Campaigning through social media also means lesser cost with hopefully a huge effect. The candidates who are using social media intensively usually will get the attention from young people and upper middle class group. But, the candidates will be difficult touch the grass root people who are illiterate to social media.

The candidates who are using social media usually have segmented and exclusive voters. They will only gain big support from upper layer citizens. If they are chosen, they will take the job as effective as they can. They will prioritize the interest of upper middle class to make the city more modern and conform. They will follow the trend that happens in other metropolitan cities worldwide. Not to mention, they might do the “copy and paste” system to solve the problem in Jakarta from other metropolitan cities. It means they will have little clue on local character and grass root problems.

The way the candidates persuade the voters likely reflects how they will govern in the next five years. Media campaign is still becoming an effective tool to reach the voters. While the official campaign is just begun in last two weeks, the candidates were making the campaign through media. From their media campaign tools choice, at least we could foresee how they will govern in the next five years. 
Read More
Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

Halo semuanya, apa kabar? Udah ga sabar ya baca postingan baru saya? hehe *geerdotcom
Alhamdulillahirabbilalamin, tepat seminggu sudah saya berada di Negara Singa a.k.a Singapura untuk melanjutkan studi S2 saya di RSIS NTU :) Too many stories to be written. I am sure that you must be very excited reading my stories in here *lagi2geerdotcom (hahaha)

Yes, this it. Sinjiapo!

Ternyata datang kemari bukan tanpa kegalauan. Setiap hari saya selalu ditemani perasaan "galau" karena beberapa hal. Mulai dari galau mencari housing (tempat tinggal), galau menunggu IPA, galau menunggu hasil tes kesehatan, galau daftar ulang, galau kuliah sampai galau mencari pacar #eh (yang terakhir diskip aja, haha).

Ternyata saudara2, persiapan kuliah S2 itu tidak semudah yang saya bayangkan. Well, dari awal daftarnya pun dipenuhi berbagai kegalauan. Kapan2 akan saya posting mengenai bagaimana tips dan trik mencari beasiswa S2 and how to win the scholarship you want, pasti banyak yang mau baca kan? :)

Ok, balik lagi ke judul tulisan saya kali ini, Selamat Datang di Singapura! Saya akan menceritakan beberapa kejadian penting (dan ga penting) selama saya berada di sini, seminggu ini :)

Iya, dan tulisan ini sempet kepending beberapa kali karena banyak hal yang harus dikerjakan (sok sibuk gitu deh, hahaha)

Saya datang kemari tepat tanggal 2 Juli 2012, menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 828. Awalnya, saya berencana berangkat bersama Emir, rekan seangkatan HI UI 2008 yang juga dapat beasiswa dari RSIS untuk Research Analyst dan Galan, HI UGM 2007 yang juga mendapat beasiswa Bakrie Graduate Fellowship. Sayangnya, karena ada kesalahan dari pihak Garuda dalam issuance tiket (dan karena Emir datang terlambat juga) akhirnya penerbangannya ditunda jadi penerbangan selanjutnya. Saya pun pergi duluan bersama Galan, walaupun kita satu pesawat tapi karena kita telat cek in jadi ga dapat tempat duduk yang berdekatan.

Akhirnya sampailah saya di Singapura sekitar pukul 14.20 waktu setempat. Oiya, sebelumnya saya mau cerita, bahwa untuk mendapatkan izin belajar di Singapura, seseorang harus punya Student Pass, semacam visa untuk mahasiswa dan pelajar yang ingin sekolah di sini. Nah, untuk mengurus student pass, kita harus apply online, tunggu approval dari pihak imigrasi lalu mendapatkan surat In Principle Approval (IPA) yang akan dikirimkan langsung pihak imigrasi ke universitas/politeknik/sekolah tempat kalian akan belajar. Masalahnya, sampai saya berangkat, saya masih juga belum mendapatkan IPA letter dari pihak ICA (imigrasi Singapura) maupun dari NTU. Padahal, Galan dan Emir sudah mendapatkannya beberapa hari sebelum kami berangkat. Galau lah saya soal student pass. Maka dari itu, pada keberangkatan saya ini saya tidak banyak barang yang dibawa, karena saya menganggap ini sebagai lawatan awal sebagai turis B-) #likeaboss. haha. Jadi, ketika Galan sampai di imigrasi Changi menunjukkan IPAnya, saya ngeloyor begitu aja setelah dapat stamp izin social visit selama 30 hari. Kegalauan ini makin menjadi sampai beberapa hari kemudian saya masih belum dapat IPA ----> #kegalauan1

Itu soal IPA, kedua, saya merasakan kegalauan yang amat sangat masalah tempat tinggal. Sampai hari Jumat, sebelum keberangkatan saya hari Senin, saya masih belum mendapatkan pengumuman dari pihak Office of Housing NTU yang mengurusi masalah Graduate Hall (asrama khusus mahasiswa pasca sarjana). Pikir saya, optimis saja pasti dapat Gradate Hall, karena penerima BGF yang tahun lalu dua-duanya dapat di GradHall. Untungnya, saya berkorespondensi dengan pihak administrasi RSIS yang menyarankan saya memesan hotel untuk tempat tinggal sementara. Jadi, saya pesan hostel untuk 4 hari di daerah Lavender, bernama Pillow.Talk Hostel seharga SGD 24/malam. Sementara Emir dan Galan mengandalkan tumpangan dari Yoes, senior di RSIS yang statusnya juga sama seperti Emir, mendapatkan beasiswa Research Analyst untuk kerja part time di Indonesia Program. Ternyata, malam pertama saya sampai di hostel, langsung die-mail dari pihak GradHall bahwa saya tidak dapat GradHall :( jadi deh housing -----> #kegalauan2

Sampai di Changi, saya dan Galan menunggu Emir yang flight dengan penerbangan selanjutnya. Sudah agak lama menunggu dari kedatangan pesawatnya Emir di Changi, kok dia belum keluar2 dari imigrasi? Ternyata, dia dihubungi oleh Yoes yang kebetulan ada di Changi juga baru balik dari KL bersama Verra, research analyst di Indonesia Program yang juga suka berkorespondensi dengan saya dari mulai ikut seleksi untuk beasiswa di RSIS ini. Alhamdulillah, di bandara kami ketemu mereka. Mereka agak shock juga mengetahui Emir dan Galan tidak punya preparation apa2 untuk housing. Mereka awalnya ingin menginap di tempat Yoes, tapi di Singapura ini, kita tidak bisa sembarangan menumpangi orang untuk menginap, karena satu dan lain hal yang akan yang akan saya ceritakan lain kali. Akhirnya, mereka menginap juga di hostel tempat saya menginap. Sepanjang perjalanan, Verra dan Yoes tidak habis bercerita tentang berbagai pengalaman mereka hidup di sini dan bagaimana cara mereka beradaptasi. Nah, dari cerita mereka pulalah timbul kegalauan yang berkelanjutan. Setelah IPA dan Housing, ada lagi kegalauan tentang cek kesehatan (#kegalauan3) yang hasilnya akan sangat menentukan apakah kita bisa studi di sini atau tidak. Selanjutnya, ada kegalauan akademik yang mungkin akan banyak saya bahas di postingan2 berikutnya. Intinya, untuk hari pertama, walaupun sangat capek tapi berjalan cukup menyenangkan, Alhamdulillah :)

Hari kedua, kami pergi ke NTU untuk melakukan registrasi awal di International Student Center dan tes kesehatan yang hasilnya baru bisa diambil dalam waktu 7 hari ke depan. Tes kesehatan ini adalah requirement untuk matrikulasi (daftar ulang) dan mengurus Student Pass. Setelah tes kesehatan, kami kemudian mulai mencari housing di daerah sekitar Jurong West (semacam daerah Margonda kalau di UI). O, ya NTU ini mirip sekali dengan UI, kampus yang hijau dan luas sekali, letaknya terpencil di ujung Singapura (well, Depok dulu terpencil juga sih kata orang2, tempat jin buang anak :p), ga heran kalau teman saya, Agung, yang pernah exchange ke NUS bilang kalau nanti saya cuma bisa gaul sama enci2 dan kokoh2 :D

Jadi, malam itu saya viewing tempat yang memang direkomendasikan oleh kak Dinar, senior saya di BEM UI 2010 dulu yang juga keterima S2 di Wee Kim Wee School of Communication and Information NTU tahun ini. Awalnya, jika tempat yang saya akan kunjungi ini cocok, kami akan tinggal bareng (sharing room). Ditemani Verra, saya berkunjung ke tempat itu. Tempatnya oke, luas, bersih. Sayangnya, saya agak ngeri karena tenant yang lain adalah pasangan suami istri, di mana ownernya juga suka ngerokok dan pelihara kucing. Padahal kak Dinar anti banget sama rokok dan kucing :( Jadi, kalaupun saya ambil tempat itu, saya harus sewa untk sendiri. Sebab harganya yang kemahalan dan takut karena penghuni yang lain adalah suami istri, saya tidak jadi ambil tempat itu. Memang, memilih housing itu seperti memilih jodoh, siapa cocok, dia dapat :D #quotedfromVerra

Jiah, malam kedua saya galau housing. Emir dan Galan pun sama. Jadi, di sini sistem housingnya itu menyewa kamar di salah satu HDB (apartemen subsidi pemerintah). Nah, tiap HDB ini rata2 punya 3 kamar. Ada yang disewakan semuanya, ada juga yang ada ownernya dan disewakan hanya beberapa kamar. Malam itu saya juga sempat liat ke tempat Verra, yang saya sebetulnya naksir banget karena dia tinggal di HDB yang tidak ada ownernya dan tenantnya adalah orang Indonesia (female) semua :D Ditambah pemandangan yang oke dan kamar luas+AC, makin ngiler deh saya. Sayang, Verra juga belum tentu mau pindah karena kemungkinan masih mau stay di Singapura setelah lulus. Jadi, malam itu, saya mencari info sebanyak2nya tentang housing, dengan keyword, room rent, jurong west, female indonesia, saya googling dan masuk ke beberapa situs penyewaan rumah di Singapura. O,ya bagi yang mau cari housing di sekitar NTU, selain website yang disediakan kampus, gabung di milis Indo-Sing juga berguna banget. Selain itu, info juga saya dapat dari searching di Public Folder NTU (namun untuk masuk ke sini harus pake akun NTU). Mulailah saya bergerilya kirim sebanyak mungkin sms ke prospective owner / agent. Ya, karena di sini sesistematis itu, lebih banyak agen yang aktif mencari tenant. Ga enaknya kalau lewat agen, bayar sewa pertamanya jadi lebih mahal, karena ada agent fee, seperti tempat saya viewing pertama kali itu.

Memang, kalau jodoh ga akan ke mana #eh. Besok paginya, saya dapat BBM dari ka Dinar (o, ya BBM saya aktif karena di sini bisa pake SingTel atau StarHub yang menyediakan layanan BlackBerry Prepaid Data Plan :D) bahwa beliau diterima di GradHall. Alhamdulillah, karena sebetulnya ka Dinar sudah punya room rent di dekat MRT Pioneer yang ada shuttle bus langsung ke NTU. Nah, jadi saya minta kontak ownernya langsung untuk dihubungi. Inilah ternyata jawaban dari Allah untuk #kegalauan1 saya. Saya kemudian mengontak Mbak Yenny, yang ternyata masih saudara dengan teman SD dan SMA saya, yang merupakan owner tempat ka Dinar rent room pertama kali. Sore itu langsung, saya ditemani Roswitha pergi ke tempat Mbak Yenny untuk viewing. Alhamdulillah, lihat tempat dan suasananya langsung cocok, feels like home :) Fasilitasnya oke, harganya terjangkau untuk sewa sendiri. Walaupun sudah merasa nyaman, tapi saya masih belum mengiyakan saat itu juga karena mau viewing beberapa tempat lain. Kemudian saya viewing 2 tempat lain, yang punya orang Melayu. Memang, tidak ada tempat se-oke yang sekarang, jadi saya langsung kontak Mbak Yenny besoknya untuk konfirm sewa kamar di sini :) Alhamdulillah, #kegalauan1 teratasi.

Lanjut, ke #kegalauan2, sampai hari Jum'at saya masih belum dapat e-mail soal IPA. Saya berusaha menenangkan diri dengan berjalan2 keliling tempat saya tinggal dan pusat kota Singapura. Di dekat tempat tinggal saya ada Jurong West Sports Complex yang oke banget, ada stadion, kolam renang, gym, lapangan badminton, dll. Wah, asyik sekali kan? Sepertinya olahraga di sini akan sangat menyenangkan dan semoga resolusi saya untuk menurunkan berat badan bisa berhasil *amin*. Selain itu, saya bersama Galan dan Emir keliling pusat kota Singapura mulai dari Bugis Village-Masjid Sultan-Esplanade-Merlion sampai Clark Quay dengan berjalan kaki! Cukup membakar lemak saudara2 :D

Weekend kemarin saya isi dengan jalan-jalan (lagi), Sabtu ke Orchard dan Minggu ke Orchard lagi. Tapi, Minggu saya pergi bareng Dira, anaknya Bunda Tatty dan Pak Elmir, pembina FIM yang ternyata saya temui setelah ikut pengajian IMAS di KBRI :D Wah, alhamdulillah banget, hari Minggu itu ketemu Bunda Tatty, Dira, kak Ridwan (FIM 12) dan tante Attie (teman Bunda yang tinggal di SG). Menyengangkan sekali hari itu, jalan2 ke Esplanade (lagi) dan Orchard (lagi) dan bercerita banyak sama Dira :D Alhamdulillah, jadi nambah jaringan juga karena tante Attie ternyata ngajakin gabung di perkumpulan orang Minang di Singapura (kalau kata Bunda itu penting untuk ikut komunitas perantauan di negeri orang :D). Secara Ibu saya orang Minang, ya saya juga terhitung sebagai Orang Minang lah :D (oke, agak sedikit primordial :p)

Alhamdulillah, malam itu juga saya cek ke website ICA, ternyata IPA saya sudah diapproved. So, #kegalauan2 terselesaikan. Walaupun saat itu saya belum dapat suratnya, tapi sudah lega setidaknya, sebab malam itu saya dengar cerita dari kak Ridwan, imigrasi Singapura agak random dan strict. Mereka akan menolak aplikasi jika mereka tahu kita pernah berhubungan dengan gerakan2 tertentu, seperti gerakan separatis, fundamentalis, dll. Bahkan saya dapat cerita dari Yoes, temannya yang bekerja di majalah islam garis keras ditolak aplikasi Student Passnya dan akhirnya harus pulang ke Indonesia walaupun dia sudah diterima dan dapat beasiswa di sini. Jadi, malam itu saya googling nama saya dengan keyword tertentu. Agak deg2an juga karena muncul tautan2 yang berkaitan dengan hal2 yang seperti itu. Tapi, Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terjadi, dan saya tetap dapat IPA letter esok harinya meminta langsung ke Graduate Student Office :)

Hari senin, saya ambil IPA dan cek kesehatan. Alhamdulillah, saya lolos cek kesehatan, terima kasih Allah, #kegalauan3 saya teratasi. Jadi, sudah cukup lega saya untuk bisa registrasi hari ini dan buka akun bank :)

Alhamdulillah, walaupun sempat ada kegalauan di awal tapi semua berjalan lancar. Terima kasih Allah yang Maha Baik :)







Read More