Dan yah, akhirnya saya ketinggalan bis, menuju Jakarta.

Saat itu, kebetulan mobil yang dikemudikan Andini berada di sekitar pelabuhan udara Adi Sucipto. Berbekal nekat, kami bergerak menuju bandara dengan harapan akan tersedia tiket sisa untuk pulang ke Jakarta. Ternyata, semua kursi dari seluruh maskapai penerbangan yang menuju Jakarta sudah habis tiketnya sampai hari Senin.

Panik, ya, tapi dalam hati aja, gak perlu dilihatin ke khalayak :p Saking paniknya, saya tidak sempat berbincang lama dengan Fakhri Rasyidi, teman MAN saya yang kebetulan bertemu di Bandara saat itu (maaf ya Fri...)

Ayahnya Andini pun ikut panik, aduh, maaf ya Om, sudah merepotkan dan bikin panik pula. Setelah nanya ke sana ke mari, akhirnya kami sepakat ke terminal bis Jombor. Beruntunglah, saya diberikan nomer agen bus dari teman saya, Fikri, yang kebetulan pernah kami minta bantuan untuk mencarikan tiket balik dari Jogja ke Jakarta.

Sayapun meng-sms mas2 agen bus itu. Saya tanya, ada satu tiket balik ke Jakarta sore/malam itu tidak. Dia bilang ADA! Alhamdulillah, kami langsung semangat menuju terminal Jombor. Mas2nya bilang bisnya akan berangkat pukul 17.00, sementara waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 17.30. Alhamdulillah, kami sampai di Jombor sebelum jam setengah 6 sore.

Dan ternyata, saya kehabisan tiket bis tambahan yang dijanjikan mas-mas agen bus itu. Namun, Allah masih menolong saya. Saya akhirnya mendapatkan tiket bis tambahan yang menggunakan bis pariwisata, yang kata mbak-mbak agennya akan berangkat dari Jogja jam 7 malam. Tidak tanggung-tanggung, saya ditempatkan di kursi paling depan, tepat di belakang supir. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan oleh Allah pulang ke Jakarta malam itu :D

Setelah lega mendapat tiket, Andini dan Ayahnya pun pamit pulang. Saya kemudian menunggu bis dengan membaca berbagai tulisan yang bisa saya baca. Saya tunggu jam 7, bisnya belum datang-datang juga. Jam 8 lewat juga. Akhirnya, bis pariwisata itu baru datang jam setengah 9 malam.

Hello, setengah 9 malam baru berangkat dari Jogja, apa kabar gw kerja besok pagi? Hmmm....

Bismillahitawakkaltu allallah...

Ya, naiklah saya ke bis itu. Tempat duduk saya harusnya di dekat jendela, ternyata bapak-bapak yang duduk di sebelah saya menggeser duduknya ke dekat jendela dengan alasan tasnya besar dan bisa membuat saya tidak nyaman jika Bapak itu mengambil duduk di pinggir. Baiklah Bapak, walaupun dalam hati saya kesal akibat penggeseran tempat duduk itu, tapi mau bagaimana lagi. Saat itu saya sudah capek sekali dan ingin tidur saja.

Malam pun berlalu. Saya berusaha tidur beberapa jam, tapi selalu terbangun tiap beberapa menit karena tidak nyaman. Belum lagi supir bis yang menyetir membuat saya berzikir terus sepanjang jalan.

Akhirnya, bis berhenti di tempat pemberhentian pertama. Bapak-bapak yang duduk di sebelah saya pun turun karena ingin ke kamar kecil. AHA! Saatnya saya memindahkan posisi tempat duduk saya ke dekat jendela. Dan jadilah saya duduk di posisi tempat saya duduk seharusnya. Di situlah saya mulai bisa tidur dengan nyenyak.

Tidak terasa, pagi menjelang, saya melihat jam sudah pukul 4 pagi hari Senin dan bis sudah berada di Ciamis waktu itu. Saya pikir, sebentar lagi sampai di Bandung, dan dari Bandung akan masuk tol Cipularang menuju Jakarta.

Ternyata, bis baru sampai Bandung pukul 7 pagi. Di Bandung, sebagian besar penumpang turun dan sebagian lainnya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Uniknya, bis yang saya tumpangi melayani penumpang dengan segala jurusan, mulai dari Bandung, Bekasi, Bogor, Pulo Gadung hingga Lebak Bulus. Pikir saya, bagaimana ini si supir mau mengantarkan semuanya? Saya pasti sampai di Lebak Bulus paling tidak pukul 11 siang, padahal saya janji masuk kantor setelah makan siang. Gak mungkin pak supir akan mengantarkan penumpangnya ke tujuan masing-masing.

Benar saja, supir bis yang sudah teler menurunkan kami begitu saja sesampainya di Bekasi. Walah, saya langsung turun dan menyetop taksi ekspres untuk mengantarkan saya pulang ke rumah. FYI, harga tiket bis yang saya bayar dari Jogja ke Jakarta sebesar 135rb rupiah sementara harga taksi yang saya bayar dari Bekasi ke Bintro sebesar 100rb rupiah (karena di tol JORR macet parah). Ya, alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah jam setengah 11 siang.


Alhamdulillah, terima kasih Allah untuk kesempatan saya liburan kali ini, berpetualang dan bertemu dengan teman-teman dan orang-orang hebat. Terima kasih Allah telah memberikan saya kesempatan menikmati kisah perjalanan yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan seumur hidup.


Semoga, segala kebaikan yang diperbuat oleh orang-orang, khususnya teman-teman dan saudara-saudara yang membantu saya dalam perjalanan saya kali ini akan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT.

Terima kasih :')


Jakarta, 23 Mei 2012

Sebuah memoar kecil dari catatan perjalanan seorang Avina Nadhila Widarsa...
Read More

Keesokan paginya, kami kembali ke padang pasir tumpukan debu vulkanik itu dengan tujuan menikmati Sun Rise. Sayangnya, karena mendung kami tidak sempat menikmati sun rise dari kaki Gunung Merapi, huhu. Namun, tidak apa-apa, cerita berbagi inspirasi selanjutnya dari Mbak Danur tentang aktivitas sosial mahasiswa UGM di kaki Gunung Merapi cukup menambah semangat saya pagi itu. Saya sangat mengapresiasi usaha teman-teman FIM Geje yang menghadirkan YLT yang cukup mengesankan dan berkualitas, walaupun saya tahu teman-teman FIM Geje agak kerepotan menyiapkan ini semua J Sayangnya, saya tidak bisa mengikuti keseluruhan acara YLT yang dilaksanakan FIM Geje. jam 7, saya dan Ovy diantar kembali ke kota Jogja karena kami harus bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta pada sore harinya.

Saat itu, Andini sudah menanyakan di mana keberadaan saya dan kapan saya akan balik. Sebab, dia ingin berjalan-jalan di Sunmor, sunday market yang digelar di sekitar kawasan UGM. Saya pun meminta kepada teman-teman yang mengantar saya turun ke bawah untuk diantarkan sampai ke Sunmor. Sampailah saya di Sunmor, sendirian, sementara Ovy harus kembali ke penginapan tempat adiknya yang sudah menunggu. Kami memang berjanji pulan bareng nanti, tapi karena agenda pagi dan siang saya berbeda dengannya, maka kami berpisah terlebih dahulu.

Di Sunmor saya bertemu Andini, kemudian berjalan-jalan menikmati pemandangan Minggu pagi di sekitaran kampus UGM. Mencoba masakan Lontong Opor, hingga berjalan-jalan menuju Mesjid Kampus UGM. Saya baru tahu, ternyata di Jogja banyak waria yang berprofesi sebagai pengamen. Hal yang menurut saya agak mengganggu ketertuban umum, apalagi ketika mereka ngamen, mereka datang segerombol dan agak maksa. Tapi, ya sudahlah, mudah-mudahan ada penanganan yang lebih tepat dari pemerintah kota Yogyakarta.

Siangnya, saya kembali ke tempat Andini, beres-beres dan bersih-bersih. Sebelum pulang, saya berjanji untuk bertemu sahabat saya yang lain yakni Shekar, teman saya di ILP2MI dan FIM 11. Kami pun bertemu di Hokben Jakal dan jalan-jalan di sekitar Malioboro. Di Malioboro, saya mampir ke Pasar Beringharjo dan Mirota Batik serta membeli beberapa buah tangan. Tentu saja, saya tidak lupa mampir ke pabrik pembuatan Bakpia "25" di daerah Pathuk, tempat langganan saya membeli Bakpia. Oiya, sebelum pulang saya juga sempat foto di depan tulisan Jalan Malioboro dan membeli Gudeg di Jalan Wijilan. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 15.00, padahal bis saya berangkat dari terminal Giwangan pukul 17.00, menurut jadwal yang disampaikan oleh Ovy.

Saya dan Shekar segera memacu motor ke tempat Andini. Namun, sebelumnya saya menyempatkan diri foto-foto di depan kampus UGM dan gedung GSP. Walhasil, saya sampai di tempat Andini pukul 15.30. Saya pikir saya masih punya sedikit waktu untuk mandi dan bersiap. Saya kemudian baru berangkat dari tempat Andini jam 16.00.

Ternyata, oh ternyata, Ovy menelepon, mengabarkan bisnya akan berangkat sebentar lagi. Nah lho, nah lho, nah lho... Saat itu saya baru menjemput Ayahnya Andini dari hotel, sementara waktu menuju terminal Giwangan hanya bisa ditempuh paling cepat selama 45 menit. Alamak, wasalam ini sepertinya.
Read More

Melesatlah saya ke Vrederburg, kali ini setelah mengambil beberapa pundi rupiah dari ATM Mandiri untuk perbekalan dua hari ke depan. haha. Kali ini saya diantar Andini dan Bimo, pacarnya, ke Benteng Vrederburg.

Sesampainya di Benteng Vrederburg, saya tidak melihat tanda-tanda kehidupan dari teman-teman FIM Geje. Karena saat itu saya kebelet, saya pergi dulu membuang hajat di toilet dan kemudian masuk ke ruang diorama 1 untuk melihat-lihat terlebih dahulu.

Keluar dari ruangan itu, ternyata eh ternyata, saya melihat serombongan orang yang saya kenal sedang foto-foto di depan patung Jendral Sudirman dan Urip Sumoharjo. Nah, ini diaaaa... Akhirnya ketemu juga sama teman2 FIM! Senang rasanya melihat Dira, Mas Harizka, Mbak Amri, Yetty, Tika UGM, Gilang, Hanif, dkk. Wow, ternyata ada juga rombongan dari Semarang yang diwakili Enra, Mbak Tika dan kak Doni, perwakilan Bandung. Selain mereka tentu ada lagi teman-teman FIM yang lain :D

Ikutlah saya berwisata sejarah di Benteng Vrederburg, selama kurang lebih 1,5 jam menjelaskan penjelasan dari bapak-bapak tour guide baik hati, kami keliling museum memasuki ruang-ruang diorama. Sayang, saya dan Enra tidak sempat memasuki ruang diorama 4, yang katanya Hanif isinya tentang PKI. Tapi, lumayanlah hasil foto-fotonya :D

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Gedhe Kauman. Di sana, sembari istirahat shalat dan makan siang, kami menunggu kedatangan tour guide kami berikutnya yang notabene juga anak FIM 11, yakni Cak Priyo. Beliau ini memiliki usaha "Wisata Religi Ahmad Dahlan", jadi beliau membawa kita masuk ke Kampung Kauman, menelusuri jejak peninggalan pendiri salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah. Kami diajak melihat lebih jauh ke dalam kampung Kauman, diperkenalkan dengan peninggalan-peninggalan KH. Ahmad Dahlan, seperti langgar, rumah beliau dan mushola khusus perempuan yang didirikan oleh Aisyah, organisasi perempuan di bawah  naungan Muhammadiyah. Pada waktu kami istirahat di langgar KH. Ahmad Dahlan, kami juga sempat mendengarkan lagu yang dinyanyikan anak-anak kampung Kauman mengenai KH. Ahmad Dahlan. Saya lupa bagaimana lirik lagunya, tapi melihat keceriaan mereka yang masih lugu dan polos bermain berhasil mengusir kegalauan di hati saya. hehe.

Setelah shalat Ashar di langgar, kami berkumpul di Aula depan langgar untuk mengadakan sesi "berbagi inspirasi" yang khas dari FIM atau sesi Young Leaders Talk yang sebenarnya. Sesi berbagi inspirasi pertama kali dimulai oleh Cak Priyo yang membagi keinginannya untuk menjadi entrepreneur dan urgensi generasi muda untuk menjadi entrepreneur. Kemudian sesi sharing dilanjutkan oleh Galang dari Semarang yang banyak memberikan inspirasi dan pelajaran hidup bagi saya. Sesi selanjutnya diisi oleh Detiza, yang menjadi salah satu grand finalist Mahasiswa Berprestasi UGM. Beliau menceritakan pengalamannya berada di Jepang dan kisah-kisah unik yang menyertainya. Terakhir, saya kebagian mengisi sesi "berbagi inspirasi" dengan membagi kegalauan saya mengenai banyak hal, terutama jodoh, eh salah, skripsi. haha. untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan ke teman-teman yang mendengarkan cerita kegalauan saya selama 15 menit :p

Selesai di kampung Kauman, kami kembali ke mesjid Gedhe untuk menunaikan shalat Maghrib. Kami juga menunggu kedatangan mobil yang disewa oleh Mas Harizka untuk mengangkut kami menuju kaki gunung Merapi, tempat kami berencana bermalam. Pas, saat azan isya, kami berangkat menggunakan mobil menuju Merapi setelah menjemput Mita dan Mas Harizka yang mengantarkan motornya Enra dititipkan di rumahnya.

Berangkatlah kami ke Merapi. Sampai di sana, kami menaruh barang-barang di tempat Si Mbah, rumah warga yang terletak di kaki Gunung Merapi, tempat kami bermalam. Setelah makan malam, kami menuju ke padang pasir luas yang terbentuk akibat sapuan Awan Panas "Wedhus Gembel" yang menyapu desa di kaki gunung itu. Kami mengadakan api unggun dan "berbagi inspirasi" sesi kedua yang antara lain diisi oleh Mas Harizka, kak Doni, Ovy (FIM 12), Enra, Dira, Tika UGM dan Mas Edi (FIM 12). Walaupun ngantuk-ngantuk dan agak dingin (dan saya lupa bawa jaket), dengan suguhan kopi panas yang telah disiapkan Mbak Hilda dan kawan-kawan serta ubi bakar yang diberikan langsung oleh si Mbah, menjadikan malam minggu kali itu terasa hangat dan menyenangkan :)

Jam setengah dua belas malam pun kami akhirnya kembali ke rumah Si Mbah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Karena saya kecapekan, jadilah saya langsung pulas tidur di kamar yang telah disediakan. Jujur, saya sangat senang dan terhari. Senang, karena malam itu, pertama kalinya lah saya merasakan live in, bermalam di rumah penduduk asli di desa, di kaki gunung Merapi pula. Terharu, karena kebaikan teman-teman FIM Geje dan tentunya si Mbah yang menyediakan rumah tempat kami bermalam. Ya Allah, balaslah kebaikan mereka dengan pahala dan kebaikan yang setimpal :)
Read More

Besoknya, pagi-pagi saya masih labil, jadi ke Jogja atau tidak ya. Sebenarnya tiket sudah di tangan, tiket balik pun sudah di tangan (saya nitip ke Ovy yang waktu itu memang sudah di Jogja untuk nonton konser Sheila). Labil, karena tiba-tiba mama telepon kata nenek ga usah ke Jogja, capek, biar liburan di Bandung aja. Nah lho... Hmm, gimana ya? Kalo ga jadi ke Jogja gw ngapain? Nanti galau lagi gak ngapa2in? hahaha.

Kemudian saya ditelpon Bapak, sebetulnya orang tua saya sudah OK dan mereka tahu saya ke Jogja dari Bandung berangkat sendiri. Masalahnya tinggal di nenek, bismillah, saya telepon nenek, menjelaskan mengenai keberangkatan saya di Jogja. Saya jelaskan ke beliau kalau saya sudah ditunggu teman-teman saya di Jogja dan banyak yang mengharapkan kedatangan saya di sana (jieh, padahal ga ada juga yang nungguin saya dateng :p *khayal-khayal babu). Tapi, memang, saya sudah ditunggu beberapa sahabat saya di Jogja, salah satunya Andini. Andini ini teman akrab saya sejak MAN yang baru saja menyelesaikan gelar S.Kednya di Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada. Beliau senang sekali menyambut kedatangan saya, sampai-sampai beliau menghubungi pacarnya untuk menemani beliau menjemput saya di terminal bis Jombor pada jam 5 pagi, waktu perkiraan bis saya sampai di Jogja.

Malam itu, akhirnya dengan mengucap bismillah, saya berangkat ke Jogja. Menggunakan bis Bandung Ekspress, berangkat dari poolnya di Jl. Pajajaran. Perjalanan malam pun ditempuh selama hampir 12 jam.

O, ya sebelumnya, saya harus berterima kasih kepada sahabat misterius saya dari FIM 11, Kamil, yang dengan baik hatinya membelikan (memesankan lebih tepatnya) tiket bis dari Bandung ke Jogja dan mengantarkan saya ke tempat bisnya. Thanks a lot, sobs :D



Jadilah, saya sampai di terminal Jombor, jam 7 pagi, telat 2 jam dari perkiraan saya. Padahal, saat itu Andini ada janji main tenis, saya jadi tidak enak mengganggu olahraga sabtu paginya. Alhamdulillah, tidak lama saya menunggu, Andini akhirnya datang menjemput saya di terminal bis Jombor. Saya lebih tidak enak lagi mengetahui bahwa Bimo, pacarnya, sudah bangun pagi-pagi dan berencana untuk menemaninya menjemput saya. huhuhu. maaf ya, bisnya telat soalnya :(

Setelah dijemput Andini, kemudian kami pergi mencari sarapan, makanan khas Jogja tentunya. Andini mengajak saya mencoba Lotek, makanan sejenis gado-gado yang terdiri dari sayuran, tempe, tahu, potongan bakwan dan sambal kacang. Hmmm...mantap sekali sarapan Lotek di pagi hari (walaupun saya gak habis :p)

Puas makan lotek, saya kemudian menaruh tas dan membersihkan badan di tempat Andini. Setelah beristirahat sejenak, saya langsung berangkat menuju benteng Vrederburg, meeting point teman-teman FIM geje yang mengadakan acara Young leaders Talknya.

Melesatlah saya ke Vrederburg, kali ini setelah mengambil beberapa pundi rupiah dari ATM Mandiri untuk perbekalan dua hari ke depan. haha. Kali ini saya diantar Andini dan Bimo, pacarnya, ke Benteng Vrederburg.

Read More

Alhamdulillah, long weekend kemarin saya benar2 bisa liburan. Bisa melepas lelah dan penat setelah dihadapkan pada berbagai urusan yang sebetulnya kalo dipikirin bisa membuat saya (hampir) gila. hahaha. *becanda

Yep, holiday. Long weekend kemarin memang sudah saya rencanakan untuk berlibur, bahkan sejak awal bulan ini. Plan pertama saya ke Sawarna, tapi karena ga ada temen (dan belum punya pasangan juga :p) ke Sawarna sendirian agak krik-krik juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke dua kota sekaligus, yakni Bandung dan Jogja. Kunjungan saya ke kedua kota ini tidak lepas dari memori saya, tepat setahun yang lalu, di bulan Mei juga saya mengunjungi kedua kota ini, dengan tujuan yang sama yakni untuk melepas penat (dari tekanan tugas kuliah dan UAS kala itu *masih jadi mahasiswa ceritanya).

Jadi, berangkatlah saya ke Bandung hari Kamis. Ternyata di tol Cikampek macetnya luar biasa. Saya berangkat dari Bintaro jam 9, normalnya sampai di Bandung jam 11. Ternyata saya baru sampai Bandung jam 13. Phew, luar biasa ya macetnya?

Di Bandung, saya bertemu beberapa teman. Kedatangan saya ke Bandung memang spesial bertemu seorang teman yang saya berjanji padanya bahwa ke Bandung kali ini saya harus ketemu beliau. Dia yang sekarang sedang sibuk TA mau-mau saja diganggu untuk bertemu dengan saya :p Jadilah, saya bertemu dengan teman yang awet dari masa MAN saya ini yakni Hamida Amalia :)

Bertemu dan bercerita mengenai berbagai hal di kantin Salman, tidak disangka juga akan bertemu dengan teman se-MAN saya yang lain yakni Ayunina. Lama sudah tak berjumpa, sekarang mereka sedang sibuk dengan TA-nya dan saya sekarang sibuk memikirkan pendidikan di jenjang selanjutnya *tsaahhh. Alhamdulillah, silaturahmi yang kami lakukan mudah-mudahan bisa membawa rezeki bagi semuanya, semangat dan sukses kawan untuk TA-nya :D

Lanjut, di malam hari, rencananya anak2 FIM KECE akan menyambut saya dengan dinner bareng, dilanjutkan dengan pergi mengikuti ceramah di Daarut Tauhid. Ternyata, eh ternyata, acaranya hampir batal saudara-saudara. Teman-teman KECE yang agendanya padat hari itu (karena siangnya mereka ada acara di rumah teh Gina) hanya sebagian kecil yang bisa "menjamu" saya. Bahkan si Ibu Koordinator tidak bisa ikutan karena beliau ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Baiklah, akhirnya setelah shalat Isya',kami berlima berangkat menuju rumah makan "Makan-Makan".

Siapakah kami berlima??? Well, lebih tepatnya berempat sih yang berangkat dari Salman. Ada saya, Tia (FIM 12) dan duo Kamil-Syauqi. Saya, tia dan Syauqi berangkat naik mobil, sementara Kamil berangkat sendiri naik motor.

Jadilah kita berempat dinner (yang sangat telat sekali) dan berbincang hal-hal yang khas anak muda (silahkan kalian tebak sendiri apa yang kami bicarakan :p) Selanjutnya datanglah kak Ridwan Aldillah alias Wanteng yang memang mau jebe sama kita tapi baru datang di akhir. Dan malam itupun ditutup dengan traktiran dari Bos Syauqi (terima kasih Syauqiii :D).
Read More
Saya bersyukur dikelilingi teman - teman yang baik dan peduli
ketika saya jatuh, ada mereka yang dengan sigap menangkap saya
menolong saya untuk berdiri dan bangkit lagi

Saya sangat bersyukur ketika saya salah, ada mereka yang mengingatkan
ketika saya senang, ada mereka yang mendukung
ketika saya kalut, ada mereka yang memberikan semangat
optimis dan percaya, bahwa saya bisa lebih baik dari sebelumnya

Allah, lindungi mereka, kasih sayangilah mereka semua
anugrahkanlah kepada mereka berkah yang melimpah ruah
jadikan persaudaraan kami kekal abadi
sampai akhir hidup kami

tribute to : @tiknur, @eckqq, Viana Reynaldi, @megatala, dan @midori_koe
Read More
Saya pernah melakukan kesalahan
dan saya menyesal akan hal tersebut
saya merasa berdosa
dan saya bertaubat
saya berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari
bukan untuk siapa - siapa
tapi untuk saya sendiri
agar saya bisa memberikan yang terbaik
dalam hidup saya
saya tidak ingin hidup yang sekali diberikan oleh Tuhan ini sia - sia
begitu saja saya lewat di dunia
tanpa berbuat apa - apa
bukan melakukan kegiatan yang diridhaiNya tapi malah melakukan dosa

Saya masih bisa berpikir jernih dan rasional
karena saya tidak akan kalah
oleh pikiran negatif maupun buruk sangka dari luar
karena saya yang mengontrol diri saya sendiri
saya yang memandu jalan hidup saya sendiri

Saya memang pernah khilaf
tapi itu dulu, yah itu dulu
catatan buruk itu saya yakin bisa dihapus
walaupun saya tidak bisa melupakannya
paling tidak kekhilafan itu bisa menjadi pengingat bagi saya
agar tidak melakukan kesalahan yang sama
di waktu selanjutnya

Dan saya berharap dan berdoa agar Tuhan selalu melindungi saya
di setiap langkah yang akan saya ambil dalam hidup saya
karena saya yakin Tuhan telah menyiapkan hadiah terbaik bagi diri saya
asalkan saya ikhlas dan bersabar serta bersyukur

terima kasih Tuhan :)
Read More
saya hebat
saya kuat
saya berani berbuat
saya berani bertanggung jawab
saya tidak takut
saya keren
saya cerdas
saya tidak labil
saya anti galau
saya baik hati
saya tidak sombong
saya senang membantu
saya rajin menabung
saya patuh pada orang tua
saya pekerja keras
saya akan berusaha sampai titik penghabisan
saya pantang menyerah
saya pemaaf
saya berusaha disenangi banyak orang
saya peduli
Read More