Saya baru melihat - lihat sekumpulan foto yang dikirimkan salah satu sahabat saya pagi ini, isinya foto - foto kami saat jalan ke Kota Tua dan masjid Istiqlal. Saya baru menyadari bahwa hampir semua foto saya yang ada di sana selalu terlihat tersenyum, mungkin perasaan saya saat itu sangat bahagia sekali. Karena apa? Saya sendiri tidak tahu. Semoga perasaan bahagia ini akan selalu ada, sampai akhir hidup saya :)


#karena bahagia itu mensyukuri hidup
Read More
Assalamualaikum,

apa kabar semua? udah lama ya saya ga "apdet" kegiatan2 saya, setelah lulus tentunya...hahaha
oke, saatnya saya update tentang kegiatan2 yang saya lakukan beberapa hari terakhir...

Alhamdulillah, minggu lalu dapet e-mail dari Nottingham University kalau saya diterima di jurusan "International Social Policy" dengan status conditional offer. Artinya, saya harus melengkapi beberapa dokumen supaya saya betul2 bisa masuk ke sana. Ada dua dokumen yang mereka minta untuk dikirim lagi, yaitu reference letter dari pak Makmur yang harus pake letter head resmi (kop surat departemen) plus cap dari departemen HI UI dan surat keterangan yang menandakan GPA terakhir gw dengan kp surat resmi dari UI (untuk yang terakhir ini gw mengartikan semacam SKL dengan keterangan IPK terakhir atau ijazah mungkin, eh tapi di ijazah ga ada keterangan IPK ya?)

Ya, jadi hari ini gw mau minta tolong Adi (yang jadi asdosnya pak Makmur) untuk mintain tanda tangan beliau lagi di atas surat yang ada kopnya dan ngecap di departemen. Tapi, kayaknya gw mau kirim e-mail ke Nottingham dulu deh nanyain kelanjutannya gimana.

Nah, Nottingham ini tapi belum ada kepastian beasiswanya, soalnya gw apply beasiswa dari OSF di mana local chapternya itu di bawah TIFA Foundation cuma kasih tau kalo tes beasiswa baru ada bulan April. Doakan saya ya teman2 :)

O, ya alhamdulillah, sebelumnya saya juga sudah dapet beasiswa dari Bakrie Foundation untuk melanjutkan studi di RSIS NTU, Singapore. Tapi kebalikan dari Nottingham, saya belum dapet  sekolahnya di sana, karena seleksi beasiswa beda sama seleksi sekolahnya. Bakrie Foundation ini hanya akan ngasih beasiswa buat mereka yang lolos seleksi dan diterima di NTU. Kalo di RSIS gw milih jurusan "International Political Economy", in which nantinya bakal lebih banyak bergaul dengan para akademisi dan researcher. Beda dengan jurusan yang di Nottingham, yang arahnya lebih ke praktisi. Pengumumannya gw diterima di RSIS paling lambat bulan Juli, sementara kuliahnya udah mulai Agustus. Gw berharap  semoga diberikan yang terbaik oleh Allah :o) amiiinnnn....

Walaupun agak jomplang (Inggris vs Singapore), tapi dua-duanya masa studinya cuma setahun. Jadi, ngga masalah mau gw milih di mana aja, toh cuma setahun kuliahnya... hehehe.

Menurut kalian enaknya di mana?

Read More
Another nice posting from Mbak Meira, really makes me wanna cry :')
http://anastasiameira.wordpress.com/2012/03/15/diwisuda/#respond


Tanggal 20 November 2009, hari jumat.
Saya diwisuda lagi untuk kedua kalinya.
Well, sebenarnya wisuda pertama kali, karena waktu wisuda S1 di unpar, saya tidak datang.
Tapi, wisuda kali ini, saya harus datang, karena hari itu saya diberi gelar Ibu.
Alih-alih memakai toga, saya memakai baju rumah sakit.
Wisuda yang penuh darah dan air mata haru.
Wisuda yang penuh cakaran dan teriakan.
Ya, kadang saya merasa, jadi ibu itu seperti diwisuda dulu, baru menjalani kuliah.
Gelar ibu langsung diberikan, setelah kita melahirkan anak kita. Baru setelah itu, kita belajar seperti apa jadi ibu sebenarnya.
Merawat anak kita, dari umur 1 hari sampai nanti kita mati, itu waktu kuliahnya.
Anak kita yang jadi dosennya.
Dia yang akan memberikan kita mata kuliah setiap harinya.
Kuliahnya tidak pernah berhenti. Weekdays ataupun weekends, seorang ibu tetap belajar.
Selalu ada matakuliah baru tiap harinya.
Kadang, dosennya baik, cooperative, dan banyak senyum.
Kadang, dosennya cranky, maunya nempel terus sama kita, dan memberikan ujian mendadak.
Ujian prakteknya kadang susah.
Semua pelajaran yang sudah pernah kita dapatkan dari sang dosen, ternyata tidak bisa dipakai untuk menyelesaikan soal ujian.
Sang dosen mau kita berimprovisasi. Mau kita kreatif.
Mencari jawaban sendiri, mengandalkan insting dan belajar dari pengalaman.
Nilai yang diberikan berupa senyuman, ciuman, pelukan, dan kata-kata yang dia ucapkan.
“Mama” untuk pertama kalinya adalah seperti mendapatkan nilai A.
Langkah pertamanya adalah seperti mendapatkan IPK 3.8
Jangan malu bertanya pada mahasiswa lain.
Walaupun mereka punya dosennya masing-masing, tapi kadang dosen kita dan dosen mereka sama maunya.
Jangan ragu-ragu untuk menyontek dari internet.
Kadang, google lebih tahu jawabannya. Apalagi kalau sang dosen sedang tidak enak badan.
Tapi, jangan takut, setiap mahasiswa disediakan “pembimbing” oleh Tuhan.
Ia adalah ibumu, karena Ia pun dulunya mahasiswa, dan kamu sebagai dosennya.

Setinggi-tingginya gelar yang saya raih nanti, apabila saya tidak sempat mendapatkan gelar menjadi seorang 'Ibu' nanti, sepertinya tidak akan lengkap hidup saya...
Read More
Postingan ini saya copas dari blog Meira Anastasia,
saya jarang mengangkat tema ini, tapi tulisan di bawah benar-benar menyentuh saya :') 

-Menjadi Ibu-

Ketika kamu melihat anak kecil di mall dan kamu berpikir betapa lucunya dia.
Ketika kamu melihat keponakanmu yang baru lahir dan kamu tak sabar ingin menggendongnya.
Ketika kamu melihat anak-anak yang menggemaskan di iklan dan merasa hidupmu hampa karena tidak memiliki mereka.

Itu adalah tanda bahwa kamu ingin punya anak.
Bukan tanda bahwa kamu siap untuk punya anak.

Karena apa yang terjadi pada saat pembuatan iklan itu. Atau sesaat setelah kamu mengembalikan dia pada orangtuanya masing-masing, kamu tidak akan pernah tahu. Betapa dia adalah makhluk kecil yang bisa menghabiskan energi dan emosi. Betapa berbicara dengannya membutuhkan komunikasi tingkat tinggi dan sedikit telepati.

Kesiapan finansial, mungkin kamu bisa dapatkan. Banyak anak banyak rejeki katanya. Kesiapan mental, ini yang lumayan susah. Saya juga masih bergelut dengan ini. Sampai sekarang.

Susah untuk tidak berubah menjadi zombie, ketika setiap malam harus bangun mengganti popok dan menyusui, atau ketika dia berpikir bahwa siang adalah malam dan sebaliknya.

Susah untuk bermuka santai, ketika dia berteriak-teriak di tempat umum dan orang-orang mulai memandang dengan tatapan gak-becus-banget-sih-ngurus-anak.

Susah untuk menahan amarah, ketika makanan yang sudah kamu buat dengan susah payah, hanya dimuntahkan dan karena dia menolak makan, piringnya tidak sengaja tersenggol dan tumpahlah semuanya ke lantai.

Susah untuk tidak berteriak, ketika sesaat sebelum akan berangkat ke undangan, dia menumpahkan sesuatu ke baju barunya.

Susah untuk tetap tenang, ketika kamu sedang menyetir saat macet, dia menangis dan tidak bisa duduk dengan tenang lalu membuka sendiri car seat buckle nya.

Susah untuk tidak menjadi gila ketika, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, kamu harus menghadapi dia yang tidak mau melepaskan dirinya darimu.

Susah untuk berpikir bahwa kamu adalah ibu yang baik, ketika kamu ingin pergi dari semuanya. Kamu ingin punya kehidupan selain harus mengurusi dia.

Susah untuk berpikir bahwa kamu adalah ibu yang baik, ketika kamu tidak ingin menjadi ibu, untuk sebentar saja.

Tapi, bagaimana manusia kecil ini bisa bertahan hidup di dunia tanpa kita?
Kita yang memberikannya tempat tinggal selama 9 bulan.
Dia sudah terbiasa hidup bersama kita. Dia hidup dari kita.
Kita adalah rumah baginya.

Ayah, kakek, nenek, dan keluarga lainnya memang akan ada untuk dia. Tapi, yang paling menyenangkan baginya adalah kehadiran kita, ibunya, rumahnya.

Jadi, betapa egoisnya kita, manusia yang sudah lebih lama hidup di dunia, jika tidak melindungi dan mengajarkan dia bagaimana cara untuk bertahan hidup. Betapa egoisnya kita ketika menginginkan dia, dan tidak siap mengurusnya.

Tapi, menginginkan waktu untuk diri sendiri, sebentar saja, adalah tidak egois. Itu adalah logis.
Waktu dimana kita bukan lagi ibu dan istri. Tapi, kita adalah aku dan kamu. Perempuan yang hanya ingin menikmati waktu untuk menjadi perempuan. Dan setelah itu, kita bisa kembali menjadi ibu dan istri dengan semangat dan gairah baru. Semua senang.

Jadi, kesimpulanku, kesiapan (mental) bukan seperti bakat yang langsung diberikan Tuhan.
Itu adalah proses. Proses yang panjang dan kadang penuh air mata. Proses belajar yang tidak pernah berhenti. Dan beruntunglah kamu yang mengalami proses itu, karena kamu akan menjadi makhluk yang kuat.

Makhluk yang bernama, IBU.

dan saya belum siap saat ini, tidak tahu kapan saya akan siap, semoga amanah ini datang di saat yang tepat...
Read More
 “Tidak peduli apakah itu kucing hitam ataupun kucing putih, asalkan bisa menangkap tikus.”
Kalimat fenomenal dari Deng Xiaoping, Bapak Reformasi Ekonomi China, tersebut menggambarkan betapa pragmatis China dalam menjalankan sistem ekonominya.

Deng mengubah sistem ekonomi sosialis menjadi sistem ekonomi kapitalis yang bertumpu pada negara dilakukan (state capitalism).Perubahan kebijakan ini terbukti membawa China menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar selama tiga dekade terakhir dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 8–10% per tahun.

Indonesia, yang dalam UUD 1945 menganut sistem ekonomi Pancasila, tampaknya harus belajar dari perubahan sistem ekonomi yang dilakukan China.Sistem ekonomi kita saat ini tidak sepenuhnya menganut sistem ekonomi Pancasila,namun lebih ke arah sistem ekonomi kapitalis tanpa didukung penguatan dari negara.

Hal ini dapat kita lihat dari betapa lemahnya Pemerintah Indonesia sehingga dengan mudah menjual kepemilikan badan usaha milik negara (BUMN) dan industri strategis kepada pihak asing.

Padahal, untuk dapat maju seperti saat ini, China justru melakukan penguatan mulai dari sektor negara dan seminimal mungkin membatasi keterlibatan asing dalam industri strategis. Berkaca dari pengalaman China,setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan Indonesia untuk dapat mengikuti pola pertumbuhan ekonomi China.

Pertama, penguatan kapasitas negara sebagai pelaku ekonomi strategis.Menurut hemat penulis,sistem kapitalisme negara yang diterapkan di China sangat bagus untuk diterapkan di negara berkembang lainnya, dengan syarat negara tersebut siap dan kuat.

Kedua,meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi tantangan global sebagai supporting system dari negara yang kuat.China dapat maju saat ini sebab mereka melakukan investasi besar-besaran di bidang SDM. Menaklukkan si Kucing yang sudah berpengalaman selama 30 tahun lebih di kancah perekonomian dunia memang tidak mudah.

Namun, paling tidak, kita dapat mengimbangi kecerdikan si Kucing dengan mengadopsi hal-hal baik yang semoga dapat membawa kemajuan bagi bangsa.● AVINA NADHILA WIDARSA Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional, Ketua KSM Eka Prasetya Universitas Indonesia

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412433/


Saya kira tulisan ini nggak dimuat, tapi ternyata dimuat di Koran Sindo, alhamdulillah :)
Jadi inget, dulu nulisnya waktu di pesawat Lion Air menuju Makassar pertama kali :D

Read More
lovely quote taken from @netihebat's blog

"To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must be taken because the greatest hazards in this world is to risk nothing."
Read More
 
taken from http://www.obatlapar.com/wp-content/uploads/2011/11/Nasi-Rawon.jpg

 Nasi Rawon
Suddenly I miss this authentic East Java culinary. FYI, when I was in Surabaya last January, saking kepinginnya, I bought "Nasi Rawon" at Juanda International Airport by IDR40k, meanwhile in another place like usual market, they only sell it around IDR 8k - 10k.
Read More