Juli 2017,

Saya terhenyak dengan sebuah pesan di Whatsapp yang dikirim oleh seorang teman (yang sehari-hari tidak pernah bercakap-cakap dan jarang berkomunikasi), menanyakan apakah saya sudah punya "calon" atau belum. Haha. Ketika itu saya memang sedang dekat dengan seseorang tapi saya gak pede untuk mengklaim dia sebagai "calon", just because ya belum jadi "calon" ahaha.

Dengan penasaran saya tanya balik: "Kenapa emang", lalu dijawab kembali oleh teman saya ini (via Whatsapp) kalo udah ada, bantu carikan untuk saya. Kalau belum...

Mau ga jadi istri saya?
Seketikaaa,  doa saya dijawab. Alhamdulillah, ada yang ngelamar saya. Walaupun lewat Whatsapp. Walaupun pada akhirnya ga bisa saya terima juga karena memang ga ada kecenderungan sama beliau. Mungkin karena saya juga sejujurnya ga suka tipe laki-laki yang "tembak langsung tanpa basa-basi, ada pdkt, yg gentle, ga cuma lewat Whatsapp".

Nah, dalam perjalanannya kemudian si orang-yang-nembak-saya ini memang punya target harus menikah tahun itu. Ya, gw ga bisa dong nikah cuma karena target, di satu sisi gw ngerasa, ya ampun gini amat ya, minta jodoh kok dikasih yang kayak begitu...

yang cita-citanya mau jadi ...

ARTIS!

Ehm, bukan artis sih, tepatnya orang yang terkenal gitu deh.

Jujur gw ga suka sama orang yang niat-mau-jadi-terkenal. Ku tak sanggup hidup dalam ke-glamor-an dan publikasi. Mereka yang sengaja memasang status panjang di Facebook, tiap 10 menit sekali hanya untuk dapat Likes dari orang lain. Duh, ngga banget.

Ada lagi cerita dua orang yang diam-diam "menunjukkan" ketertarikannya lewat sosial media. Ah, tipe kayak gini gw ga suka juga. Buat apa sih lo tunjukin ke semua orang kalo situ punya afeksi dan tujuan tertentu? *GR* haha.

 Kalo emang niat, ya maju, pdkt, yang smooth lah. Anda ga berani? Ya udah, ga usah nunjukkin apa-apa di sosmed. Simpan saja. Saya bukan Artis yang setiap status dan updatenya perlu di Likes. Kalau Anda kesepian, ajaklah ngobrol via messenger atau Whatsapp. Ga perlu bikin status yang terlihat "Inspiring" tapi sebenernya pamer. So, orang yang suka pamer, is definitely not on my list.

Karena gw percaya hubungan yang baik itu ya ga perlu diumbar-umbar ke publik. Just keep it private.

Kayak kata Sore di Film Youtube Tropicana Slim
"I just want to keep our relationship private, between you and me..."

Jadi, yang berasa artis, ga usah deket2 ya hahaha.

#ayokerjalagi

Read More
10 Januari 2018
Pukul 20.00 WIB

Masjid Agung Al-Azhar terlihat sangaaatttt ramai. Masjid yang berkapasitas 4.000 orang dipenuhi oleh para jemaah yang ingin menghadiri majlis ilmu "The Rabbanians". Setiap Rabu, ba'da isya' pengajian yang diinisiasi oleh kelompok pemuda dan Alumni Sekolah Islam Al-Azhar ini memang penuh dengan jeamaah "kekinian" yang mengikuti kajian Islam oleh berbagai ustad dengan beragam topik.

Kali ini, temanya adalah "Pelebur Dosa" yang dibawakan oleh Ust. Subhan Bawazier. Materinya sendiri menurut saya dikemas cukup menarik namun intinya tidak terlalu panjang dan rumit. Pas untuk audiens yang baru belajar soal agama dan mereka yang ingin me-refresh pengetahuan agamanya untuk diamalkan. 

Saya sendiri mengikuti kajian ini sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Pertama kali diajak oleh salah satu rekan Indonesia Mengajar yakni kak Ravina. Awal-awal saya merasa "kajiannya soft banget ya", dan saya juga ngga se-sering itu juga ke sana. Tahun 2017 tercatat sekitar 3 kali ke kajian ini, jumlah jemaah semakin membludak dari pekan ke pekan.

Saya ingin menyoroti tentang fenomena "Kajian Jaman Now". Terlepas dari apapun niat para jemaah yang kebanyakan berasal dari kalangan muda, menengah ke atas ini (yang saya yakin niat buat cari jodoh juga wkwk), kajian ini mempunyai daya tarik luar biasa hingga ribuan orang ingin mengikutinya. Saya memiliki hipotesa, tingkat keagamaan masyarakat kelas menengah ke atas di Jakarta menjadi lebih tinggi. Maksudnya, terang-terangan datang ke kajian di masjid, mengikuti sholat berjamaah serta mendengarkan kajian bisa menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat Islam di Jakarta (khususnya pemuda jaman now dari kalangan menengah ke atas) semakin peduli untuk belajar agama.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar Stand Up Comedian Joshua dan Ge Pamungkas dilaporkan FUI karena perkataannya dianggap "melecehkan" agama. Keikitsertaan ribuan (jutaan?) orang dalam aksi 411 dan 212 di Monas juga menjadi saksi bahwa agama Islam memiliki pengaruh sekuat itu di masyarakat Indonesia. Mulai dari preferensi politik hingga urusan rumah tangga, semua dibawa dengan dalil agama.

 Tiada Tuhan Selain Allah. Nabi Muhammad adalah Rasullullah

Kalau Anda melihat materi yang diberikan oleh Ustad pengisi kajian ini, memang temanya adalah tema yang tak akan lekang dimakan waktu. Cara penyampainnya pun juga sangat kekinian, mengambil contoh kehidupan sehari-hari dan fenomena terkini.Waktu jaman Pilkada, isu Rohingya dan Palestina tentu saja dijadikan sebagai momen untuk mengetuk hati para jemaah terhadap agamanya. 

Saya kira semangat para pemuda dan masyarakat Islam untuk mengikuti "Kajian Jaman Now" ini tidak perlu dijadikan sebagai sebuah ketakutan bagi pihak-pihak tertentu (apalagi menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019). Ya, mereka memang (para Ustad) secara tidak langsung menunjukan afiliasi terhadap preferensi politik tertentu. Namun, saya berharap jemaah yang sangat banyak ini tidak dijadikan sebagai amunisi untuk membangkikan politik identitas demi kepentingan orang-orang tertentu. Upaya dan spirit para pemuda Muslim ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan datang ke kajian dan belajar agama patut mendapat apresiasi. Jangan lupa juga kita harus menunjukkan bahwa Muslim di Indonesia adalah pemeluk agama yang toleran namun berpegang pada aqidah yang kuat. 


Kind regards,

Avina


Read More
Assalamu'alaikum.

Halo, apa kabar?

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Wow, berarti sudah hampir 10 tahun usia blog ini mendokumentasikan perjalanan hidup saya, mulai namanya "My Life at HI UI" sampai sekarang punya domain .com sendiri hahaha

Oh well, apa kabar?

Pagi ini saya dapat sms dari Nenek, isinya:
"Apa kabar nana, hari ini nenek ke Ciputat, nana ng (ngga) di rumah kata ibu Novi, udah lama nenek nggak ketemu dengan nana"

Dan sebelum saya balas sms itu, nenek sudah mampir ke rumah :")

Saya terenyuh dengan setiap sms, pesan whatsapp dan pertanyaan apakabar.

Beberapa hari yang lalu ada salah seorang junior saya di HI UI yang menyapa dan mengajak bertemu, kemarin pun salah satu teman saya di Indonesia Mengajar menyapa singkat di whatsapp.

Jujur, saya merasa sangat bahagia karena sebuah sapaan berarti sebuah ingatan dan sebuah perhatian. Seringkali saya merasa "paling ga bakal ada yang merhatiin gw", ternyata salah banget haha. Beberapa orang ternyata se-peduli itu sama saya, walaupun saya bukan artis hahaha. Bahkan kemarin malam salah satu teman menanyakan bagaimana perjalanan ke Ternate. 

Ah, terlalu banyak yang harus disyukuri di 2018 ini, se-simple sapaan "Halo, apa kabar?"

kind regards,

dari yang senang sekali mendapatkan sapaan :) 
Read More
Hari-hari ini saya berusaha legowo, menerima kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Hidup memang sesulit ini, haha, bagi orang yang ngga cukup banyak bersyukur seperti saya tentu akan sering galau ketika ada hal yang tidak bisa tercapai.

Tapi, buat apa sedih? toh, akan ada jutaan kesempatan di depan yang bisa kita manfaatkan. Tetap semangat dan optimis ya :)


kind regards,

yang merasa 2017 tahun penuh kegagalan pelajaran
Read More