Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar kawan2? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat serta tetap semangat menjalani aktifitas.
Apa kabar saya?

Alhamdulillah, keadaan saya hari ini jauh lebih baik dari kemarin maupun beberapa hari yang lalu.
Teman2 yang baca postingan saya sebelumnya mungkin telah mengetahui bahwa beberapa hari ke belakang saya menderita suatu penyakit yang membuat saya susah duduk, bangun dan berjalan. Sampai - sampai saya harus masuk UGD untuk disuntik obat penghilang rasa sakit di pantat saking tidak tahannya.

Ternyata, setelah pulang dari UGD, obat penghilang rasa sakit itu hanya bertahan satu malam. Keesokan harinya, saya mengalami sakit yang sama. Susah duduk, bangun dan berjan. Terkadang, rasanya perih sekali, sampai-sampai saya menangis karena tidak dapat menahan sakitnya. Namun, karena sudah diberikan salep dan obat penghilang rasa sakit beberapa saat sakitnya mereda. Bahkan dua hari kemudian saya memberanikan diri untuk pergi ke Jurong Point sendirian membeli beberapa keperluan.

Tubuh memang tidak bisa bohong. Alih-alih semakin nyaman, sakit saya semakin parah. Hari rabu yang seharusnya saya masuk dua kelas, saking sakitnya saya hanya mengikuti setengah pelajaran jam pertama. Kemudian saya segera pergi ke klinik NTU untuk meminta pertolongan pertama (dengan jalan terseok2). Saya menahan rasa sakit selama perjalanan dari RSIS Student Wing ke klinik NTU.

Dokter klinik pun akhirnya memeriksa dan beliau berkata bahwa abses yang saya derita sudah semakin besar sehingga ada kemungkinan harus dioperasi untuk mengangkatnya. Saat itu saya yang berusaha menahan rasa sakit semakin merasa perih dan meminta untuk disuntik obat penghilang rasa sakit. Akhirnya, oleh suster di klinik saya disuntik obat penghilang rasa sakit (lagi-lagi di pantat). Dokter juga memberikan saya antibiotik (lagi) dan obat penghilang rasa sakit (asam metafamat) serta obat penghilang radang yang lumayan membantu menghilangkan rasa sakit beberapa saat.

Namun, sepertinya obat suntik itu tidak bekerja dengan baik. Sebab saya masih harus terseok-seok berjalan ke kantin B untuk kemudian memanggil taksi yang mengantarkan saya ke rumah. Saat itu saya betul-betul tidak dapat menahan rasa sakit. Sampai di rumah, saya langsung tepar dan berusaha mengompres abses saya dengan alkohol.

Di rumah, saya menahan perih, sambil mencari2 apa alternatif terbaik yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan penyakit saya. Saya mulai browsing dan menemukan ternyata penyakit yang saya derita adalah "bartholyn gland cyst". Penyakit yang sebetulnya pernah saya derita saat saya SMA :'(.

Bartholyn Gland Cyst atau pembengkakan (kista) kelenjar bartholini adalah sebuah pembengkakan yang terjadi di daerah vulva, labia mayora (dinding luar vagina) yang salah satu penyebabnya adalah infeksi bakteri (seperti yang saya alami). Kelenjar bartholini yang normalnya mengeluarkan sekret menjadi tersumbat jalannya akibat infeksi tersebut sehingga menyebabkan pembengkakan di daerah labia mayora. Akibatnya sakit terasa ketika penderita ingin bangun, bergerak dan jalan (bahkan duduk sekalipun).

Saya kemudian mencari klinik wanita yang buka 24 jam dan bisa konsultasi dengan dokternya tanpa harus buat janji terlebih dahulu. Sebetulnya saya sudah ada janji bertemu dokter spesialis obestetri dan ginekologi di klinik wanita NUH, tempat saya direferensikan. Namun, karena janji bertemu pada hari Senin dan saya tidak bisa menahan sakit lagi, saya mencari alternatif lain. Pilihan pun jatuh di KK Women and Chlidren Hospital di mana ada klinik O&G yang buka 24 jam.

Keesokan paginya, saya langsung meluncur ke rumah sakit ini dan bertemu dengan dokter spesialis O&G. Seperti biasa, beberapa prosedur seperti administrasi, cek tekanan darah dan tes suhu tubuh saya jalani. Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya saya dipanggil menuju ruang konsultasi. Dihadapan dokter muda yang modus itu langsung saya papqrkan bahwa saya sepertinya menderita Bartholin Gland Cyst. Dokter itu agak kaget juga, kenapa saya bisa tahu langsung penyakit saya. Saya bilang, sekitar 5 tahun lalu saya juga pernab menderita penyakit yang sama. Dokter itu pun langsung memeriksa saya dan melihat pembengkakan yang sudah berujuran 4-5 cm. Pantas saja, betapa sakitnya saya jika ingin duduk dan berjalan. Dokter pun menawarkan 2 opsi. Operasi atau beliau bisa memberikan obat antibiotik (lagi) dan pengurang rasa sakit. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya adalah menghilangkan penyakit ini sesegera mungkin dan setuntas mungkin. Akhirnya, dengan penuh kesadaran, saya ambil opsi pertama yakni operasi.

Saya kemudian ditanyai riwayat kesehatan, kapan tanggal mens terakhir, adakag alergi obat dan lain sebagainya. Pertanyaan yang kemudian diulang oleh setiap paramedis yang menangani kasus saya sampai masuk ruang operasi. Dokter pun menanyakan usia saya, saya jawab sudah lebih dari 21 tahun. Sebab untuk menandatangani consent form untuk operasi sendiri paling tidak say harus sudah berusia 21 tahun ke atas. Terlihat ragu dengan peraturan ini, dokter itu menemui "boss"nya untuk memastikan bahwa saya bisa dioperasi.
Setelah saya menandatangani consent form untuk operasi, saya keluar ruang konsultasi untuk proses administrasi dan pembayaran. Saya yang baru pertama kali pergi ke rumah sakit untuk operasi (sendiri dan di negeri orang pula) belum tahu mengenai prosedur2nya. Termasuk harus puasa 6 jam sebelum operasi dan ditempatkan di ruang rawat inap (ward bed) selama paling tidak satu hari. Satu hal yang saya tidak pikirkan masak-masak waktu itu adalah perihal biaya. Ternyata, biays yang harus saya keluarkab mencapai 1,5 kali monthly stipend saya. Huaaaa, mahal :'(

Saat itu juga saya langsung menghubungi mama dan meminta ditransfer sejumlah uang untuk menutupi biaya tersebut. Bagaimaba reaksi orang tua dan keluarga saya? Oke, mereka cukup (atau mungkin sangat) khawatir dengan keadaan saya. Namun, saya berusaha meyakinkan mereka bahwa saya baik-baik saja dan operasi yang akan dilakukan hanyalah operasi kecil dan mereka tidak perlu datang ke sini. Tapi, sepertinya ucapan saya tidak cukup menghilangkan kekhawatiran mereka. Orang tua saya pagi ini pun terbang ke Singapur untuk menjenguk keadaan anaknya :')

dan ya, setelah urusan administrasi selesai, saya dibawa ke ruang rawat inap untuk menunggu giliran saya dioperasi. Satu jam, dua jam, tiga jam dan berjam-jam kemudian telah berlalu, masih belum ada kabar dari ruang operasi kapan giliran saya. Selama itu juga saya berusaha menahan sakit yang "arrrrrgggghhhh......." luar biasa, naik turun.

Selama menunggu di ruang rawat inap itu juga saya mengabarkan keluarga saya, mbak Yenny, Emir dan Galan. Kebetulan sekali saat itu Galan akan pergi ke Mustafa yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat saya dirawat. Saya pun meminta Galan untuk mengunjungi saya dan membelikan charger bb di Mustafa karena saat itu saya tidak ada persiapan menginap di rumah sakit sehingga tidak sempat membawa charger.
Saya masih menahan rasa sakit yang teramat sangat sembari menunggu kedatangan Galan dab jadwal operasi saya. Doa, istighfar, tasbih, tahmid, tahlil dan shalawat terus saya lantunkan menjelang detik-detik operasi. Saya percaya, semua terjadi atas izin Allah, oleh sebab itu saya meminta kesembuhan yang sempurna dari sang Maha Penyembuh untuk kesembuhan penyakit saya. Saya juga percaya bahwa penyakit ini merupakan tanda Allah sayang sama saya. Dosa-dosa saya mungkin sedang dicuci habis dengan penyakit ini. Terima kasih ya Allah :')

Sekitar jam 6 kurang, Galan akhirnya sampai di tempat saya. Tidak berapa lama kemudian, suster akhirnya masuk ke tempat saya dan meminta saya untuk ganti baju. Saat itu saya tidak sadar bahwa sudah masuk giliran saya untuk bersiap-siap operasi. Sempat ke kamar mandi dan memakai jilbab, akhirnya dibawalah saya ke ruang operasi oleh suster (yang statusnya masih mahasiswa keperawatan) ke operation theatre.
Sampai di operation theatre ternyata saya harus menunggu (lagi) selama kurang lebih 1,5 jam karena ada kasus emergency, ibu melahirkan dengan operasi caesar. Saya pun kembali menunggu dengan tidak tenang karena masih menahan sakit yang teramat sangat. Kembali, do'a dan dzikir saya lantunkan untuk mengurangi sakit tersebut.

Beberapa kali saya memanggil suster dan menanyakan kapan giliran saya dioperasi. Ada satu suster yang sangat baik sekali melayani saya sebelum operasi. Beliau berkali-kali meminta maaf karena saya harus menunggu lama untuk operasi yang sebetulnya cukup sebentar. Terakhir kali ia menemui saya, ia berkata operasi ibu melahirkannya sudah selesai dan 15 menit lagi saya bisa maauk ruang operasi.
Sekitat 15 menit kemudian, datanglah dokter bedah dan dokter anastesi membawa saya ke ruang operasi yang sebenarnya. Lagi2 identitas, riwayat kesehatan dan penyakit, kapan mens terakhir, ada alergi obat atau tidak dan lain sebagainya. Kemudian saya dijelaskan mengenai dua alternatif anastesi, "ditidurkan" dengan uap atau bius di tubuh bagian belakang (yang mana saya masih bisa melihat operasinya). Dokter juga menjelaskan segala resiko dari masing-masing pilihan. Saya pun memilih untuk "ditidurkan" dengan uap yang menurut saya resikonya paling minimal. O ya, sebelum dioperasi saya diminta kembali menandatangani surat persetujuan tindakan operasi dan anastesi setelah dokter menjelaskan segala kemungkinan resiko yang terjadi pada saat dan pasca operasi. Saya juga sempat di"tes" kesadaran sebelum masuj ke ruang operasi dengan menanyakan identitas, tanggal lahir, nomer kartu identitas dan apa tujuan saya di sana.

Operasi yang saya tunggu-tunggu pun akhirnya berlangsung dengan lancar. Bangun-bangun saya langsung merasakan sakit yang teramat sangat sebab luka bekas operasi. Dokter anastesi pun langsung memberikan suntikan morfin dan beberapa waktu kemudian, saya merasa lebih baik. Waktu pemulihan di ruang operasi berjalan sekitar 45 menit. Saya sadar masuk ke ruang operasi jan 20.05 dan berada di ruang pemulihan sampai pukul 21.54. Cukup cepat bukan? Sepertinya operasi saya merupakan tindakan operasi terakhir yang dilakukan para dokter hari itu. Saya bisa melihat betapa para petugas operasi hari itu lelah sekali dan ingin segera pulang.
Selepas operasi saya masih belum bisa (takut) untuk terlalu banyak bergerak. Alhamdulillah, abses saya telah diangkat dengan sempurna dan saat ini saya sudah bisa duduk, berdiri dan jalan dengan lancar.
Alhamdulillah ya Allah :')

Mohon doanya agar segera pulih ya teman2 :)

Read More
Hari ini saya merasakan sakit yang luar biasa. Sebetulnya sejak dua hari yang lalu, eh tiga hari yang lalu. Tepatnya saat hari pertama menstruasi. Wuow, kram perutnya gila2an, padahal saya rutin jalan kaki dan olahraga di gym seminggu sekali (ga ngaruh ya?)

Iya, saking sakitnya, kemarin saya pergi ke klinik NTU. Di sana, dokternya mendiagnosis saya terkena infeksi di dekat (maaf) dubur. Memang sakit sekali di daerah itu, karena minggu sebelumnya saya mengalami konstipasi dan pada saat BAB pertama saya mengejan terlalu keras. Masuk di akal sih kalau saya terkena infeksi semacam itu. Saya pun diberi obat2an yang banyak dan besar2 (dalam bentuk tablet).

Tapi, keesokan harinya (hari ini), alih-alih sakitnya reda, ternyata semakin parah. Saya sampai susah bergerak dan sulit untuk berjalan. Mengetahui penyakit saya tidak biasa, Mba Yenny, landlord saya berinisiatif mengajak ke UGD. Awalnya, saya ragu ke sana, apalagi hal itu merepotkan Mba Yenny dan Abang (suaminya mba Yenny). Namun, karena sakitnya sudah luar biasa, saya ikut saja dengan usulan beliau.

Dan ya, saya memang harus ke UGD sepertinya. Kami pergi ke NUH (National University Hospital) dan langsung menuju ruang Emergency. Subhanallah, pelayanan kesehatan di Singapura memang TOP BGT! Tidak sampai 15 menit saya sampai, sudah ditangani dengan baik. Mulai dari pra-registrasi (diambilkan kursi roda, karena saya sulit berjalan saat itu, tes suhu tubuh), registrasi dan pembayaran (saya bayar 100 SGD sudah termasuk obat dan dapat subsidi dari pemerintah :), cek riwayat kesehatan di tempat suster, konsultasi dengan dokter hingga mengambil obat. Luar biasa, ga sampai 1,5 jam saya di sana, semua proses sudah dapat dilewati dengan baik. Pelayanannya ramah dan para tenaga medis di sana betul-betul memperlakukan anda sebagai "manusia".

Alhamdulillah, suntikan pain killer di pantat tadi betul2 membuat saya nyaman saat ini. O,ya menurut diagnosa dokter di NUH, saya terkena abses di daerah @#$%^&. Penyebabnya? tentu karena saya cuek dan kurang menjaga kebersihan di daerah tersebut. Oleh karena itu, sakit sekali di daerah sana sampai saya tidak bisa bergerak.

Saya membayangkan pelayanan yang sama baiknya juga bisa diberikan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia, semoga...
Read More
Salam,
Apa kabar semua? Sudah lumayan lama saya ga update blog. Banyak cerita yang mau saya tulis di sini. Minggu ini benar2 "sesuatu" banget buat saya. Mulai dari deg2an presentasi IP6000, survey ke Labrador Nature Reserve bareng Emir, BBQ Party dengan rekan2 Indonesia di RSIS dan NTU sampe dibawa ke UGD gara2 penyakit yang sebetulnya bisa dicegah kalo saya lebih care dengan tubuh saya sendiri.

Di minggu ini pula saya mendapat hasil book review tugas S6007. Ternyata, "kekejaman" mentor saya dalam menilai esai terbukti juga. Untuk pertama kali (dan insya Allah terakhir kali) dalam hidup saya selama kuliah lebih tepatnya, saya dapat nilai "C"! 

Uwow! Nilai "C" saudara2, gimana rasanya? 

Sejujurnya saya udah memprediksi nilai tugas pertama saya itu ga akan dapet di atas B, secara tulisan bahasa Inggris saya masih amburadul banget, grammarnya dan strukturnya masih kacau. Belum lagi saya salah mengintrepretasikan "siapa" penulisnya. Saya kira penulis artikel/buku yang saya review adalah seorang perempuan, ternyata beliau adalah laki2 saudara2. Jadi keliatan banget saya ga niat bikin tugas itu.

Ah, ya, saya janji, ini untuk pertama dan terakhir kali saya dapet C. Insya Allah, seterusnya akan jauh lebih baik dan semoga nilainya bisa naik menjadi A atau A+, amin!
Read More
Hey Blog!
Long time no see, err, long time no write exactly.
How I've been doing? Not so good in last week. I got rejection in a club that I want. Hmm, maybe it's a sign for me to be more serious in study.
What about my study?
it's a ...
boring.
yeah, i am taking two core (and plus one) courses, in which the basic about IPE.
I am now studying the theories and principles of economics (like I did in my undergraduate, or even high school) also the foundation theories of IPE.
I don't really feel get in touch with my class mates. The lecture, albeit he graduated from LSE, maybe because of his ages, you know the class is not really dynamic. *even he just knew that everything can be search in Google*
I am seated in a big class, so it is not very comfortable enough to have a discussion. It must be the persons (yang itu2 aja) who speaks in front of the class. Unfortunately, I'm not (yet) one of them.
So, do you guys have any idea how I supposed to do to enjoy my class?

Oh, well, I supposed to write about my journey to Johor Bahru.
Yes, last week, on Saturday, I went to Johor Bahru. alone. yes, I was crossing the border by myself.
I wanted to ask my friends like Diandra and Emir to join, but I think they wouldn't join me because the night before they were going to Night Festival and might be tired.

I planned to go to Johor as Mbak Yenny (my Landlord) said to me about "how cheap is the prices of goods and foods in Johor". So, I was planning to break my sunnah syawal fasting there. I didn't have any idea where to go in Johor at first. I just googled how to reach Johor from Singapore and what are the good places to eat there.

I departed at a quarter to four pm from house, walked to bus shelter and went to Jurong Point first to change the money, from SGD to RM. After that, I board into MRT to Kranji. At Kranji, I waited (in a long queue) for bus 170. I was waiting for about half an hour for the bus to come. I was very worried if I couldn't use my EZlink card, because I just brought $10 and I might have some trouble to change.

Then, I board the bus (standing) and waited (in a long queue again) to get into Woodlands Checkpoint (Singapore's immigration). Arrived at the checkpoint, I walked upstairs and go to the counter. I didn't realize that actually I can use the self check immigration machine as I hold the Student Card. So, next time I'll go to Johor (or any places abroad), I'll use that machine. After having my student's pass scanned, I went downstairs and waited (again) for my bus to board. -> I think almost half of my journey was about waiting the bus.

So, I board to the bus 170 again and went to Malaysia's immigration just about 15 minutes riding on a causeway (yeah, it is so close!). Going to immigration counter again, my passport was chopped again. This time, the immigration officer asked me to do fingerprints scan, because it is my first time going there (Malaysia to Singapore). He asked to me what I'll do in Johor, I said I'll go shopping and makan. He then said to me "hati2 ya..." In my heart, I said that "I'll be okay and never mind about my safety"... (adventure intuition).

As this is my first time going to Johor, I don't know if the city center is just so near to the immigration checkpoint. I even just can walk to go to famous food courts and malls there. Sadly, I didn't know it and even didn't notice that Singaporeans who board from my bus already made their way there. So, I just go with bus 170 to Larkin terminal.

And Larkin Terminal, is like 15-20 minutes ride from the checkpoint. From the surrounding, I was sure that it must not be the city center. So, after having Ashar pray there (and the condition of the terminal is 11-12 to Terminal Lebak Bulus), I searched for transportation to go to city (in which I didn't notice that it is near to immigration). Because I am afraid to go by taxi by myself, I decided to go by the bus that have a City Square  sign. I paid about 1.70 RM and board to the bus. The bus condition is not as comfortable as SBS Transit, it's more like the patas ac that I used to ride several times in Jakarta. Going from Larkin Terminal to JB town is like riding a car in Cilegon. Many of "untouched" lands there and not so many people driving there.

The bus went to the town and it stopped at the immigration check point. At that time, I didn't notice that citysquare is just the opposite of immigration center. I was going around by the bus and found that many food stalls (in which later I realized it is the place that some websites refer to) and shops there. I just keep telling my self that may be city square is just miles away from there. After like one hour ride, I felt that there's something wrong with the bus route, why it became further away from the town. Still, I just keep on my "adventurer intuition" that city square must be far away from the check points.

The bus kept riding through the "jungle" and I found it nowhere because I didn't get the map and I didn't ask the question to anyone in the bus. So, after one and a half hour getting lost in the bus, I stopped in a place like hawker center, near the gas station in an area called Masai, in which far far away from the town.

Yeah, I was lost!

But, I know that I can go back by Taxi, because I saw some Taxis were having stop to add the fuel there. Not think twice, I just stop the Taxi and asked the driver to bring me to imigresyen. And yeah, the driver was so amazed that me, myself, going around JB alone and get lost in a far far away place. And oh, it was already night (around 8 o'clock I guess). Then, from the conversation with the taxi driver, I just know that the city center is just a walk away from the immigration.

Okay. At least I went to the right way back. I was dropped at city square and my goal was just to find the prayer room (because it's already near the Isya time and I hadn't pray yet). Yeah, there is a prayer room, near the cinema. One of the movie title that I happened to look is "AjiNohMotor", what a funny title!
Coincidentally, I found "Seoul Garden Restaurant" where I really wanted to go and so I was having dinner there.

I eat like many foods and after all I just gave up because it was too many. The restaurant itself has the policy to add RM 5 surcharge for 100gr foods wasted. I managed to leave as little food as I can. Yeah, it was so hard. Never ever take the food that you are not able to finish it !

After my tummy full, I went around the mall. The food stalls are like in Indonesia. There is a J-Co, Starbucks, McD and others. I went back to the immigration which was just a walk away and stopped to buy  some snacks and Roti Boy. Then I departed the bus, going back to Singapore (this time I used CW1 bus, for RM 1 only).

And finally, I arrived at my room, safely. Alhamdulillahirabbilalamin.

Read More