Ramadhan di Negeri Orang (part 1)

No Comments
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ramadhan Mubarak :)

Baru ada mood (dan kesempatan) nulis blog lagi, padahal banyak yang nunggu update dari gw ya? :p

So, setelah sempat balik ke Jakarta seminggu untuk nyoblos, NLC dan bertemu beberapa teman, saya kembali lagi ke habitat saya saat ini, di sebuah kamar blok 646, Jurong West st. 61, #04-146. Tepat seminggu pula saya resmi menjadi mahasiswa baru di S.Rajaratnam School of International Studies, NTU, jurusan International Political Economy. Besok bertepatan pula dengan D-10 Ramadhan 1433H.

Yeah, tahun ini full Ramadhan akan saya lewatkan di negeri orang (Negara Singa) kecuali mungkin buka puasa terakhir a.k.a Malam Takbiran yang akan saya jalankan di Jakarta :D

Sebetulnya, momen puasa di negeri orang kali ini bukan kali pertama saya rasakan. Saya sudah dua kali sebelumnya berpuasa dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan di luar negeri. Pertama kali saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di luar negeri, ketika berada di Arab Saudi tahun 2002. Waktu itu, kebetulan orang tua saya mengajak umroh sekeluarga dan bertepatan dengan akhir Ramadhan, sehingga saya sempat mengalami puasa dan lebaran di Arab Saudi.

Selanjutnya, tahun lalu, saya sempat berpuasa di Korea, ketika saya mengikuti acara Global Model United Nations. Berpuasa di Korea selama kurang lebih 10 hari, alhamdulillah bisa menjadi latihan bagi saya untuk survive menjalani ibadah Ramadhan di negeri yang mayoritas non muslim.

Dan sekarang, saya ada di Singapura, dalam rangka melanjutkan studi yang dimulai bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Alhamdulillah, walaupun Singapura penduduknya mayoritas non-muslim, namun karena etnis Melayu "menguasai" 15-20% negeri ini, tidak begitu sulit untuk berpuasa di sini. Selama 9 hari ke belakang, saya sudah "menikmati" berbuka puasa gratis di tiga masjid, yakni Masjid Sultan di daerah Bugis, Masjid Al-Falah di daerah Orchard, dan Masjid Assyakirin di daerah Lakeside.

Dari ketiga masjid itu, saya paling suka dengan masjid Assyakirin, selain masjidnya luas dan bagus (dan mewah), makanan yang disajikan cocok dengan mulut saya. Mungkin karena mayoritas yang berbuka di sana adalah orang Melayu, sehingga makanan yang disajikan juga makanan Melayu. Sementara di masjid Sultan menu utama yang disajikan adalah Nasi Briyani (masakan India) dan di masjid Al-Falah disajikan kari dan roti (masakan India juga). Bulan puasa ini memang betul2 cocok bagi mahasiswa yang berkantong pas2an seperti saya karena hampir setiap masjid menyediakan buka puasa gratis, tidak hanya ta'jil tetapi juga   makanan utama.

Puasa di sini dimulai sekitar pukul 5.45 AM (setara jam 4.45 WIB) dan waktu berbuka ialah sekitar pukul 7.17 PM. Kebiasaan di sini, berbuka puasa selain ta'jil langsung memakan makanan yang berat, sehingga shalat Maghribnya agak terlambat. Waktu isya' di sini sekitar pukul 8.30 PM, selesai Tarawih rata2 bisa sampai jam 10.00 PM, sebab rata2 Masjid di sini melaksanakan Tarawih 20 Rakaat.

Sebetulnya saya agak kurang sreg dengan kebiasaan langsung berbuka dengan makanan berat, maka dalam beberapa kesempatan buka puasa saya makan ta'jilnya dulu atau membatalkan dengan minum air putih dan teh lalu shalat Maghrib dan kemudian makan makanan berat.

Hari pertama saya puasa, malam sebelumnya shalat Tarawih di lapangan beratap yang di"sulap" menjadi Mushola sementara untuk shalat Tarawih (dan shalat Idul Fitri pada 1 Syawal) yang terletak persis di belakang blok saya tinggal. Alhamdulillah, saya bersyukur tinggal di lingkungan yang kondusif untuk berpuasa dan menjalankan ibadah shalat Tarawih. Malam itu, saya untuk pertama kali mengikuti shalat Tarawih full 20 Rakaat.

Buka puasa hari pertama saya lakukan di Masjid Sultan bersama Aul dan Mumut, yang kebetulan sedang menjadi turis di sini. Makanannya, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, nasi Briyani, saya agak kurang cocok sehingga akhirnya saya membeli nasi Padang di Restoran Minang di belakang Masjid Sultan. Btw, saya sempat melihat Kak Rully di Masjid Sultan, sayang tidak sempat menyapa. O, ya di Masjid Sultan ini saya juga sekalian Tarawih, tapi hanya 8 rakaat saja, kalau ikut 20 rakaat tatkut pulang kemalaman :))

Keesokan harinya, kami pergi ke Orchard, di Masjid Al Falah untuk berbuka puasa. Menunya menurut saya lebih oke di Masjid Sultan, ada puding, buah2an dan tentunya "bubur masjid". "Bubur Masjid" ini memang khas dibagikan setiap berbuka puasa di setiap masjid, semacam bubur dicampur kuah kari, tapi rasanya agak kurang cocok di lidah saya., jadi saya tidak pernah mengambilnya. Hari kedua ini, karena Aul dan Mumut mau melihat Water Fall show di Marina Bay, jadi kami shalat Taraweh di rumah.

Masjid Assyakirin sebetulnya sudah saya kunjungi hari ketiga Ramadhan, tapi tidak sempat berbuka puasa di sana, sehingga Jumat lalu saya baru ke sana lagi dan menikmati menu buka puasa di sana. Makanannya menurut saya paling cocok di lidah. Menu utamanya nasi rendang+sayur+orak arik kentang. Ta'jilnya berbagai macam buah (plus kurma) dan kue2 basah. Minumannya sirup dan teh (teh susu maksudnya). Alhamdulillah, menunya cocok sehingga bisa makan banyak #eh.

Kemarin saya diajak oleh rekan saya ke KBRI, kebetulan KBRI memang ada agenda buka puasa bersama (literally means buka puasa, sehabis makan pulang :D) Saya ke sana bersama Emir, Andi Menwa (HI 2006) dan Patrya (HI 2006). Menu buka puasa di sana disediakan oleh Minang House yang disponsori oleh Ikatan Ibu2 BUMN Se-Singapura (bahkan gw sampe hafal karena disebut terus sama MCnya :p) Ketemu banyak orang Indonesia tentunya di sana. Kalau di KBRI, sistem buka puasanya makan ta'jil dulu, shalat Maghrib, lalu makan makanan berat. Saya paling suka menu ta'jilnya ada kue eclair yang coklatnya langsung meleleh kalau dilumat, mantap!

Yah, sebetulnya Ramadhan di sini asik2 aja, ga ada hambatan yang berarti buat puasa di sini, karena toh banyak juga orang yang puasa. Selain itu, saya jadi lebih "religius" karena ya di tengah2 masyarakat yang mayoritas non muslim, buat menjalankan kewajiban sebagai muslim kalo dipikir2 lumayan berat, apalagi kalo ga kuat iman. That's why saya lebih merasa bertanggung jawab sama ibadah saya karena di sini yang bakal ngingetin lo puasa atau ngga, lo shalat atau ngga, lo ngaji atau ngga ya cuma diri lo sendiri. Lingkungan sekitar cuma membantu menjaga lo aja. Seperti yang gw rasakan, ya kalau mau dekat sama lingkungan yang kondusif, ya dekat2lah dengan orang2 dan lokasi yang kondusif (baca : masjid). Semoga bisa istiqamah terus dalam ibadah di mana pun kita berada. Amin. 

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar