Hello July!

It's 8 days to Ramadhan, may Allah bless us with health and faith to enter this holy month :)

So, fortunately, I have attended 5 wedding out of 6 wedding invitations from my fellas in NTU, Prasasta, UI and PPSDMS. There was an invitation from my NLYC friend in Bandung, yet I could not attend the reception because it was on the same day with my senior's wedding. I will review all of my wedding reception (and/or) solemnization ceremony that I have attended. This is also a parti of my preparation to soon-to-be the bride. When and where? It is still uncovered, yet better to prepare than not doing anything :D

1. Doni's Wedding at Masjid Al-Bina, Senayan - 07/06

Doni used Minangkabau style in his reception. I rated 6 out of 10 for this wedding, since the place is reachable and pretty strategist. The nuance of Minangese culture was overshadowed by the crowd of people, uninteresting music and so-so decoration. The food is pretty good yet I had not managed to taste all because the catering seemed unprepared for the overcrowded guest and the food was out of stock, like so fast. The auditorium is not that clean. I like the polaroid photos they put in the wall, yet it was not that recognizable.

The make up of the bride and the groom outfit is well, but not that outstanding. Overall, it was an OK wedding reception in my version. Congrats to Doni and wife :)

2. Beffy's Wedding at Graha Insan Cita, Depok - 08/06

I rated 6 out of 10 for Beffy's wedding. The auditorium is too big, yet the food is very little :p I love Beffy's choice of wardrobe and outfit (she wore read Minangese outfits), it made her looks more energetic and beautiful. The music is so-so and the MC seemed unprepared to manage the event. Still, Congratulation to Beffy and husband, hope you will have Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah family :)

3. Kak Imad and kak Fio's Wedding at Panti Perwira, Balai Sudirman- 23/06

This type of wedding is like the relative wedding's I attended. Using the Minangese culture, the type of the make-up, wardrobe, and outfit was pretty well, but not magnificent for me. I really love the Wedding Organizer, so professional. The wedding singer and music were good. I did not taste the food, since I was fasting at that time, yet the choice of the foods are so much. I also found the slideshow of photos and solemnization ceremony very good. I also like the souvenir they gave to the guest. They had plenty of congratulation bucket that the should be managed well. Overall, I rated 8 out of 10 for this wedding. Congratulation to Kak Imad and Kak Fio, hope you will live happily ever after :)

4. Wila's Solemnization Ceremony at Masjid At Tin, TMII - 29/06

Because I can't attend the wedding ceremony, I attended the solemnization at At-Tin Mosque. Wila took the Prayer Floor to be the place of the solemnization. It was very HUGE! I love the decoration, the Palembang style wedding, the make up and the wardrobe. However, the MC failed to conduct the ceremony after the groom said the "Ijab-Qabul". This is my first time I attend my friend's solemnization, it's quite impressive that the guests are not as much as in the wedding reception. I missed the snack and the souvenir at first. Wila looks very beautiful, her husband outfit is also okay. I wonder to have my solemnization in my home or Istiqlal Mosque, hehe.

I give 8 out 10 for this solemnization, congrats Wila and husband, I hope you have a very yuppy life afterward :)

5. Aisyah Iadha's Wedding at Yasmin Center, Bogor - 29/06

My favourite ones, I give 8.5 out of 10! It was very nice, clean and shar'i. Aisyah and her husband were magnificent, the wardrobe and the outfit were suited to the decoration. The food was delicious. Because they use Islamic wedding concept (with the blend of Javanese culture), they play only the sounds of the bird with the poems along the event, instead of the music and wedding singer. The eating place for men and women was separated, while the food in Men's area were also delicious, I was crossing the line to catch up for Nasi Rawon :p The souvenir is OK, yet the guest reception was not that organized. There was some empty spaces in the room that I think can be used to put some decorations and photos of the brides and grooms.

Congratulation Ais and husband, I hope you will have great marriage journey till jannah :)

Read More
Alhamdulillah, program S-2 gw di RSIS sudah selesai. GPA pun sudah keluar, ternyata nilainya ga sesuai target. Nilai paper dua hari dan sehari gw juga jelek (wajar lah ya?). Nilai akhir trimester tiga jauh sekali di bawah dua trimester sebelumnya, GPA gw ga nyampe 8 kalo dirata-rata. But, for me, it's okay.

Sempat gw kecewa, apalagi nilai tesis ga bisa ngatrol banyak, tapi, overall, Alhamdulillah. Bisa selesai tepat waktu dengan tesis dan dapat banyak sekali pelajaran berharga, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari selama kurang lebih satu tahun di negara Singa.

Karena sekolah tidak hanya mencari nilai di setiap mata kuliah, tetapi untuk mencari ilmu agar menambah nilai pada pribadi kita masing-masing.

Selamat belajar (dan mengajar)!

Read More
1 Mei 2013, hari Buruh, jadi hari libur nasional di Singapura. Kebetulan, Istana Presiden open house hari itu, gw ajak aja Mario, Emir, Raisa, Jefrey dan Bang Paulus ke sana. Sebetulnya banyak yang gw ajak tapi pada ga bisa dengan alasan PAPER.

Sebelum ke sana, gw sempat interview NDI yang lokasinya di The Hub, belakang Somerset @313. Karena udah familiar jalan dari Dhobby Ghaut ke Orchard, gw jalan ke Istana, sebelumnya sempat berhenti di kedai smoothie buat mengganjal perut. Sampai di Istana, gw lihat orang sudah ramai yang antri mau masuk. Alhamdulillah, ga berapa lama mereka dateng. Bayar $ 1 untuk foreigner kita masuk ke Istana Sri Temasek. Kalo kata Raisa, istana Bogor jauh lebih keren dari ini. Tapi, karena ini pertama kalinya gw ke Istana Presiden gw senang-senang aja sih. Halamannya luasss, ada tempat main golf, danau dan kebetulan ada  orkestra gratis hari itu. Masuk ke dalam istananya bayar lagi $ 2, katanya retribusi itu mau disumbangin untuk kegiatan sosial. Di dalam istana kayak museum gitu sih, nampilin koleksi-koleksi dan ruang pertemuan presiden. Katanya Presiden Tony Tan Keng Yam lagi ada di dalam istana karena bendera di atas istana dinaikin, tapi ga tau juga ya karena kita ga ketemu beliau.

Selesai keliling Istana, kita ketemu Rini, anak WKWSCI, temannya Mario. Istana kayaknya salah satu tempat tertinggi di Singapura, karena gw bisa lihat CBD dari atas halamannya.

Karena hari sudah menjelang malam, kita pun jalan ke Lucky Plaza untuk menikmati makanan Indonesia. Gw pun makan di Ayam Bakar Presiden (lagi!). Pulang-pulang, sebetulnya masih ada dua paper yang belum dikerjakan, tapi karena kecapekan gw ga jadi ngerjain paper deh. Namanya hari libur, harusnya liburan lah ya :D

Read More
Ceritanya, hari Kamis atau hari Jumat, sebelum senin depannya ujian, gw, Diandra dan Emir ke Jcube. Gw yang lagi puasa pertengahan bulan emang rencana pengen buka puasa di Manhattan Fish Jcube, gw ajak Diandra, katanya dia mau ke Nando's di Bugis, which is jauh bangeeettt. Eh, ternyata di Jcube ada Nando's juga, gw langsung BBM Diandra, akhirnya dia sama Emir nyusul deh ke Jcube.

Gw buka puasa di jalan, ke IMM buat shalat Maghrib dan beli sushi yang Halal (Hei Sushi) sama roti bun gitu. Di Jcube, mereka makan di Nando's gw ke Manhattan Fish. Ternyata, cap yang dikasih mba Yenny baru berlaku untuk kedatangan selanjutnya, ga jadi dapet dessert gratis deh gw. Tapi fish and Chip dan soup of the day-nya enak lho! Selesai makan, kita main-main.

Pertama naik simulator yang kayak Transformer di Universal Studio itu. Terus main ke semacam Fun World. Photo Box khas Jepang dan main Dance-Dance Revolution.

Betul-betul Denial Sebelum Ujian :D

Read More
Ceritanya, 3 tahun yang lalu gw pernah ke Pulau Ubin sama teman-teman APRU gw. Sebab kita semua sudah selesai ujian, sekalian refreshing dan -gw ga suka bilang ini- perpisahan sebelum kembali ke Indonesia, kita, anak2 RSIS Indonesia mengadakan acara jalan-jalan ke Pulau Ubin. Tadinya, yang mau ikut lumayan banyak, tapi beberapa cancel di detik-detik terakhir. Sempet mau ga jadi dan pindah tempat, tapi akhirnya jadi juga :D

Berkat kesotoyan gw, kita yang harusnya naik bis dari Tanah Merah, malah ke Pasir Ris, ga apa-apalah sekali-sekali perjalanan dari ujung Barat ke Ujung Timur Singapura. Untungnya di Pasir Ris ada bis yang ke Changi Village, selama perjalanan pun kita sangat terhibur denga n kehobahan Mbak Mel dan Diandra yang cerita banyak hal. Sampai di Changi Village, panassss, jalan pun lumayan jauh anak-anak udah pada males. Lalu, kita nyebrang ke Pulau Ubin dengan tiket seharga $ 2.5 sekali jalan. Sampai di Pulau Ubin, rencananya gw mau naik sepeda, tapi karena panas banget dan toleransi sama teman-teman yang ga bisa naik sepeda akhirnya kita sewa taksi (minibus) untuk diantar sampai Check Jawa.

Ternyata, jauhhhhh jalannya, alhamdulillah kita pilih naik minibus. Sampai di perempatan Check Jawa, ketemu Babi Hutan aja dong! Emang masih alami banget Pulau Ubin itu. Kita menyusuri rawa-rawa, naik ke menara, lewat trails di deket pantai, teman-teman beberapa pada protes karena kepanasan dan jauh, hehe. Balik-balik ke tempat pemberhentian taksi, kita disambut sama monyet-monyet. Kembali ke Jetty, kita melewati danau yang biru banget, keren! Sampai di Jetty, kita memutuskan ke Pulau Ubin Celestial Resort karena beberapa ada yang mau kayaking dan fish spa (seperti gw dan Emir). Kita ke sana, pantainya lumayan (ada pasirnya!). Gw mencoba kayaking pertama kali bersama Mba Fitri. Lalu kita Fish Spa-an, sementara rombongan Ibu-Ibu (Raisa, Mba Mel, Mba Rena, Wila, dan Mba Ruth) ke IKEA Alexandra, kita nunggu hujan badai reda di Pulau Ubin. 

Malamnya, kita makan di Zam-Zam, ketemu sama Mba Made, Bang Paulus dan Mario. Sempet dimintain tolong turis asal Pekanbaru buat ambil foto di Bugis, kitapun akhirnya punya group photo di Bugis. O ya, selama perjalanan di Bugis, Diandra mempertunjukkan keahliannya baca tanda tangan yang banyak diminati teman-teman. Tadinya, pengen lanjut ke Southern Ridge Trails, tapi kok ya ambisius banget jalan-jalannya hari itu. In the end, everyone's happy and satisfy, Alhamdulillah :D

Read More
Memutuskan untuk ikut FIM 14B di Bukittinggi
Di tengah ketidakpastian apakah gw terpilih menjadi salah seorang NDI Fellow, gw lihat-lihat lagi grup FIM di Facebook untuk mengetahui info tentang jadwal FIM 14B. Ternyata, pelaksanaan FIM 14B dimulai tanggal 31 Mei 2013, yang artinya gw sudah beres ujian.

Kemudian gw cari moda transportasi yang bisa digunakan menuju Padang (dari Singapura). Dari Singapura ga ada lagi flight langsung ke Padang, adanya ke Pekanbaru. Setelah gw tahu ke Pekanbaru memakan waktu 9 jam perjalanan ke Bukittinggi, opsi untuk nyebrang ke Batam pun gw pilih, selain harga pesawat Citilink Batam-Padang cukup terjangkau.

Karena gw udah janji sama anak2 untuk jalan2 ke Pulau Ubin tanggal 1, akhirnya gw baru bisa berangkat ke Bukittinggi tanggal 2. Sempet was-was karena gw harus melakukan perjalanan darat, laut dan udara dalam satu hari sendirian. Alhamdulillah, pas di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, ada kak Weni yang habis nganterin Bu Meutia Hatta ke bandara. Jadilah gw memulai perjalanan di Ranah Minang (yang terakhir gw singgahi tahun 1998) dengan Kak Weni dan Bapak Supir.

Dari perjalanan BIM-IPDN Baso, tempat pelatihan FIM 14B, gw melewati  beberapa tempat menarik seperti air terjun Lembah Anai (satu-satunya air terjun di pinggir jalan raya kayaknya), jembatan kereta Padang-Bukittinggi, sawah (yeah di Singapore mana ada sawah :p), Sate Mak Syukur (berhenti sebentar buat makan di sini) dan lain-lain. Ada satu baliho besar yang menggoda keingintahuan gw, yakni baliho "Thawalib Putri Padang Panjang". Itu madrasah-pondok pesantren putri yang sudah terkenal bahkan ke seluruh dunia, sempet pengen jalan-jalan ke sana, siapa tahu gw mau masukin anak gw ke sana nantinya #visijauhkedepan :p.

Sampai di IPDN, teman2 masih pada sibuk di acara, gw menggunakan waktu untuk beristirahat sampai Maghrib. Malamnya gw ke tempat acara disambut dengan sapaan dan pelukan khas anak-anak FIM. Ah, selalu rindu momen-momen itu :')

Mengikuti pelatihan selama tiga hari berikutnya, termasuk menjadi moderator Pak Yudi Latief dan Pak Arsjad Rasjid serta city tour di kota Bukittinggi. Pas city tour, tujuan awal kita mau ke Danau Singkarak, tapi karena ada Tour de Singkarak, jalannya dialihkan, jadi kita pergi ke Panorama (Ngarai Sianok) dan Jam Gadang. Sebelum ke Ngarai, gw dan beberapa teman panitia sempat diajak Bunda untuk makan Pical Sikai. Pical Sikai itu warung pecel khas Bukittinggi yang namanya diambil dari nama pendirinya (Si Kai : Si Khairiyah, Si Khai -ehm, kayak nama siapa ya :P).

Di Ngarai Sianok kita foto-foto di menara yang banyak monyetnya, sempet pengen turun ke bawah, Great Wall, tapi waktunya atidak memungkinkan. Gw dan teman-teman kemudian menjelajah Goa Jepang, dan catatan waktu yang berhasil gw torehkan untuk turun-naik Goa selama 20 menit (dari 15 menit waktu yang ditantang teman-teman gw, hehe). Sempet bikin Flash Mob maga-maga di Panorama, di mana monyet-monyet takjub menyaksikan "saudaranya" menari-nari ga jelas.

Dari Panorama, kita ke Jam Gadang, yang ternyata penuh badut-badut lucu yang diperankan oleh anak-anak. Gw lebih ke kasihan sih ngeliat mereka, masih kecil gitu udah disuruh kerja sampai jam 10 malam setiap hari :(. Di Jam Gadang itu kita juga Flash Mob (lagi!). Jalan-jalan terus ke Pasar Atas, beli titipan temennya Lala, beli sala lauak, ngintip kebun binatang, dan kembali ke Baso.

Besoknya, gw ke Padang, karena udah janjian sama Nenek yang bela-belain datang dari Jakarta untuk nemenin cucunya jalan. Sore harinya gw jalan-jalan di kota Padang, ngeliat kampus power ranger (Universitas Andalas) yang ada di kaki bukit, ke Jembatan Siti Nurbaya (sepertinya lebih bagus kalau malam) dan makan seafood di Fuja, Pantai Padang.

Besoknya, gw ke Pariaman, lihat ruma neneknya nenek. O ya, ternyata gw sekampung sama Bening, di Kuraitaji, jadi gw ajak Bening sekalian karena dia juga mau ke tempat tantenya di sana. Gw ke tempat Angku Mahyudin, yang selera humor dan wisdomnya ga berubah dari dulu. Lanjut ke Danau Maninjau, berhenti sebentar di Muko-Mukonya, makan kerupuk dan otak-otak khas Danau Maninjau yang enak banget. Ngerasain perjalanan berkelok-kelok di kelok 44. Berhenti sebentar di atas Danau Maninjau, lanjut ke Pariaman lewat jalan alternatif membelah Gunug Tandikek (Tandikat), Kecamatan Malalak yang pemandangannya Subhanallah.

Di Pariaman, kita ke tempat saudaranya Tante Vinny, terus makan nasi kucing (gw lupa namanya apa), jalan-jalan ke Pantai Pariaman terus ke tempat tante Dewi.

Hari terakhir gw di Padang, gw jalan-jalan sama Teesya, beli t-shirt distro khas Minang, ke Museum Adityawarman dan beli oleh-oleh.

Satu kata buat Sumatera Barat: AMAZING! Gw berencana balik lagi untuk menikmati keindahan Pulau di Sumatera Barat, tapi masih belum tahu kapan, soalnya gw lihat fotonya Emir di Pulau Pagang keren banget gitu, berenang di laut, latarnya Bukit Barisan dan Pantai. Gw juga menjadikan Sumatera Barat sebagai tujuan bulan madu gw selain Jogja (saking gw cintanya sama provinsi ini, berarti harus cari orang Jogja jg ya? :p).

Okedeh, sekian #travelingnotes gw di Padang. Semoga bermanfaat!

Read More