Citizen Journalism, merupakan istilah yang lazim kita dengar sebagai bentuk jurnalisme baru di era teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Citizen journalism sendiri dapat diartikan secara harafiah sebagai “jurnalisme penduduk”. Dalam Oxford Dictionary, Journalism diartikan sebagai “work of writing for newspapers, magazines, television, or radio”. Citizen sendiri diartikan sebagai “person who has a rights as a member of a country, a person who live in town or city”. Dari dua definisi tersebut, maka citizen journalism dapat didefinisikan menjadi, person who live in town or city that work in writing for newspapers, magazines, radio, or television. Kenyataannya, definisi tersebut dapat penulis katakan sesuai dengan konsep citizen journalism yang berkembang saat ini.

Menurut Shayne Bowman dan Chris Willis citizen journalism didefinisikan sebagai “…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information”.[1] Hal ini jauh berbeda dengan konsep jurnalisme pada umumnya, yang merujuk pada “pekerjaan”, konsep citizen journalism lebih kepada “aksi yang tidak dipaksakan”. Selain itu, media yang sering digunakan dalam citizen journalism justru bukan koran, majalah, radio ataupun televisi, namun media internet. Citizen journalism atau yang bisa disamakan dengan public, participatory, democratic journalism , menurt D.J. Lasica menggunakan media yang berbentuk partisipasi audiens (seperti komentar pembaca, blog pribadi, foto atau video yang menggunakan kamera handphone, berita lokal yang ditulis oleh penghuni sebuah komunitas), situs berita independen, situs berita yang sepenuhnya berasal dari kontribusi partisipan, situs media kolaboratif, “thin media” (mailing lists, email newsletters) dan situs broadcasting pribadi.[2] Jadi, jelas perbedaan mendasar antara citizen journalism dengan jurnalisme pada umumnya terletak di media yang digunakan dan contributor atau partisipan dari kegiatan tersebut.

Munculnya ide citizen journalism ini sendiri sebenarnya berangkat dari kekecewaan jurnalis profesional pada mainstream media yang dirasa tidak cukup memenuhi gambaran representatif dari berita yang berimbang. Akhir dekade 1980an merupakan awal pergerakan citizen journalism yang moderen. Hal ini merujuk pada semakin terbukanya kesempatan secara luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif di media (adanya surat pembaca, opini, dan lain sebagainya). Di tahun 2000an kini, citizen journalism semakin berkembang pesat, terutama setelah terjadi peristiwa tsunami di Aceh yang menewaskan lebih dari 100.000 orang. Banyak korban selamat yang merekam peristiwa tersebut, seperti video fenomenal dari Cut Puteri yang sering ditayangkan di Metro TV pada waktu itu.

Berkembangnya dunia open source merupakan pendukung utama dari berkembangnya citizen journalism. Blog, situs-situs komunitas, forum, social networking website, milist dan lain-lain semakin membuat kesempatan interaksi people to people menjadi mudah. Itulah yang menjadi modal bagi perkembangan citizen journalism, partisipasi dari masyarakat secara voluntary yang melaporkan sebuah berita, menulis pendapat, mengomentari berita, dan lain sebagainya. Sekarang, batasan antara konsumen dan produsen media menjadi semakin kabur, sebab dengan adanya citizen journalism masyarakat yang tadinya bisa dianggap sebagai konsumen sekarang malah menjadi produsen berita itu sendiri. Hal ini tentu saja semakin mengancam eksistensi media mainstream. Oleh karena itu, para pemilik media mainstream kemudian mencari cara untuk menjadikan citizen journalism sebagai modal untuk memperluas media mereka, seperti yang dilakukan oleh grup kompas yang mendirikan kompasiana.com selain situs mainstream kompas.com.

Terancamnya eksistensi media mainstream tersebut lebih disebabkan karena citizen journalism yang berbasis dunia open source lebih disukai oleh masyarakat. Kemudahan untuk mengakses internet, terbukanya interaksi antara pembaca dan penulis, tidak adanya gap antara pembaca dan penulis, bebasnya tulisan atau berita yang dimuat, menurut penulis adalah sejumlah alasan mengapa citizen journalism ini semakin diminati. Selain banyak diminati, perkembangan citizen journalism juga menuai banya kritik terutama yang berasal dari media profesional. Vincent Maher, kepala New Media Lab di Rhodes University, mengemukakan tiga hal yang dikenal sebagai "three deadly E's", yakni ethics, economics and epistemology sebagai kelemahan dari citizen journalism. Isu lain yang menjadi kritik dari perkembangan citizen journalism adalah isu regulasi.

Di dunia citizen journalism yang sangat bebas mungkin masalah etika menjadi nomer sekian, yang penting substansi informasi dan berita dapat disampaikan. Namun, pada beberapa web citizen journalism sudah ada mekanisme pengawasan yang mengatus masalah etika tersebut. Sedangkan, untuk blog pribadi, microblogging, forum, milis, ataupun social networking website, mekanisme pengawasan lebih dilakukan oleh person to person. Masalah ekonomi juga penting untuk disorot mengingat konsep citizen journalism adalah kegiatan yang voluntary, namun dalam operasionalnya juga membutuhkan biaya untuk itu. Penulis sendiri berpendapat boleh-boleh saja web atau blog pribadi yang berbasis konsep citizen journalism berorientasi profit selama tidak mengganggu isi dan substansi tulisan ataupun berita yang disajikan. Masalah tata bahasa (epistemologi) juga menjadi fenomena tersendiri dalam citizen journalism. Dalam sebuah artikel dari The Jakarta Post yang berjudul “messing with letters” dikemukakan seorang gadis “alay” bernama Ophi A. Bubu sampai harus di banned dari facebook sebab bahasa yang digunakan sangat mengganggu mata orang-orang yang melihat. Inilah yang menjadi masalah cukup serius yang penulis lihat dalam perkembangan citizen journalism, namun hal ini ternyata tidak begitu banyak berarti sebab partisipan ataupun kontributor dari citizen journalism sendiri dapat dikatakan merupakan orang yang memilki kapasitas intelektual yang tinggi mengingat mereka dapat menggunakan internet sebagai medianya. Jadi, masalah epistemologi mungkin tidak akan terlalu menjadi beban. Terakhir, masalah yang paling krusial adalah masalah regulasi. Belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur dengan jelas tentang konsep citizen journalism merupakan suatu kontradiksi apabila kita melihat kasus Prita Mulyasari yang terekspos oleh media mainstream karena pelanggaran UU ITE.

Kontribusi para citizen journalist dalam kasus ini cukup signfikan sehingga Prita yang tadinya dijerat dengan hukuman yang tidak ringan itu bisa bebas dari penjara. Di sini kita juga bisa melihat bahwa antara citizen journalism dan media mainstream ternyata juga memiliki rasa saling ketergantungan, selain rasa persaingan. Tak jarang media mainstream merujuk beritanya pada berita atau isu yang ditampilkan dalam bentuk citizen journalism, sementara media citizen journalism juga membutuhkan media mainstream dalam perkembangan dan publikasinya. Namun, sayangnya media mainstream masih merasa lebih superior daripada media citizen journalism. Hal ini tebukti dari tidak dimuatnya rujukan dari sumber-sumber berita yang didapatkan, padahal tidak jarang media mainstream merujuk pada media citizen journalism sebab media citizen journalism lebih cepat menginformasikan kepada khalayak seperti kasus anakui.com yang lebih cepat menginformasikan mengenai pembekuan yang terjadi di BEM UI ketimbang republika.com ataupun detik.com. [3]

Tidak diperbolehkannya rujukan dari media citizen journalism juga merupakan kritik penulis terhadap bentuk rujukan bagi penulisan ilmiah. Dianggapnya media citizen journalism yang kurang ilmiah merupakan satu kesalahan yang menurut penulis tidak dapa digeneralisir. Memang, ada beberapa media citizen journalism yang ditulis dengan asal-asalan tanpa memberi rujukan ilmiah. Namun, selayaknya media citizen journalism yang bermanfaat dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan seperti Wikipedia.com seharusnya bisa dijadikan sebagai sumber rujukan. Sebab, dalam situs-situs seperti Wikipedia tersebut informasi mengenai suatu hal bisa jadi lebih akurat dan aktual ketimbang yang ada di buku atau media mainstream. Oleh sebab itu, penulis sangat mendukung adanya upaya penyeimbangan kedudukan antara media citizen journalism dan media mainstream.

Poin penting lain yang dapat dilihat dari citizen journalism adalah media citizen journalism bisa kita jadikan sebagai alat pergerakan mahasiswa. Selama ini, mungkin terkesan media mainstream yang penuh dengan berbagai kepentingan tidak dapat mengakomodir kepentingan pergerakan mahasiswa. Maka dari itu, saatnya kita memanfaatkan media citizen journalism sebagai alat pergerakan kita. Tidak hanya terbatas pada facebook, namun kita bisa mencobanya dengan hal-hal lain seperti membuat blog khusus mengenai pergerakan mahasiswa, menulis di berbagai website komunitas seperti anakui.com untuk menyebarluaskan isu yang sedang diperjuangkan, menulis di website citizen journalism yang besar seperti kompasian.com ataupun blogdetik.com, menyampaikan pandangan, perasaan, dan ide melalui forum atau milis, serta menyampaikan foto atau video di youtube, flock, dan lain-lain. Hal ini merupakan poin plus bagi para aktivis mahasiswa apabila mereka menyadarinya.

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa perkembangan citizen journalism sudah sedemikian hebatnya. Citizen journalism telah membawa keuntungan bagi kita masyarakat umum untuk berpartisipasi menjadi bagian dari proses produksi berita. Namun, sayangnya pengakuan terhadap keberhasilan citizen journalism ini masih sangat minim, bahkan dianggap sangat skeptic dan pesimis oleh media mainstream. Oleh karena itu, saatnya kita buktikan the power of media berpihak pada pihak yang memang benar-benar menyuarakan aspirasi ataupun berita dengan jujur dan apa adanya melalui konsep citizen journalism.



[1] http://lunjap.wordpress.com/2008/06/03/citizen-journalism-sebuah-fenomena/

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism

[3] http://www.anakui.com/2009/08/24/tanggapan-bem-ui-dan-rektor-ui-terhadap-surat-pembekuan-bem-ui/

Read More
calon ketua dan wakil ketua BEM UI 2009


Imaduddin Abdullah


dan


Choky Ramadhan

gw bukan tim sukses, hanya partisipan...hehehehe
X)
Read More
minggu UTS

THI-1 besok take home, asdos nyebelin (abi2006)

sekarang harusnya belajar polin ari bukunya robert jackson di googlebook, eh malah nge blog...

proyek pimnas gmana nih imanusman? gw sms aja deh

o,ya blum nyiapin perlengkapan buat global ugrad (udah ada surat rekomendasi, tapi masih blm tau nilai TOEFL. smoga mnyenangkan :)

pengen apply NTUMUN

hoooaaaa


pengen banyaaaaakkkk


dan dia sms gw 2 hari beturut2

dan gw ga tau apa yang ada di pikiran dia

tentang gw

sekarang


saat ini



atau 10 taun lagi
Read More
mari beramai2 belajar

jangan nyontek ya teman

usahakan bulpen terisi penuh, tangan disiapkan untuk menulis 4 halaman folio, tip-ex, dan KRS jangan lupa dibawa

usahakan berdoa sebelum dan sesudah ujian

jangan lupa pelajari semua bahan dan kisi2 yang akan keluar

semoga berhasil


wassalamualaikum wr.wb.
Read More
hari sabtu malem gw mimpi.....


gw menikah......

sama siapa?


sama teman gw yang namanya hampir mirip, yang gw pernah numpang tidur di rumahnya, yang orasinya dahsyat, yang pernah nawarin gw jadi selingkuhannya, dan yang nge ROKOK....

Oh, gosh....itu mimpi ga banget....

bahkan di mimpi itu seseorang yang lagi gw suka nyalamin gw buat ngasih selamat.....


huhuhuhuhuu

mirisss banget rasanya....
sumpah ini mimpi buruk banget....
walaupun sebelumnya gw juga pernah mimpi nikah (dengan orang yang gak gw kenal)
tapi ini aneh bangettt
masa gw nikah di bawah umur 20 tahunn???/


husshshhhh...ya udah mungkin ini peringatan dari Allah agar gw ga usah terlalu mikirin orang itu lagi....

saya berlindung dari godaan syetan yang terkutuk...
Read More
Ser Imam, guru bahasa inggris saya di SMA sekarang sudah resmi menjadi orang tua dari anak perempuannya yang lucu bernama Adzra Sekarsari Abidah....

Wooowww, ga ngebayangin seorang guru metal yang dari dalam kamarnya suka terdengar musik2 rock n roll, bisa menikah dengan seorang bu Rizka yang sering nongkrong di masjid waktu dhuha, dan sekarang mempunyai anak perempuan yang lucu....

oke deh, selamat buat Ser Imam dan Bu Rizka
mudah2an anaknya bisa menjadi anak yang sholehah, cerdas dan berbakti pada orang tua, bangsa dan agama...


-hhee
Read More
Assalamualaikum Wr. Wb.

Jumat kemarin, tepatnya tanggal 16 Oktober 2009, saya bersama Azar dan Tita melancong ke almamater, mantan SMA kami dahulu...y, sekolah yang sampai saat ini masih saya banggakan, dan saya sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menempuh pendidikan selama 3 tahun di sana....Insan Cendekia Serpong....

Kedatangan kami ber3 berawal dari niat baik saya dan Azar (upps ga boleh riya vin...) untuk membantu adik2 saya angkatan NOZOMIKA, yang katanya menghadapi kesulitan dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi. Sekilas, dapat saya jelaskan, bahwa sejak tahun ajaran 2007/2008, DEPAG yang mengatur operasional IC mengembalikan fungsi IC kepada khittahnya, yakni dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan dan asrama serta makan bagi ke-120 siswa beruntung yang bisa masuk IC dan menerapkan sistem kuota 80% untuk anak pesantren-madrasah, dan 20% sisanya untuk SMP umum... Akibat perekrutan yang tidak memenuhi-standar-kelayakan-minimal-hidup di IC tersebut, golongan kaum menengah ke bawah cenderung mendominasi strata ekonomi-sosial siswa baru tersebut... IAIC sebagai ikatan alumni-yang-belum-bekerja-efektif menyangka bahwa dengan keadaan tersebut siswa2 dari angkatan NOZOMIKA diprediksi tidak akan banyak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akibat tidak ada biaya. Oleh sebab itu, saya dan Azar berinisiatif untuk datang ke IC dan memberi sedikit penjelasan kepada bu Rini bahwa di UI, mereka bisa kuliah tanpa harus memikirkan biaya (semoga saja)....

Ternyata, oh ternyata....niat baik kami ini direspon dng positif oleh Bu Rini. Namun, beliau mematahkan asumsi bahwa anak2 Nozomika ada yang tidak mau melanjutkan kuliah....Hal itu terbukti dari kuesioner yang saya baca, semua anak NOZOMIKA menuliskan semua pilihan untuk tujuan kuliahnya....dan yang lebih bikin surprise buat saya mereka tahu apa yang mau mereka masuki, melalui jalur apa, dan apa profesi yang mereka tekuni nantinya....bahkan, dari kuesioner tersebut banyak jurusan2 asing di telinga saya sewaktu SMA yang mereka tulis seperti arkeologi, kriminologi, adm.negara, astronomi,oseanografi,dll. Wah, salut banget buat Bu Rini yang mampu mengubah paradigma anak2 nozomi yang tadinya ga kepikiran untuk kuliah menjadi semangat buat kuliah, terutama buat ngincer beasiswanya X)

Pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa di atas adalah IC masih tetap seperti yang dulu, dengan semangat siswa2nya untuk meraih masa depan yang lebih baik, komitmen guru2nya dalam mendidik siswa2nya menjadi siswa berprestasi (dan tahun ini mereka mengirimkan 6 orang siswa untuk mengikuti olimpiade tingkat internasional), serta yang paling penting mengajarkan saya untuk dapat tetap survive di tengah kerasnya tantangan kehidupan....

saya bangga menjadi alumni IC :)
Read More

entah apakah lama atau sebentar lagi,
semua rasa akan pudar..

rasa ini,
entah suka,
entah sayang,
atau cinta..

semua rasa itu pada saatnya nanti pasti akan pudar..

entah hati ini berbohong tentang rasa,
mungkin sebenarnya rasa ini tidak pernah ada..

karena semuanya akan pudar..
seperti kenangan..

akankah rasa ini pudar suatu saat? entah rasa apa yang ku alami..


taken from http://ordinarypeople.tumblr.com/ (tumb log adeknya suriii)

Read More
If you wanna know me better, lets check it out!

Your view on yourself:
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties. (AMIN...)

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You are not looking merely for a girl/boyfriend - you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.
(HO? harus lebih open minded?)

Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.(kapan???10 taun lagi X)

The seriousness of your love:
You are very serious about relationships and aren't interested in wasting time with people you don't really like. If you meet the right person, you will fall deeply and beautifully in love.(definitely RIGHT)

Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can. (bener gilaaa....)

The right job for you:
You have many goals and want to achieve as much as you can. The jobs you enjoy are those that let you burn off your considerable excess energy. (yeah, i am so workaholic)

How do you view success:
You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying. (yes, it is...so don't stop my path on becoming a diplomat...hehehe)

What are you most afraid of:
You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.(i think so)

Who is your true self:
You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve.
Read More
*copied from Muslim_Mindset@yahogroups.com

Staying single









Q. Is it true that marriage constitutes one half of our faith? How about people who do not get the opportunity to get married? I have an aunt who never got married simply because the offers of marriage she received when she was young did not meet her expectations. She did not feel that she would be comfortable with anyone. Does this mean that she is at fault from the Islamic point of view?





Nothing in the Quran or the Hadith speaks of marriage as constituting one half of our religion. Yet this notion is commonly held throughout the Muslim world. Wherever you go in Muslim countries you hear it as an accepted fact. So, where does it come from?

One Hadith reported by Anas ibn Malik quotes the Prophet (peace be upon him) as saying: “When God grants someone a good wife, then He has helped him with one half of his religion. Let him remain God-fearing in attending to the other half.” (Related by Al-Tabarni and Al-Hakim.) When you carefully examine the wording of this Hadith you realize that it gives a totally different concept from the common notion. It does not speak of marriage as a concept, institution, or common practice. It speaks of a good wife, which means one who is devout, loving, attends to her duties and takes good care of her family and home. Yet having such a wife is not half the religion. According to the Hadith, she represents God’s help in attending to one half of the religion. She helps her husband in steering away from what is forbidden and in doing his Islamic duties. Such help is invaluable in following God’s commandments and resisting the temptation of sinful practices. Therefore, the Prophet urges a person who has received God’s help in the form of a good and devout wife to remain God-fearing in the other half, i.e. where his wife has no influence on his actions and behavior.

Some people, however, go through life without ever getting married. Are they lesser Muslims? Certainly not. Yet they are at a disadvantage because they do not have the help that a good wife represents. Moreover, they do not have the opportunities that marriage provides to earn more reward from God. For example, when you take good care of your wife and children, work hard to provide them with good living and good education, you receive rich reward from God. If you are unmarried, you lose this opportunity. If your wife or husband is ill and you take care of them until they have recovered, you earn good reward. If you bring up your children as good Muslims, implanting in their minds the values Islam is keen to nurture in Islamic society, you are doing your duty for which God rewards you generously.

Needless to say, people who remain celibate have more free time which they can use in a variety of ways to earn God’s reward. Yet they may find it more difficult to resist the temptation of sin. However, the fact that they remain celibate does not mean that they are lesser Muslims. Over the centuries, there were some highly renowned scholars who did not have the chance to get married. The most notable of these was Ibn Taymiyyah. He ranks with the top scholars throughout Islamic history. Some contemporary scholars point out that because Ibn Taymiyyah never got married, some of his rulings, or fatwas, concerning women did not have the same standard of scholarly insight as his fatwas in other areas.

Having said that, I would like to add that Islam urges all Muslims to marry. Several Quranic verses and Hadiths make clear that marriage is the proper status for Muslims, as it helps them to remain God-fearing, steering away from sin. To quote just one Hadith, the Prophet says: “This life is mere enjoyment, but the best that is enjoyable in it is a good wife.” (Related by Muslim).

To sum up, a person who goes through life without getting married is not a lesser Muslim simply because of remaining celibate, but marriage is an important institution that helps a Muslim to lead a proper Islamic life.



- Answered by: Adil Salahi
Read More
Assalamualaikum Wr. WB.
Setelah melewati 2 minggu penuh perjuangan, alhamdulillah, semua doa2 gw dibales dengan kemudahan dan kelancaran yang diberikan oleh Allah SWT.

Alhamdulllah...Alhamdulillah...Alhamdulillah....

Semua acara yang gw pegang 2 minggu terakhir berjalan lancar, untuk lebih jelasnya gw akan buat LPJ mini di blog ini....

1. Seminar KSM : Pada awalnya acara ini mau dikemas dengan meriah dan berskala nasional, mendatangkan 2 keynote speaker yakni MenHan dan MenLu, sayanganya karena kekurangan sumber daya (manusia dan dana), akhirnya acara tersebut disederhanakan menjadi seminar "biasa" dengan mendatangkan akademisi dan praktisi di bidang terkait.

sesuai judul dan tema seminar " Behind The Enemy Lines : Strategi Menjaga Perbatasan dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI?" yang akhirnya gw ubah menjadi " Behind The Enemy Lines : Refleksi Diplomasi dan Pertahanan Nasional dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI?" sebab si ganteng Manggala Putra Gonjeszhenn punya obsesi mengundang Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri untuk menjadi keynote speaker. Setelah rasionalisasi dan rasionalisasi, akhirnya seminar tersebut, alhamdulillah jadi diadakan di Auditorium Pusat Studi Jepang, tanggal 1 Oktober 2009. Pembicaranya hanya 2 orang, yakni Prof. Hikmahanto Juwana, SH.,LL.M.,Ph.D. (pakar hukum internasional-yangdigosipinmaujadimenkopolhukam-yangjasakonsultasinya500US$perjam- which is pada hari yang sama gw juga ada kelas sama beliau =) dan Drs. Ali Mochtar Ngabalin, MA (atau M.Ag yah?, fungsionaris PBB, mantan anggota komisi I DPR 2004-2009, yang "agak2fenomenal" dan beberapa hari sebelum gw undang sempat bikin keributan di DPR)
yah, persiapan kita emang minim banget. Dana baru turun H-1 dari rektora, itu pun pake jatahnya KSM. POnya si Roby emang kurang koordinadsi (you know lah ya cara kerjanya Roby), ditambah anak2 KSM yang cuma sdikit yang bner2 membantu acara dari awal sampe akhir (sorry to say, cuma gw agak kecewa dengan cara kerjanya KSM yang kayak gini)
Untung ada NUril, Ka Vinda, Ka Sonia, Wildan, Lukman, dan beberapa orang yang masih mau bantu acara....billion thanks for you all =)

tapi, di atas semua itu.....alhamdulillah, acara berjalan sukses, audiens banyak, dan gw jadi ngerasain untuk pertama kalinya, sebagai koor acara merasa keberhasilan itu memang nyata kalo kita mau berusaha dan berdoa...=)
alhamdulillah....

2. Simposium Nasional Pendidikan "Membangun Visi Pendidikan Indonesia"

acara yang udah disiapin sejak bulan Juni, tapi baru mulai keliatan ada progress h-1 bulan...acara yang baru fix h-3 minggu...gw sebagai pembicara pusing bgt mikirin mau kayak gmana nih acara? alhamdulillah, atas izin Allah, semuanya berjalan lancar...walaupun audiensnya ga sebanyak yang kita harapkan....output dan dukungan dari berbagai pihak mudah2an bisa membuat acara ini layak untuk dijadikan "best proker se-UI....aminnnn"...
eh, enggak deng...cetek bgt kalo cita2nya cuma kayak gtu...yang jelas....acara ini outputnya buat suatu rekomendasi kebijakan pendidikan nasional yang insya Allah bakal didukung sama anggota DPR, khususnya dari PDIP dan GERINDRA (yg sevisi untuk mencabut UU BHP) dan mudah2an didukung langsung oleh SBY (FYI, rekomendasi hasil simposium ini udah sampe ke SBY langsung lho=)

Selain itu, di acara ini gw mendapat banyak pengalaman berharga : kesabaran dan konsistensi dalam menghadapi tantangan, punya banyak temen baru (Dhika, Arbie, Audry, and Sari, punya kenalan2 orang terkenal (mulai dari Profesor [HAR Tilaar-yang suaminya Martha Tilaar itu lho-, Sudiyarto-yang ngusulin anggaran pendidikan 20%-, Paulus Wirutomo -ini mah gw udah kenal], anggota DPR komisi X [bu Aan Rohanah-ustadzah PKS yg ternyata doi punya pesantren yang anak2nya banyak masuk IC angkatan2 skrg-], pak Ahmad Rizali {advisornya Klub Guru Indonesia, staf ahli di Pertamina, advisor Sampoerna Foundation}, mas Eko Prasetyo [penulis buku "orang miskin dilarang sekolah", sempet bikin gw bingung sebab beliau minta dijemput dari Jogja -______-]

dan yang bikin lebih surprise....kehadiran rektor UI, Prof. der.soz. Gumilar Rusliwa Soemantri yang tiba2 di tengah2 acara, memotong sesi tanya jawab di bagian pertama, lalu memberikan keterangan tentang "prestasi2 UI"...what the.....

di atas semua itu (lagi2) gw ga berhenti mengucapkan puji syukur dan alhamdulillah...=)
sekarang tinggal buku dan bundel diskusi kalo gtu yang blum beres...(ouch...)

3. FINAL OLIMPIADE ILMU SOSIAL 2009
yak, acara ini udah disiapkan lebih kurang 10 bulan yang lalu, tapi tetep aja gw baru sibuk2nya h-1 bulan (bahkan h- beberapa jam sebelum acara...hehhehe)
overall, acara berlangsung sukses. dengan pemenang OIS tahun ini SMAN 1 Samarinda (sayangnya IC ga ikutan tahun ini, coba kalo ikutan, pasti juara lagi deh...hehehe)
setelah menunggu tema dan soal yang ga jelas, alhamdulillah Patrya Pratama, senior gw di HI membantu menyelesaikan (membuat soal tersebut). Sempet agak bingung dengan maksud soal itu, ditambah sarannya suruh nyediain modem buat para finalis...akhirnya dengan keterbatasan fasilitas dan sarana, penyusunan presntasi final OIS berjalan lancar...alhamdulillah, gw dibantu GYa, jadi pas hari-H ga ribet ngurusin SEMUANYA (gila aja kalo gw urus semuanya)
Juri2 juga sempet bermasalah, yang tadinya dicari 5, kemudian baru bisa 4, yang akhirnya bner2 jadi 3...tapi juri2nya qualified bgt dong...ada Prof. Adrianus Meliala, mba INung, dan mba Erna Karim yang tiga2nya adalah kaprog dan kadept di FISIP UI....WAW....alhamdulillah juga ka Tyas ngebantuin jadi mc, trus ada Rizqan dan Tinton serta LO2 juri dan peserta yang banyak bantu gw, big thanks for you all =)


udah dulu ya....

masih ada PR potluck, VW, dan PLANET

OMG, minggu depan UTS



SMANGAT!!!

Wassalam...
Read More