Dua hari ini gw randomly pergi ke Orchard sore-sore sekalian sholat Maghrib di daerah sana. Secara anak kos yang ga bisa masak dan bebas memanfaatkan waktu di akhir pekan tanpa adanya pacar, gw pergi melangalang buana ke jalanan paling hip di Singapura. Tujuan hari pertama sebetulnya pengen ke Food for Thought di Singapore Botanic Garden yang masuk dari arah Tanglin Gate (deket Orchard Road). Tapi, gw punya justifikasi lain untuk beli baterai bb yang rusak ke Far East Plaza. Jadilah, habis sesorean nge-draft presentasi/paper buat hari Selasa tentang Aung San Suu Kyi (doakan aku ya kawan!), gw pergi ke Orchard.

Sampe sana, udah maghrib, gw sholat dulu di RP (Royal Plaza Hotel), yang nyediain surau untuk umum. Letak hotel ini persis di depan Far East Plaza. Dari Orchard MRT tinggal nyebrang via underpass Wheelock Place ke arah Shaw Center. Keluar Shaw Center jalan terus ke arah Scotts Road dan ga jauh udah sampe di lobby depan RP Hotel (yang sekarang depannya masih under renovation).

Selepas sholat, gw nyari baterai bb 8520 yang gw dapatkan seharga $40 (mahal ya?). Rencana gw habis itu pengen makan di Ayam Bakar Wong Solo yang letaknya di B1 Far East Plaza, mojok setelah restoran sushi yang halal itu. Setelah gw browsing2 lagi, gw memutuskan untuk nyari makanan Indonesia di Lucky Plaza karena lebih banyak pilihannya dan gw udah pernah juga nyobain Ayam Bakar Wong Solo di Far East.

Sampe di Lucky Plaza, gw sebetulnya bingung mau makan apa. Mulailah gw bergerilya mencari restauran "Bumbu Desa" yang katanya ada di Lucky Plaza lantai 6. Ternyata, restoran khas suna itu sudah tutup sejak beberapa tahunyang lalu digantikan dengan sebuah restoran Fast Food yang ga ada logo halalnya.

Jadilah gw nyari2 lagi, ke lantai 2. Niatnya mau ke Resto Surabaya atau Indo-Kitchen, pokoknya asal bukan Ayam Penyet Ria! Ternyata, di lantai 2 gw justru menemukan restoran Indonesia yang baru buka, namanya "Bumbu Desa" juga. What a coincidence! Bedanya, ini bukan resto "Bumbu Desa" yang franchise itu, tapi resto milik pribadi yang udah buka cabang pertama di Novena.

Menunya variatif, mulai dari ayam-bebek goreng/bakar, nasi liwet, rawon, sate, gado-gado sampe pisang goreng. Pemilik dan yang masaknya Ibu2  yang berasal dari Sidoarjo-Surabaya, Jawa Timur, so the overall taste is little bit sweety (khas jawa banget). Gw pesen nasi liwet dan es teh manis. nasi liwetnya, kurang kerasa santen-liwetnya. Lauknya ternyata biasa aja, tapi lumayan Indonesia rasanya. Ada mie goreng, kerupuk, semur empal sama ayam gulai (sepertinya). Harga nais liwet $7.9. Sambelnya mantap! Sebetulnya gw pengen pesen ayam/bebek bakar, tapi karena sama si Tante ditawarin nyoba nasi liwet, jadi gw cobain deh. Buat es teh manisnya, rasa teh sariwangi. Sayangnya, utk "ice-tea-o" itu gw dikenakan charge sama dengan "teh susu Jawa" yang harganya $2.5. Agak kecewa sih, secara gw expect harganya ga lebih dari $2. Total yang gw habiskan di resto "Bumbu Desa" ini $10.4 (no tax, no GST).

Pulangnya, gw rencana beli ketoprak dari Indo-Kitchen. Sayangnya udah habis dan gw baru nyadar Indo-Kitchen ga ada logo halalnya. Padahal, menurut beberapa review makanan-makanan di Indo-Kitchen cukup murah dan variatif.

Ternyata, gw ngidam makan ayam bakar sodara-sodara. Tadi malem akhirnya gw jalan ke Orchard lagi. Kali ini tujuannya ke Lucky Plaza, lantai 3, nyobain ayam bakar President. Begitu gw sampe ke lantai 3 (naik dari tangga melingkar, bukan lift atau eskalator), gw langsung liat plangnya "Ayam Penyet Presiden". Restaurannya Indonesia banget! Harganya terjangkau, menunya variatif. Gw beli seporsi ayam bakar (dengan lalap dan tahu tempe, sambelnya bisa minta tambah, mau sambel belacan atau sambel kecap), satu piring karedok dan es teh manis. Tadinya gw mau pesen batagor bawa pulang, sayangnya batagornya sudah habis. Gw kasih rating 5 dari 5 buat restauran ini. Pelayannya ramah, harga terjangkau, tempat bersih dan Indonesia banget! Suka deh sama restauran ini. Recommended! buat yang kangen masakan Indonesia tapi ga bisa masak kayak gw :p

O ya, tadi gw liat Diandra nge-path lagi ada di Bakmi Jakarta di daerah Killiney Road, sayang pas gw googling, resto itu belum ada halalnya. Tapi coba kapan2 ke sana deh.

Sekian petualangan kuliner gw kali ini, mudah-mudahan bisa review tempat makan/resto Indonesia yang oke lagi dalam waktu dekat.
Salam,

ANW

*ps: gw naik 502 pas pulang, and it was amazing bro! Sekali-sekali perlu nyoba naik bus buat lihat pemandangan Singapura dari central ke west di malam hari :D
Read More
dikutip dari tulisan salah seorang teman saya, Danfer (dari blognya)

Ini bukan hanya tentang aku, begitupun bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita. Ya, setiap kita yang sedang bertumbuh, menuju penyempurnaan agamanya. Satu per satu rekan-rekan, kerabat, senior, adik kelas, kenalan menyampaikan kabar gembiranya silih berganti dan berbagi kebahagiaan melalui undangan pernikahannya di tahun ini. Membaca tulisan ini, beberapa kita mungkin menganggapnya galau. Galau kini seolah menjadi terminologi untuk segala pembicaraan terkait konsepsi hubungan, miris. Beberapa lainnya mungkin antusias, seolah mewakili gejolak yang ada di dalam hatinya. Selebihnya, mungkin tak peduli.
Menjadi hal yang wajar, di rentang usia sepertiku, konsepsi terkait hubungan terutama dalam konteks pernikahan sedang ramai dibicarakan. Tulisan ini hadir bukan untuk membangun kegelisahan yang merisaukan, namun mencoba menjadi salah satu sarana kecil membangun persiapan dan sedikit refleksi untuk ku, kamu, dan setiap kita yang sedang , akan, atau telah membangun pernikahan.
Ingin mengawali bahasan dari fenomena yang cukup menarik perhatianku. Beberapa orang yang aku kenal memilih menikah di usia sangat muda, ketika duduk di bangku perkuliahan tingkat 1, 2, 3, 4 hingga masa-masa koas. Sebaliknya, beberapa orang lain yang aku kenal memilih menikah di usia yang cukup matang, selaras dengan pencapaian dan kemapanan kariernya. Fenomena tersebut menjadi sebuah kondisi yang wajar memang. Hal yang kemudian menjadi tak wajar adalah ketika satu sama lain saling membanggakan dan memengaruhi orang lain terkait usia pernikahan mereka. Bahwa menikah muda itulah yang terbaik. Atau justru sebaliknya, kalangan yang menikah di usia matang mencibir mereka yang menikah muda seolah gegabah, terlalu tergesa-gesa. Lantas, manakah yang lebih baik?
Terlalu dangkal menurutku jika kebaikan sebuah pernikahan sekadar dilihat dari segi usia kapan mereka melangsungkan pernikahan. Bagiku, keputusan menikah muda maupun menikah di usia matang keduanya sama-sama baik, sama-sama hebat, tergantung konteksnya.
Menikah muda dengan alasan telah siap lahir batin, menyambung tali kasih sayang, menjaga kesucian dan menjaga kehormatan diri, menghasilkan banyak anak-anak hebat di kondisi orangtua yang masih produktif dan sehat tentu alasan yang tepat. Menikah nanti dengan alasan merasa belum mampu untuk menambah tanggung jawab dan merasa masih mampu menahan gejolak hasratnya sehingga memilih untuk terus mengisi dan memperbaiki diri terlebih dahulu, itu pun baik, sama-sama hebat.
Pernikahan itu bukanlah sebuah perlombaan. Jadi tidak tepat sebenarnya jika masih ada terminologi 'terlambat menikah' ataupun 'terlalu cepat menikah'. Seharusnya semua orang paham bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan. Sayangnya, tetap saja banyak yang masih punya definisi tentang ‘terlambat menikah’, atau sebaliknya ‘terlalu cepat menikah'. Tidak ada standar kapan harus menikah, karena semua orang khas. Jika tiba masanya, maka pasti akan terjadi, begitu pikirku.
Mungkin kita sadar, banyak sekali buku di pasaran yang bertujuan mengajak pembacanya menikah muda. Begitu pula acara-acara seperti seminar, talkshow, yang tema nya tak jauh dari menikah muda pun ramai di datangi. Marketnya siapa lagi kalo bukan anak muda. Karena banyak peminatnya, maka menjadi logis buku dan acara-acara ber genre menikah muda ramai kini kita temukan.
Tak ada yang salah sebenarnya dengan buku atau acara terkait dengan ajakan menikah muda. Hal ini pun aku pikir muncul sebagai solusi atas keprihatinan akan kondisi anak muda masa kini. Daripada terpaut dengan hubungan yang aneh-aneh dan tidak jelas, alangkah lebih baiknya diarahkan untuk menuju hubungan pernikahan. Begitu mungkin simpulan yang aku dapat.
Kalau kita lihat positifnya, para anak muda mungkin akan termotivasi untuk menikah. Termotivasi mempersiapkan kondisi lahir batin untuk bersanding dengan sang pujaan hati. Yang tadinya malas belajar jadi semangat belajar. Yang santai-santai saja mencari penghasilan, jadi semangat dalam bekerja.
Nah, lalu kalau dilihat negatifnya? Aku khawatir semangat menikah begitu menggelora di dada. Hanya terpesona pada kenikmatan yang di dapat dalam pernikahan, namun belum ada persiapan apa-apa. Jangan sampai kita lupa bahwa menikah dikatakan menyempurnakan setengah agama dikarenakan berat perjalanan yang akan dilaluinya. Memiliki persiapan yang cukup, mutlak menjadi keharusan. Bukankah gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan?
Tidaklah cukup menikah dengan hanya beralasan keinginan untuk melindungi dan dilindungi, keinginan untuk disayang dan menyayangi, diperhatikan dan memperhatikan, ditemani dan menemani atau sejenisnya. Menikah bukan perkara sesederhana itu. Menikah adalah perkara tanggungjawab. Siapkah kita menjalani tanggungjawab itu?
Disegerakan, namun bukan tergesa-gesa. Mari kita alihkan energi cinta kita bukan untuk sekadar melihat, bukan hanya untuk memikirkan tentang dirinya yang terbaik bagi kita. Namun untuk mempersiapkan. Meningkatkan kualitas diri. Bukankah memperbaiki diri berarti memperbaiki jodoh? Hal ini berlaku tak hanya untuk laki-laki yang akan menjemput takdir jodohnya. Begitupun dengan perempuan,jangan sampai menunggu hanya digunakan untuk menutupi ketidaksiapan dan membebankan seluruhnya kepada para lelaki.
Lalu bagaimana mengenai perkara seseorang yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas diri, namun masih saja mendapat penolakan dalam menemukan pasangan? Jika benar sudah meningkatkan kualitas diri, menurutku ia tak merugi. Justru yang merugi adalah yang menolak, karena ia kehilangan orang yang serius membangun titik temu dengannya, untuk menggenapkan agama dengan cara yang baik, sedangkan orang yang ditolak hanya kehilangan orang yang memang tidak serius membangun titik temu dengan dirinya.
Jangan risau tentang masa depan, termasuk konteks menemukan pasangan, semuanya ada dalam genggaman Allah. Risaulah jika saat ini kita tidak serius mendekatinya. Sertakan Allah dalam perjuanganmu, karena jodoh itu bukan perkara ada yang suka pada kita atau ingin menikah dengan kita. Ternyata jodoh ialah saat Allah mengerakkan hati dua manusia untuk kemudian berkata ‘Ya Kami siap menikah.' Jangan terlalu khawatir, kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar. Hanya dirimu yang semakin mengerdil. Tenanglah, semata karena Allah bersamamu. Maka, tugasmu hanya berikhtiar! Kelak waktu yang menjadi jawaban atas takdir masa depan kita. Bicara tentang waktu, waktu nampaknya akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu panjang bagi mereka yang gelisah, dan terlalu singkat bagi mereka yang bahagia, namun waktu akan terasa abadi bagi mereka yang mampu bersyukur. Untuk itu bersyukurlah. Syukur bukan hanya perkara terima kasih atas apa-apa yang sudah Allah berikan, melainkan juga tentang berbaik sangka pada Nya. Berbaik sangkalah!
 
Lalu untuk kita yang sudah menemukan pasangan, atau 'calon' pasangannya. Tanggung jawab tak sekadar mencari nafkah bagi lelaki dan mengurus rumah tangga bagi perempuan. Hal seperti itu tentulah lumrah dibicarakan. Hal lain yang perlu juga mendapat perhatian ialah tentang bagaimana menerima pasangan kita dengan sempurna. Sadarilah, bahwa kita tidak pernah bisa menuntut siapapun sempurna, karena sejatinya kesempurnaan adalah kekurangan yang senantiasa diperbaiki, perbedaan yg senantiasa disatukan, perasaan saling yang membuat segalanya tergenapi.Belajarlah untuk senantiasa memahami pasangan kita. Semakin tinggi tingkat pengenalan seseorang kepada sesuatu yg dicintainya maka sesuatu yang harusnya pahit bisa menjadi manis. Engkau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya dan mencoba menjalani hidup dengan caranya. Kelak ketika kau menemukan kekurangannya, cintailah itu. Karena ketika engkau sudah bisa mencintai kekurangannya, kelak ketika kau menemukan kelebihannya, engkau akan semakin mencintainya. Dan cinta, itu akan menguatkan jiwa yang lemah, bukan melemahkan jiwa yang kuat. Ia bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan, bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan, bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. Karena itu, untuk ia yang memutuskan untuk mencintai, ia harusnya tak lagi berjanji, melainkan membuat rencana untuk memberi.
Hal lain yang mendasari konsepsi hubungan, terutama bagi yang sudah menemukan pasangannya, ialah perkara komitmen. Berperasaanlah dengan komitmen, atau berkomitmenlah dengan perasaanmu.Komitmen adalah kunci pembuka pintu mimpi agar hadir menjadi kenyataan. Komitmen adalah sesuatu yang akan membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses. Komitmen yang membuat segalanya mengalir seperti kemauan kita, karena melalui komitmen kita mampu mengendalikan semua hal menjadi lebih baik. Karena komitmen adalah totalitas sebuah perjuangan.
 

 
Read More
Assalamu'alaikum wr.wb.,

Halo semuanya! Apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah SWT :)
Hari ini sebetulnya saya awali dengan ke-galau-an ditambah sedikit bumbu ke-sensitif-an (kayaknya mau dapet sebentar lg :P). Kenapa galau? Hmm, kenapa ya? *mau tau aja :p
*kepo banget sih :P (kepo ternyata berasal dari bahasa Melayu, sama kayak Lebay, haha)

Ya, galau, habis kuliah mau ke mana?
Setelah kemarin sempat diberi harapan yang muluk2 sama seseorang *ceilah. Ternyata, saya harus kembali realistis dan membuat Plan A-Z untuk dunia pasca kampus. Sebetulnya, sebetulnya sebetulnya, saya mau ngapain sih habis S2?

Kalo mengikuti "life-plan" atau rencana hidup yang "lurus-lurus aja", habis ini kalo saya ga ngelanjutin S3, kerja di Consulting Company, jadi Researcher atau jadi dosen. Ga menutup kemungkinan juga saya jadi PNS (berharapnya di Kemlu atau Bi sih :p) atau internship di organisasi2 internasional. Hehe.

Tapi, eh tapiiii.... Setelah meresapi kembali makna kehisupan (ewh, berat bahasanya), maksud saya setelah saya merenung, berpikir dan bertanya kembali pada diri saya sendiri, saya mau ngapain habis ini, hati kecil saya ga bisa dibohongi, kalau sebetulnya, yang saya ingin cari setelah lulus kuliah adalah pengalaman hidup yang ADVENTEROUS! Dalam artian, saya ingin sekali melakukan hal-hal yang sebelumnya ga pernah saya lakukan untuk melihat siapa sebetulnya diri saya. Masih abstrak ya? hehe.

Intinga, saya pengen keluar dari zona nyaman saya! Saya mau melihat dunia lebih luas dari sekedar Jakarta atau Singapura. Saya pengen banget jalan2 keliling Indonesia, naik gunung, tinggal di desa terpencil dan "do something" untuk suatu komunitas/masyarakat di daerah tertinggal. That's why saya menyebut fase after-postgrad-study ini sebagai fase "anti-kemapanan".

Yup,"anti-kemapanan!". Saya pengen habis S2 ini saya melakukan kerja sosial, kerja tp non-profit, bisa ngajar, bantu2 comdev or whatsoever. Tujuannya yang jelas ga nyari duit, karena toh duit ga selamanya buat kita bahagia (walaupun bisa beliin kita es krim/coklat yg bisa buat perasaan kita bahagia :p). 

Saya pengen banget habis S2 ini meng"eksplore" segala potensi yang ada di diri saya, mulai dari belajar agama, tafsir, hafalan Qur'an-Hadist, studi tentang Islam, Politik dan Feminisme/Gender lebih dalam lagi (my favourite issues), belajar seni peran, seni tari, seni musik, sampe naik gunung!
Pokoknya, saya ga mau terjebak dalam "lingkaran-kemapanan" terlebih dahulu karena saya masih muda dan saya ingin menggali potensi saya sebanyak2nya.

Terkadang, hidup memang harus memilih untuk melakukan hal2 yang extra ordinary. Sebab hidup hanya sekali dan saya ingin hidup yang sekali ini bermakna bagi orang banyak.

Doakan aku ya kawan :)

Semoga Allah selalu membersamai setiap langkah dan keputusan dalam hidup kita, amin :)

Salam,

ANW







Read More
A very special gift from my best friend :)

Read More
"Rabbi adkhilni mudkhala shidqi, wa akhrijni mukhraja shidqi, warzuqni miladunka sulthanannashira."

"Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnatthiba'ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj thinabah."

"Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairil munzilin."

Tiga doa ini adalah doa yang saya usahakan untuk baca setiap shalat. Ketiga doa ini memiliki arti agar Allah senantiasa menunjukkan jalan kebaikan dan menempatkan kita di tempat2 yang baik serta selalu memudahkan urusan kita. Amin.
Read More
Setelah membaca buku "Islam, Nationalism and Democracy: A Political Biography of Mohammad Natsir" karya Audrey A. Kahin, saya jadi benar-benar mengidolakan sosok Pak Natsir. Beliau adalah mantan Menteri Komunikasi dan Perdana Menteri di era Soekarno serta salah satu pengurus Partai Masyumi (partai Islam terbesar di Indonesia tahun 1950an). Beliau HEBAT!

Seorang intelektual muslim yang memiliki jiwa ke-Indonesia-an yang tinggi. Beliau menjadi sosok yang sangat saya kagumi, sebab beliau betul-betul pemikir dan pejuang sejati. Beliau humble dan teguh memegang prinsip.

Saya sangat mengidolakan beliau sampai2 saya bilang ke teman saya bahwa jika diperkenankan, saya ingin mencari sosok pendamping hidup seperti pak Natsir. Kehidupan Pak Natsir yang direkam oleh Audrey Kahin menggambarkan keteladanan beliau dalam berbagai bidang. Dalam kehidupan sosial politik, beliau sangat disegani. Beliau adalah seorang pejuang yang berani melawan tirani. Beliau juga mampu menjaga prinsip2 hidup yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Beliau juga merupakan sosok yang patut diteladani dalam kehidupan pribadi. Beliau setia dengan istrinya (60 tahun perkawinan). Beliau bisa menjadi panutan yang baik bagi anak2nya (kehangatan beliau menyapa anak2nya lewat surat dan sifat kesederhanaan yang beliau ajarkan kepada anak2nya sangat mengesankan bagi saya).

cover buku

Semoga saya bisa mengikuti langkah hebat Pak Natsir dan mengikuti jejak perjuangan beliau dalam kesederhanaan :)

"Happiness was not derived from wealth and ease, but from a heart that was free from opposition" - M. Natsir
Read More
Tesis akhirnya sudah disubmit.
Setelah sempat galau dua minggu sebelum pengumpulan dan memutuskan mengganti pertanyaan permasalahan menjelang deadline, alhamdulillah kelar juga :D
Semoga hasilnya memuaskan dan layak untuk dipublikasikan, amin :)

cover depan


Read More