Cerita Dari (dan ke) Jogja - Part 5

2 comments

Dan yah, akhirnya saya ketinggalan bis, menuju Jakarta.

Saat itu, kebetulan mobil yang dikemudikan Andini berada di sekitar pelabuhan udara Adi Sucipto. Berbekal nekat, kami bergerak menuju bandara dengan harapan akan tersedia tiket sisa untuk pulang ke Jakarta. Ternyata, semua kursi dari seluruh maskapai penerbangan yang menuju Jakarta sudah habis tiketnya sampai hari Senin.

Panik, ya, tapi dalam hati aja, gak perlu dilihatin ke khalayak :p Saking paniknya, saya tidak sempat berbincang lama dengan Fakhri Rasyidi, teman MAN saya yang kebetulan bertemu di Bandara saat itu (maaf ya Fri...)

Ayahnya Andini pun ikut panik, aduh, maaf ya Om, sudah merepotkan dan bikin panik pula. Setelah nanya ke sana ke mari, akhirnya kami sepakat ke terminal bis Jombor. Beruntunglah, saya diberikan nomer agen bus dari teman saya, Fikri, yang kebetulan pernah kami minta bantuan untuk mencarikan tiket balik dari Jogja ke Jakarta.

Sayapun meng-sms mas2 agen bus itu. Saya tanya, ada satu tiket balik ke Jakarta sore/malam itu tidak. Dia bilang ADA! Alhamdulillah, kami langsung semangat menuju terminal Jombor. Mas2nya bilang bisnya akan berangkat pukul 17.00, sementara waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 17.30. Alhamdulillah, kami sampai di Jombor sebelum jam setengah 6 sore.

Dan ternyata, saya kehabisan tiket bis tambahan yang dijanjikan mas-mas agen bus itu. Namun, Allah masih menolong saya. Saya akhirnya mendapatkan tiket bis tambahan yang menggunakan bis pariwisata, yang kata mbak-mbak agennya akan berangkat dari Jogja jam 7 malam. Tidak tanggung-tanggung, saya ditempatkan di kursi paling depan, tepat di belakang supir. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan oleh Allah pulang ke Jakarta malam itu :D

Setelah lega mendapat tiket, Andini dan Ayahnya pun pamit pulang. Saya kemudian menunggu bis dengan membaca berbagai tulisan yang bisa saya baca. Saya tunggu jam 7, bisnya belum datang-datang juga. Jam 8 lewat juga. Akhirnya, bis pariwisata itu baru datang jam setengah 9 malam.

Hello, setengah 9 malam baru berangkat dari Jogja, apa kabar gw kerja besok pagi? Hmmm....

Bismillahitawakkaltu allallah...

Ya, naiklah saya ke bis itu. Tempat duduk saya harusnya di dekat jendela, ternyata bapak-bapak yang duduk di sebelah saya menggeser duduknya ke dekat jendela dengan alasan tasnya besar dan bisa membuat saya tidak nyaman jika Bapak itu mengambil duduk di pinggir. Baiklah Bapak, walaupun dalam hati saya kesal akibat penggeseran tempat duduk itu, tapi mau bagaimana lagi. Saat itu saya sudah capek sekali dan ingin tidur saja.

Malam pun berlalu. Saya berusaha tidur beberapa jam, tapi selalu terbangun tiap beberapa menit karena tidak nyaman. Belum lagi supir bis yang menyetir membuat saya berzikir terus sepanjang jalan.

Akhirnya, bis berhenti di tempat pemberhentian pertama. Bapak-bapak yang duduk di sebelah saya pun turun karena ingin ke kamar kecil. AHA! Saatnya saya memindahkan posisi tempat duduk saya ke dekat jendela. Dan jadilah saya duduk di posisi tempat saya duduk seharusnya. Di situlah saya mulai bisa tidur dengan nyenyak.

Tidak terasa, pagi menjelang, saya melihat jam sudah pukul 4 pagi hari Senin dan bis sudah berada di Ciamis waktu itu. Saya pikir, sebentar lagi sampai di Bandung, dan dari Bandung akan masuk tol Cipularang menuju Jakarta.

Ternyata, bis baru sampai Bandung pukul 7 pagi. Di Bandung, sebagian besar penumpang turun dan sebagian lainnya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Uniknya, bis yang saya tumpangi melayani penumpang dengan segala jurusan, mulai dari Bandung, Bekasi, Bogor, Pulo Gadung hingga Lebak Bulus. Pikir saya, bagaimana ini si supir mau mengantarkan semuanya? Saya pasti sampai di Lebak Bulus paling tidak pukul 11 siang, padahal saya janji masuk kantor setelah makan siang. Gak mungkin pak supir akan mengantarkan penumpangnya ke tujuan masing-masing.

Benar saja, supir bis yang sudah teler menurunkan kami begitu saja sesampainya di Bekasi. Walah, saya langsung turun dan menyetop taksi ekspres untuk mengantarkan saya pulang ke rumah. FYI, harga tiket bis yang saya bayar dari Jogja ke Jakarta sebesar 135rb rupiah sementara harga taksi yang saya bayar dari Bekasi ke Bintro sebesar 100rb rupiah (karena di tol JORR macet parah). Ya, alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah jam setengah 11 siang.


Alhamdulillah, terima kasih Allah untuk kesempatan saya liburan kali ini, berpetualang dan bertemu dengan teman-teman dan orang-orang hebat. Terima kasih Allah telah memberikan saya kesempatan menikmati kisah perjalanan yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan seumur hidup.


Semoga, segala kebaikan yang diperbuat oleh orang-orang, khususnya teman-teman dan saudara-saudara yang membantu saya dalam perjalanan saya kali ini akan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT.

Terima kasih :')


Jakarta, 23 Mei 2012

Sebuah memoar kecil dari catatan perjalanan seorang Avina Nadhila Widarsa...
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

2 komentar

Ecky Agassi mengatakan...

vin, lo ketinggalan bis karena tiba-tiba bisnya berangkat lebih awal atau gimana?

ya semoga bisa diambil hikmahnya :D

avina_nadhila mengatakan...

iya ky, gw ketinggalan bis karena salah info, jadi gw dikasih tau bisnya berangkat jam 5, padahal aslinya jam 4 udah mau berangkat. haha. atau emang bisnya berangkat yang lebih awal kali ya XD