Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ramadhan Mubarak :)

Baru ada mood (dan kesempatan) nulis blog lagi, padahal banyak yang nunggu update dari gw ya? :p

So, setelah sempat balik ke Jakarta seminggu untuk nyoblos, NLC dan bertemu beberapa teman, saya kembali lagi ke habitat saya saat ini, di sebuah kamar blok 646, Jurong West st. 61, #04-146. Tepat seminggu pula saya resmi menjadi mahasiswa baru di S.Rajaratnam School of International Studies, NTU, jurusan International Political Economy. Besok bertepatan pula dengan D-10 Ramadhan 1433H.

Yeah, tahun ini full Ramadhan akan saya lewatkan di negeri orang (Negara Singa) kecuali mungkin buka puasa terakhir a.k.a Malam Takbiran yang akan saya jalankan di Jakarta :D

Sebetulnya, momen puasa di negeri orang kali ini bukan kali pertama saya rasakan. Saya sudah dua kali sebelumnya berpuasa dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan di luar negeri. Pertama kali saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di luar negeri, ketika berada di Arab Saudi tahun 2002. Waktu itu, kebetulan orang tua saya mengajak umroh sekeluarga dan bertepatan dengan akhir Ramadhan, sehingga saya sempat mengalami puasa dan lebaran di Arab Saudi.

Selanjutnya, tahun lalu, saya sempat berpuasa di Korea, ketika saya mengikuti acara Global Model United Nations. Berpuasa di Korea selama kurang lebih 10 hari, alhamdulillah bisa menjadi latihan bagi saya untuk survive menjalani ibadah Ramadhan di negeri yang mayoritas non muslim.

Dan sekarang, saya ada di Singapura, dalam rangka melanjutkan studi yang dimulai bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Alhamdulillah, walaupun Singapura penduduknya mayoritas non-muslim, namun karena etnis Melayu "menguasai" 15-20% negeri ini, tidak begitu sulit untuk berpuasa di sini. Selama 9 hari ke belakang, saya sudah "menikmati" berbuka puasa gratis di tiga masjid, yakni Masjid Sultan di daerah Bugis, Masjid Al-Falah di daerah Orchard, dan Masjid Assyakirin di daerah Lakeside.

Dari ketiga masjid itu, saya paling suka dengan masjid Assyakirin, selain masjidnya luas dan bagus (dan mewah), makanan yang disajikan cocok dengan mulut saya. Mungkin karena mayoritas yang berbuka di sana adalah orang Melayu, sehingga makanan yang disajikan juga makanan Melayu. Sementara di masjid Sultan menu utama yang disajikan adalah Nasi Briyani (masakan India) dan di masjid Al-Falah disajikan kari dan roti (masakan India juga). Bulan puasa ini memang betul2 cocok bagi mahasiswa yang berkantong pas2an seperti saya karena hampir setiap masjid menyediakan buka puasa gratis, tidak hanya ta'jil tetapi juga   makanan utama.

Puasa di sini dimulai sekitar pukul 5.45 AM (setara jam 4.45 WIB) dan waktu berbuka ialah sekitar pukul 7.17 PM. Kebiasaan di sini, berbuka puasa selain ta'jil langsung memakan makanan yang berat, sehingga shalat Maghribnya agak terlambat. Waktu isya' di sini sekitar pukul 8.30 PM, selesai Tarawih rata2 bisa sampai jam 10.00 PM, sebab rata2 Masjid di sini melaksanakan Tarawih 20 Rakaat.

Sebetulnya saya agak kurang sreg dengan kebiasaan langsung berbuka dengan makanan berat, maka dalam beberapa kesempatan buka puasa saya makan ta'jilnya dulu atau membatalkan dengan minum air putih dan teh lalu shalat Maghrib dan kemudian makan makanan berat.

Hari pertama saya puasa, malam sebelumnya shalat Tarawih di lapangan beratap yang di"sulap" menjadi Mushola sementara untuk shalat Tarawih (dan shalat Idul Fitri pada 1 Syawal) yang terletak persis di belakang blok saya tinggal. Alhamdulillah, saya bersyukur tinggal di lingkungan yang kondusif untuk berpuasa dan menjalankan ibadah shalat Tarawih. Malam itu, saya untuk pertama kali mengikuti shalat Tarawih full 20 Rakaat.

Buka puasa hari pertama saya lakukan di Masjid Sultan bersama Aul dan Mumut, yang kebetulan sedang menjadi turis di sini. Makanannya, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, nasi Briyani, saya agak kurang cocok sehingga akhirnya saya membeli nasi Padang di Restoran Minang di belakang Masjid Sultan. Btw, saya sempat melihat Kak Rully di Masjid Sultan, sayang tidak sempat menyapa. O, ya di Masjid Sultan ini saya juga sekalian Tarawih, tapi hanya 8 rakaat saja, kalau ikut 20 rakaat tatkut pulang kemalaman :))

Keesokan harinya, kami pergi ke Orchard, di Masjid Al Falah untuk berbuka puasa. Menunya menurut saya lebih oke di Masjid Sultan, ada puding, buah2an dan tentunya "bubur masjid". "Bubur Masjid" ini memang khas dibagikan setiap berbuka puasa di setiap masjid, semacam bubur dicampur kuah kari, tapi rasanya agak kurang cocok di lidah saya., jadi saya tidak pernah mengambilnya. Hari kedua ini, karena Aul dan Mumut mau melihat Water Fall show di Marina Bay, jadi kami shalat Taraweh di rumah.

Masjid Assyakirin sebetulnya sudah saya kunjungi hari ketiga Ramadhan, tapi tidak sempat berbuka puasa di sana, sehingga Jumat lalu saya baru ke sana lagi dan menikmati menu buka puasa di sana. Makanannya menurut saya paling cocok di lidah. Menu utamanya nasi rendang+sayur+orak arik kentang. Ta'jilnya berbagai macam buah (plus kurma) dan kue2 basah. Minumannya sirup dan teh (teh susu maksudnya). Alhamdulillah, menunya cocok sehingga bisa makan banyak #eh.

Kemarin saya diajak oleh rekan saya ke KBRI, kebetulan KBRI memang ada agenda buka puasa bersama (literally means buka puasa, sehabis makan pulang :D) Saya ke sana bersama Emir, Andi Menwa (HI 2006) dan Patrya (HI 2006). Menu buka puasa di sana disediakan oleh Minang House yang disponsori oleh Ikatan Ibu2 BUMN Se-Singapura (bahkan gw sampe hafal karena disebut terus sama MCnya :p) Ketemu banyak orang Indonesia tentunya di sana. Kalau di KBRI, sistem buka puasanya makan ta'jil dulu, shalat Maghrib, lalu makan makanan berat. Saya paling suka menu ta'jilnya ada kue eclair yang coklatnya langsung meleleh kalau dilumat, mantap!

Yah, sebetulnya Ramadhan di sini asik2 aja, ga ada hambatan yang berarti buat puasa di sini, karena toh banyak juga orang yang puasa. Selain itu, saya jadi lebih "religius" karena ya di tengah2 masyarakat yang mayoritas non muslim, buat menjalankan kewajiban sebagai muslim kalo dipikir2 lumayan berat, apalagi kalo ga kuat iman. That's why saya lebih merasa bertanggung jawab sama ibadah saya karena di sini yang bakal ngingetin lo puasa atau ngga, lo shalat atau ngga, lo ngaji atau ngga ya cuma diri lo sendiri. Lingkungan sekitar cuma membantu menjaga lo aja. Seperti yang gw rasakan, ya kalau mau dekat sama lingkungan yang kondusif, ya dekat2lah dengan orang2 dan lokasi yang kondusif (baca : masjid). Semoga bisa istiqamah terus dalam ibadah di mana pun kita berada. Amin. 

Read More

Only a day left before millions of Jakarta’s citizen choose their new governor. Within these few months, the six candidates have campaigned through many ways. Even the official campaign just started about a week ago, the advertisements have been shown since several weeks ago. From mass media to social media, all candidates are trying to get the voters as many as they can. On their choice to use media campaigning tools, actually we can foresee how the candidates will govern Jakarta in the next five years.

Some candidates are still using the ‘traditional ways’ through putting their faces in posters, flyers, billboards and other printer materials. They also use TV, radio and other mass media placement to introduce themselves to public. By using mass media and all printed materials, it could be the effective ways to get many voters, especially from lower middle class group. The lower middle class people are easy to be influenced through “provocative slogans” and word of mouth. If the candidates put on their faces everywhere, it will be easier for them to be identified. Moreover, the lower middle class citizens do not really care on the candidates’ backgrounds. They prefer to choose the candidate who is familiar for them.

In fact, by using many printed advertisements, it shows that the candidates do not care enough to the environment. They might not consider the “go green” trend, which many of Jakarta’s citizens start to aware about environmental issues. They kind of unaware that using many printed materials for their campaign could give negative impact in their view about environmental issues. If they consider the environment that much, they will reduce using printed advertisement and started to use alternative media for campaign.

Meanwhile, we know that only two main problems in Jakarta that need to be solved immediately, which are traffic jam and flood. Traffic jam and flood are the two main problems in Jakarta that is related to environment. Logically, if the governor does not care enough to the environment, how can he solve the problem of traffic jam and flood in Jakarta? Moreover, if the candidates are using too many printed materials, it means that the candidates are easy to spend money for things that might be unimportant.

Despite using printed advertisement and mass media placement, some candidates are also using the social media. Usually, they are seeking the attention from the young people. They also invited some celebrities in social media to give an endorsement to support their candidatures. This shows how the candidates are very aware with the movement of information and technology. Campaigning through social media also means lesser cost with hopefully a huge effect. The candidates who are using social media intensively usually will get the attention from young people and upper middle class group. But, the candidates will be difficult touch the grass root people who are illiterate to social media.

The candidates who are using social media usually have segmented and exclusive voters. They will only gain big support from upper layer citizens. If they are chosen, they will take the job as effective as they can. They will prioritize the interest of upper middle class to make the city more modern and conform. They will follow the trend that happens in other metropolitan cities worldwide. Not to mention, they might do the “copy and paste” system to solve the problem in Jakarta from other metropolitan cities. It means they will have little clue on local character and grass root problems.

The way the candidates persuade the voters likely reflects how they will govern in the next five years. Media campaign is still becoming an effective tool to reach the voters. While the official campaign is just begun in last two weeks, the candidates were making the campaign through media. From their media campaign tools choice, at least we could foresee how they will govern in the next five years. 
Read More
Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

Halo semuanya, apa kabar? Udah ga sabar ya baca postingan baru saya? hehe *geerdotcom
Alhamdulillahirabbilalamin, tepat seminggu sudah saya berada di Negara Singa a.k.a Singapura untuk melanjutkan studi S2 saya di RSIS NTU :) Too many stories to be written. I am sure that you must be very excited reading my stories in here *lagi2geerdotcom (hahaha)

Yes, this it. Sinjiapo!

Ternyata datang kemari bukan tanpa kegalauan. Setiap hari saya selalu ditemani perasaan "galau" karena beberapa hal. Mulai dari galau mencari housing (tempat tinggal), galau menunggu IPA, galau menunggu hasil tes kesehatan, galau daftar ulang, galau kuliah sampai galau mencari pacar #eh (yang terakhir diskip aja, haha).

Ternyata saudara2, persiapan kuliah S2 itu tidak semudah yang saya bayangkan. Well, dari awal daftarnya pun dipenuhi berbagai kegalauan. Kapan2 akan saya posting mengenai bagaimana tips dan trik mencari beasiswa S2 and how to win the scholarship you want, pasti banyak yang mau baca kan? :)

Ok, balik lagi ke judul tulisan saya kali ini, Selamat Datang di Singapura! Saya akan menceritakan beberapa kejadian penting (dan ga penting) selama saya berada di sini, seminggu ini :)

Iya, dan tulisan ini sempet kepending beberapa kali karena banyak hal yang harus dikerjakan (sok sibuk gitu deh, hahaha)

Saya datang kemari tepat tanggal 2 Juli 2012, menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 828. Awalnya, saya berencana berangkat bersama Emir, rekan seangkatan HI UI 2008 yang juga dapat beasiswa dari RSIS untuk Research Analyst dan Galan, HI UGM 2007 yang juga mendapat beasiswa Bakrie Graduate Fellowship. Sayangnya, karena ada kesalahan dari pihak Garuda dalam issuance tiket (dan karena Emir datang terlambat juga) akhirnya penerbangannya ditunda jadi penerbangan selanjutnya. Saya pun pergi duluan bersama Galan, walaupun kita satu pesawat tapi karena kita telat cek in jadi ga dapat tempat duduk yang berdekatan.

Akhirnya sampailah saya di Singapura sekitar pukul 14.20 waktu setempat. Oiya, sebelumnya saya mau cerita, bahwa untuk mendapatkan izin belajar di Singapura, seseorang harus punya Student Pass, semacam visa untuk mahasiswa dan pelajar yang ingin sekolah di sini. Nah, untuk mengurus student pass, kita harus apply online, tunggu approval dari pihak imigrasi lalu mendapatkan surat In Principle Approval (IPA) yang akan dikirimkan langsung pihak imigrasi ke universitas/politeknik/sekolah tempat kalian akan belajar. Masalahnya, sampai saya berangkat, saya masih juga belum mendapatkan IPA letter dari pihak ICA (imigrasi Singapura) maupun dari NTU. Padahal, Galan dan Emir sudah mendapatkannya beberapa hari sebelum kami berangkat. Galau lah saya soal student pass. Maka dari itu, pada keberangkatan saya ini saya tidak banyak barang yang dibawa, karena saya menganggap ini sebagai lawatan awal sebagai turis B-) #likeaboss. haha. Jadi, ketika Galan sampai di imigrasi Changi menunjukkan IPAnya, saya ngeloyor begitu aja setelah dapat stamp izin social visit selama 30 hari. Kegalauan ini makin menjadi sampai beberapa hari kemudian saya masih belum dapat IPA ----> #kegalauan1

Itu soal IPA, kedua, saya merasakan kegalauan yang amat sangat masalah tempat tinggal. Sampai hari Jumat, sebelum keberangkatan saya hari Senin, saya masih belum mendapatkan pengumuman dari pihak Office of Housing NTU yang mengurusi masalah Graduate Hall (asrama khusus mahasiswa pasca sarjana). Pikir saya, optimis saja pasti dapat Gradate Hall, karena penerima BGF yang tahun lalu dua-duanya dapat di GradHall. Untungnya, saya berkorespondensi dengan pihak administrasi RSIS yang menyarankan saya memesan hotel untuk tempat tinggal sementara. Jadi, saya pesan hostel untuk 4 hari di daerah Lavender, bernama Pillow.Talk Hostel seharga SGD 24/malam. Sementara Emir dan Galan mengandalkan tumpangan dari Yoes, senior di RSIS yang statusnya juga sama seperti Emir, mendapatkan beasiswa Research Analyst untuk kerja part time di Indonesia Program. Ternyata, malam pertama saya sampai di hostel, langsung die-mail dari pihak GradHall bahwa saya tidak dapat GradHall :( jadi deh housing -----> #kegalauan2

Sampai di Changi, saya dan Galan menunggu Emir yang flight dengan penerbangan selanjutnya. Sudah agak lama menunggu dari kedatangan pesawatnya Emir di Changi, kok dia belum keluar2 dari imigrasi? Ternyata, dia dihubungi oleh Yoes yang kebetulan ada di Changi juga baru balik dari KL bersama Verra, research analyst di Indonesia Program yang juga suka berkorespondensi dengan saya dari mulai ikut seleksi untuk beasiswa di RSIS ini. Alhamdulillah, di bandara kami ketemu mereka. Mereka agak shock juga mengetahui Emir dan Galan tidak punya preparation apa2 untuk housing. Mereka awalnya ingin menginap di tempat Yoes, tapi di Singapura ini, kita tidak bisa sembarangan menumpangi orang untuk menginap, karena satu dan lain hal yang akan yang akan saya ceritakan lain kali. Akhirnya, mereka menginap juga di hostel tempat saya menginap. Sepanjang perjalanan, Verra dan Yoes tidak habis bercerita tentang berbagai pengalaman mereka hidup di sini dan bagaimana cara mereka beradaptasi. Nah, dari cerita mereka pulalah timbul kegalauan yang berkelanjutan. Setelah IPA dan Housing, ada lagi kegalauan tentang cek kesehatan (#kegalauan3) yang hasilnya akan sangat menentukan apakah kita bisa studi di sini atau tidak. Selanjutnya, ada kegalauan akademik yang mungkin akan banyak saya bahas di postingan2 berikutnya. Intinya, untuk hari pertama, walaupun sangat capek tapi berjalan cukup menyenangkan, Alhamdulillah :)

Hari kedua, kami pergi ke NTU untuk melakukan registrasi awal di International Student Center dan tes kesehatan yang hasilnya baru bisa diambil dalam waktu 7 hari ke depan. Tes kesehatan ini adalah requirement untuk matrikulasi (daftar ulang) dan mengurus Student Pass. Setelah tes kesehatan, kami kemudian mulai mencari housing di daerah sekitar Jurong West (semacam daerah Margonda kalau di UI). O, ya NTU ini mirip sekali dengan UI, kampus yang hijau dan luas sekali, letaknya terpencil di ujung Singapura (well, Depok dulu terpencil juga sih kata orang2, tempat jin buang anak :p), ga heran kalau teman saya, Agung, yang pernah exchange ke NUS bilang kalau nanti saya cuma bisa gaul sama enci2 dan kokoh2 :D

Jadi, malam itu saya viewing tempat yang memang direkomendasikan oleh kak Dinar, senior saya di BEM UI 2010 dulu yang juga keterima S2 di Wee Kim Wee School of Communication and Information NTU tahun ini. Awalnya, jika tempat yang saya akan kunjungi ini cocok, kami akan tinggal bareng (sharing room). Ditemani Verra, saya berkunjung ke tempat itu. Tempatnya oke, luas, bersih. Sayangnya, saya agak ngeri karena tenant yang lain adalah pasangan suami istri, di mana ownernya juga suka ngerokok dan pelihara kucing. Padahal kak Dinar anti banget sama rokok dan kucing :( Jadi, kalaupun saya ambil tempat itu, saya harus sewa untk sendiri. Sebab harganya yang kemahalan dan takut karena penghuni yang lain adalah suami istri, saya tidak jadi ambil tempat itu. Memang, memilih housing itu seperti memilih jodoh, siapa cocok, dia dapat :D #quotedfromVerra

Jiah, malam kedua saya galau housing. Emir dan Galan pun sama. Jadi, di sini sistem housingnya itu menyewa kamar di salah satu HDB (apartemen subsidi pemerintah). Nah, tiap HDB ini rata2 punya 3 kamar. Ada yang disewakan semuanya, ada juga yang ada ownernya dan disewakan hanya beberapa kamar. Malam itu saya juga sempat liat ke tempat Verra, yang saya sebetulnya naksir banget karena dia tinggal di HDB yang tidak ada ownernya dan tenantnya adalah orang Indonesia (female) semua :D Ditambah pemandangan yang oke dan kamar luas+AC, makin ngiler deh saya. Sayang, Verra juga belum tentu mau pindah karena kemungkinan masih mau stay di Singapura setelah lulus. Jadi, malam itu, saya mencari info sebanyak2nya tentang housing, dengan keyword, room rent, jurong west, female indonesia, saya googling dan masuk ke beberapa situs penyewaan rumah di Singapura. O,ya bagi yang mau cari housing di sekitar NTU, selain website yang disediakan kampus, gabung di milis Indo-Sing juga berguna banget. Selain itu, info juga saya dapat dari searching di Public Folder NTU (namun untuk masuk ke sini harus pake akun NTU). Mulailah saya bergerilya kirim sebanyak mungkin sms ke prospective owner / agent. Ya, karena di sini sesistematis itu, lebih banyak agen yang aktif mencari tenant. Ga enaknya kalau lewat agen, bayar sewa pertamanya jadi lebih mahal, karena ada agent fee, seperti tempat saya viewing pertama kali itu.

Memang, kalau jodoh ga akan ke mana #eh. Besok paginya, saya dapat BBM dari ka Dinar (o, ya BBM saya aktif karena di sini bisa pake SingTel atau StarHub yang menyediakan layanan BlackBerry Prepaid Data Plan :D) bahwa beliau diterima di GradHall. Alhamdulillah, karena sebetulnya ka Dinar sudah punya room rent di dekat MRT Pioneer yang ada shuttle bus langsung ke NTU. Nah, jadi saya minta kontak ownernya langsung untuk dihubungi. Inilah ternyata jawaban dari Allah untuk #kegalauan1 saya. Saya kemudian mengontak Mbak Yenny, yang ternyata masih saudara dengan teman SD dan SMA saya, yang merupakan owner tempat ka Dinar rent room pertama kali. Sore itu langsung, saya ditemani Roswitha pergi ke tempat Mbak Yenny untuk viewing. Alhamdulillah, lihat tempat dan suasananya langsung cocok, feels like home :) Fasilitasnya oke, harganya terjangkau untuk sewa sendiri. Walaupun sudah merasa nyaman, tapi saya masih belum mengiyakan saat itu juga karena mau viewing beberapa tempat lain. Kemudian saya viewing 2 tempat lain, yang punya orang Melayu. Memang, tidak ada tempat se-oke yang sekarang, jadi saya langsung kontak Mbak Yenny besoknya untuk konfirm sewa kamar di sini :) Alhamdulillah, #kegalauan1 teratasi.

Lanjut, ke #kegalauan2, sampai hari Jum'at saya masih belum dapat e-mail soal IPA. Saya berusaha menenangkan diri dengan berjalan2 keliling tempat saya tinggal dan pusat kota Singapura. Di dekat tempat tinggal saya ada Jurong West Sports Complex yang oke banget, ada stadion, kolam renang, gym, lapangan badminton, dll. Wah, asyik sekali kan? Sepertinya olahraga di sini akan sangat menyenangkan dan semoga resolusi saya untuk menurunkan berat badan bisa berhasil *amin*. Selain itu, saya bersama Galan dan Emir keliling pusat kota Singapura mulai dari Bugis Village-Masjid Sultan-Esplanade-Merlion sampai Clark Quay dengan berjalan kaki! Cukup membakar lemak saudara2 :D

Weekend kemarin saya isi dengan jalan-jalan (lagi), Sabtu ke Orchard dan Minggu ke Orchard lagi. Tapi, Minggu saya pergi bareng Dira, anaknya Bunda Tatty dan Pak Elmir, pembina FIM yang ternyata saya temui setelah ikut pengajian IMAS di KBRI :D Wah, alhamdulillah banget, hari Minggu itu ketemu Bunda Tatty, Dira, kak Ridwan (FIM 12) dan tante Attie (teman Bunda yang tinggal di SG). Menyengangkan sekali hari itu, jalan2 ke Esplanade (lagi) dan Orchard (lagi) dan bercerita banyak sama Dira :D Alhamdulillah, jadi nambah jaringan juga karena tante Attie ternyata ngajakin gabung di perkumpulan orang Minang di Singapura (kalau kata Bunda itu penting untuk ikut komunitas perantauan di negeri orang :D). Secara Ibu saya orang Minang, ya saya juga terhitung sebagai Orang Minang lah :D (oke, agak sedikit primordial :p)

Alhamdulillah, malam itu juga saya cek ke website ICA, ternyata IPA saya sudah diapproved. So, #kegalauan2 terselesaikan. Walaupun saat itu saya belum dapat suratnya, tapi sudah lega setidaknya, sebab malam itu saya dengar cerita dari kak Ridwan, imigrasi Singapura agak random dan strict. Mereka akan menolak aplikasi jika mereka tahu kita pernah berhubungan dengan gerakan2 tertentu, seperti gerakan separatis, fundamentalis, dll. Bahkan saya dapat cerita dari Yoes, temannya yang bekerja di majalah islam garis keras ditolak aplikasi Student Passnya dan akhirnya harus pulang ke Indonesia walaupun dia sudah diterima dan dapat beasiswa di sini. Jadi, malam itu saya googling nama saya dengan keyword tertentu. Agak deg2an juga karena muncul tautan2 yang berkaitan dengan hal2 yang seperti itu. Tapi, Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terjadi, dan saya tetap dapat IPA letter esok harinya meminta langsung ke Graduate Student Office :)

Hari senin, saya ambil IPA dan cek kesehatan. Alhamdulillah, saya lolos cek kesehatan, terima kasih Allah, #kegalauan3 saya teratasi. Jadi, sudah cukup lega saya untuk bisa registrasi hari ini dan buka akun bank :)

Alhamdulillah, walaupun sempat ada kegalauan di awal tapi semua berjalan lancar. Terima kasih Allah yang Maha Baik :)







Read More