No more will I go around the world, for I have found my world in you...

Around the world, I've searched for you. I traveled on, when hope was gone to keep a rendezvous.

I knew somewhere, sometimes, somehow, you'd look at me and I could see the smile you're smiling now.

It might have been in country down or in New York, in Gay Paree, or even London town.

No more will I go around the world, for I have found my world in you...


Kapan ya gw bisa nyanyi lagu ini sesuai dengan realita hidup gw? Hahaha
Read More
Halo, apa kabar?

Lama ga menyentuh blog ini, karena satu dan lain hal.
Sebenarnya banyak hal seru yang saya mau ceritakan dan alhamdulillah banyak kesempatan unik yang terbuka selama tahun 2015 ini.

Langkah saya dimulai dari awal tahun, setelah pulang dari Halmahera Selatan, saya dihadapkan pada kenyataan hidup, bahwa kembali ke "peradaban" Jakarta tidak semudah yang saya bayangkan. Seperti yang saya tulis di postingan bulan-bulan awal saya.

Tahun 2015 ini, saya mencoba banyak (sekali) pekerjaan, dan memang akhirnya CV saya jadi lebih berwarna. Karena kebanyakan ini, mungkin saya akan ditengarai sebagai kutu loncat. Haha.

Oke, mulai dari bulan Februari, saya bekerja part-time sebagai Tutor untuk murid kelas 6 SD di salah satu sekolah elit di kawasan Kemang. Hanya 2 atau 3 kali pertemuan, sebelum saya mendapat tawaran menjadi intern di sebuah bank BUMN di kawasan Jakarta Kota.

Menginjak bulan Maret, saya mendapatkan tawaran mengajar sebagai dosen tidak tetap pada salah satu perguran tinggi swasta di Jakarta. Alhamdulillah, target saya untuk menjadi dosen selepas dari IM dapat diakomodasi melalui pengalaman mengajar tersebut.

Walaupun, realitanya, sebagai dosen baru saya masih harus banyak belajar mengenai kedisiplinan, materi yang harus disampaikan sampai manajemen kelas, belum lagi waktunya saat itu ditetapkan hari Sabtu, ketika weekend, suatu pengalaman yang cukup membuat saya berpikir, saya tidak mau mengajar lagi di hari Sabtu ;p

Ketika itu pun, ada kejadian tidak menyenangkan yang saya alami, membuat mobil orang rusak hingga dua kali. Haha. Selanjutnya, tempat internship yang terlalu jauh membuat saya berpikir dua kali untuk menyelesaikan periode internship sampai 3 bulan di Bank tersebut.

Alhamdulillah, pada saat yang bersamaan ada tawaran datang dari Bappenas. Saat itu, saya hanya berpikir bagaimana caranya berhenti dari internship di bank tersebut. Bukan karena tidak nyaman, well, beberapa hal mungkin ya, dengan load kerja yang tidak seberapa besar dan perjuangan menuju kantor yang luar biasa, harus diakui, saya merasa tidak sebanding dengan usaha yang saya keluarkan untuk belajar. Tapi, overall internship itu memberikan pengalaman yang menyenangkan buat saya karena saya jadi belajar banyak tentang bagaimana sebuah bank BUMN bekerja, menikmati waktu yang berharga bersama teman2 PM yang magang di sana dan berinteraksi langsung dengan para pegawai bank yang posisinya banyak diminati oleh para pencari kerja di luar sana.

continue...
Read More
postingan lawas, tapi penting sebagai reminder :)

Wednesday, May 20, 2015

7:02 PM

Rencana diet mayo gagal. Haha. Gw merasa setelah kembali ke Jakarta, banyak hal yang membuat hidup gw jadi kurang produktif. Kurang initiating action. Kurang konsisten. Kurang komitmen dan lain sebagainya. Gw belum bisa mendefinisikan tujuan hidup gw saat ini dan bagaimana menjalankan kehidupan kalau gw aja ga tau apa yang gw tuju, apa yang gw cari.

Oke, gw hidup untuk mencari ridho Allah. Lalu, bagaimana definisi teknis mencari ridho Allah? Dengan menjadi manusia yang sebaik-baiknya dalam hubungan dengan manusia lain dan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya.

I think I need a guidance.

And I almost forget it, I should read more Qur'an. Reflect what I have been done and plan for my future. Walk the talks.

Alhamdulillahirabbilalamin, sekarang gw sudah bekerja di Bappenas. Sesuai dengan keinginan gw yang gw tulis beberapa bulan yang lalu. Walaupun banyak hal yang di luar ekspektasi gw, tapi so far so good. Saya bisa belajar banyak dan saya harus bisa mendapatkan keahlian baru setelah saya keluar dari Bappenas.

Ah, sudah lama saya ga menulis. Rasanya hidup habis untuk kerja-ketemu temen-makan-tidur-berkhayal. Ga produktif banget ya? Haha.

Saya perlu cari teman hidup sepertinya. Ya, teman hidup. Kalau ditanya, mau nikah kapan, saya maunya sih segera, tapi mungkin lebih baik kalau saya bilang saya mau menikah setelah saya siap. Dan saya tahu, menikah itu tidak mudah. Saya harus selesai dengan diri saya sendiri. Saya harus mengenali diri saya. Dan itu sulit. Rasanya pembelajaran tidak akan pernah berhenti, termasuk pembelajaran mengenal diri sendiri, sampai akhir hayat.

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain :)

Mulai dari diri sendiri:
  1. Perbaiki penampilan
    1. Lebih rapih - setrika baju sendiri!
    2. Lebih bersih - mandi 2x sehari
    3. Lebih sehat - Fitness/olahraga minimal 3x seminggu, jaga pola makan (perbanyak buah dan sayur, makan secukupnya "makan saat lapar, berhenti sebelum kenyang", sarapan herbalife)
  1. Perbaiki kamar
    1. Rapihkan dokumen 
    2. Rapihkan baju
    3. Rapihkan barang-barang
  1. Perbaiki attitude
    1. Initiating Action
    2. Lebih berani Berbicara
    3. Membantu orang lain tanpa syarat
    4. Lebih peduli
    5. Menjaga perasaan orang lain
  1. Perbaiki pikiran
    1. Husnuzhan
    2. Always remember, you CAN do the best
    3. Control mind!
  1. Perbaiki pergaulan
    1. Life balance - waktu ketemuan dengan teman
    2. Project sosial
    3. Keluarga (sekarang dan nanti)

Dalam satu tahun saya harus:
  1. Memiliki berat badan 70kg
  2. Menulis yang baik, diterbitkan di media
  3. Bahagia
  4. Ikhtiar mencari pasangan hidup
  5. Sabar

Dalam 2 tahun saya akan:
  1. Menikah
  2. Melanjutkan S3 di luar negeri
  3. Bekerja sebagai researcher di bidang ilmu ekonomi politik internasional
  4. Menerbitkan buku tentang pengalaman di IM, Singapura, dan Jakarta
  5. Menulis di media massa dan media online

Semoga Allah memudahkan jalan untuk menjadi sukses, sehat dan bahagia dunia akhirat.

Semoga semua yang saya kerjakan berkah di dunia dan bermanfaat untuk menambah amal saya di akhirat :)
Read More
Salam!

Hi all! How are you?

It's been a packed weekend (and still counting) packed weekdays for me. Last Sunday, I had two friends wedding reception. I went to Cilegon on Saturday's night to attend my best friends' wedding. Fadlin finally tied the knot with Mr. Bahtiar, someone whom she knew only 7 months before the marriage, I am so happy for her, although a little bit sad that one by one, my friends are entering their new life. Not a single anymore.

On Sunday everning, I attended Fafa's wedding, one of my best friends in Halsel. She was a PTT doctor in Bibinoi then Labuha/Gandasuli. Her wedding was so marvelous and grand. I met my 4 out of 7, teman sehidup semati di Halsel, a.k.a PM VII Halsel. I also met Andi Bank Muamalat (hahaha) and another PTT doctors who happened to stay in Halsel during our IM's tenure. They are Lyla, Rizky (he lost 12 kg! He did OCD!), Nia, Fakhri and Ihsan. I also met Kak Luke, her son and Kak Ajeb.

On Saturday noon, I had a muay thai first exercise that made me cancel my appointment with mba Jetc. I also cancelled my schedule to Thamrin City to find a gift for Helene's wedding since my body was very tired. I should do another muay thai exercise in this week!

On Friday, I went to Kemang to celebrate Mbak Ima's birthday with other MIKTA Young Professional Fellows and THC fellows. I planned to go to a seminar in @america, however I didn't go there because I was trapped in a lunch-gossip-time with the KPI's team :p

On Thursday, I did telling bu Teni to resign from my current job. I did it after I took several considerations carefully. I told her that I was offered to teach, she is okay with that. Unfortunately, later I found that I don't have any teaching schedule in next semester :(

On Wednesday, I got calls from THC and I just can called mba Tassa back in Thursday. I said yes for their offer :)

Hopefully, this will be the best and blessed path for my future career and love live :D

Aminnn...

Read More
Beberapa waktu yang lalu saya baru saja menolak (untuk yang kedua kalinya) sebuah tawaran pekerjaan, menjadi staf pengajar tetap di salah satu universitas swasta di Jakarta. Alhasil, saya di-black list oleh universitas tersebut untuk menjadi staf pengajar.

Setiap keputusan pasti punya konsekuensi. Konsekuensi saya menolak pekerjaan itu adalah tidak ada lagi kesempatan bagi saya mengajar di sana.

Lalu, bagaimana soal Jodoh?

Saya rasa pekerjaan yang termasuk bagian dari rezeki adalah juga soal jodoh.
Jodoh bukan hanya semata soal pasangan hidup. Semua rezeki yang kita dapatkan saya rasa termasuk bagian dari jodoh.

Well, saya pernah menolak jodoh (pekerjaan). Saya juga pernah sih menolak jodoh (laki-laki).

Saya sendiri sekarang sedang berusaha menyusun kriteria yang pas untuk pendamping hidup sekaligus mengejar mimpi: menjadi diplomat.

Ya, semoga menjadi diplomat benar-benar jodoh saya (dan suami saya kelak).

:D
Read More
Hi all,

sudah lumayan lama ga update. Alhamdulillah, hari ini puasa ke-6 di bulan Ramadhan 1436 H bisa dilewati dengan baik. Semoga kita bisa menjalani ibadah puasa dengan lancar hingga hari ke-29, aaminn...

Gw bersyukur hari ini mendapat banyak pelajaran. Setelah sempat "demotivasi" karena surat yang gw bikin harus dirombak ulang (yeah, gw tahu sebenernya itu salah gw yang ga hati2 dan detail), pengen pindah kerjaan aja. haha. Baper kan ya anaknya.

Then again, I realized that, my job now is a blessing.

Punya bos yang baik dan pengertian, teman-teman yang asik dan bisa diandalkan. Well, gw harus sering-sering bersyukur.

Memang sih ada banyak kekurangan di sana sini. Tapi, at least gw tahu, pekerjaan ini, saat ini adalah waktu yang terbaik. Jadi tinggal #carijodohtrip deh #eh

:D
Read More
I'll take YPP exam, go to interview, doing a roaster (OJT).

Things to do:
1. Make a connection, utilize my connection
2. Prepare for the exam, the personal information/registrarion form
3. Learn, do and write a better English
4. Have a faith
5. Pray!
Read More
I want to live in New York, going around Europe, go to Mecca for pilgrimage

I want to publish my articles in The Jakarta Post and several International/National Journals

I want to publish a book, written by myself

I want to be more confident, I want to be more cheerful, I want to be more grateful

I want to marry someone that can uplift my potential to the fullest

I want to have shaleh/shalehah children, that opens my door to Jannah

I want to live happily and be useful as long as I breathe
Read More
bismillahirrahmanirrahim.

Semoga bisa selali terus bersyukur setiap hari. Gw bersyukur, hari ini bisa ke nikahan teman yang sama-sama satu sekolah dari SD-SMP-SMA. I'm happy for her :)

Selanjutnya, gw bersyukur ketemu teman2 Ascova lagi, pergi bareng Wenda, ketemu Mirrah, Kodil, Diani, Vera, Aghna, Nosa, Ratri, Nadya. Sempet lihat Lida tapi gak berani nyapa (duh!).

Alhamdulillah, tadi periksa ke klinik Zamzam dan ketemu dr. Zoraya, dapet pencerahan kalau sakit yang gw rasakan di bagian belakang bukan wasir/ambeien, walaupun harus diobservasi dulu. Gw dikasih Asam Mefenamat untuk mengurangi rasa nyeri. Alhamdulillah, jauh lebih baik keadaannya :)

Gw bersyukur sudah diantar Lala, dijemput Bapak dan diolesin obat oleh Sasa. Mama juga pulang bawa oleh-oleh yang enak. Alhamdulillah.

Satu hal yang membuat gw bersyukur lagi hari ini adalah gw membaca artikel-artikel yang bagus. Artikel dari Berdakwah tentang Khamr, dan artikel dari JamesClear.com, yang Judulnya: Get Back on Track, 7 Strategies to Help you Bounce Back After Slipping up!

Full article can be read here:

http://jamesclear.com/get-back-on-track

Happy Reading!
Read More
Bismillahirrahmanirrahim

Postingan gw tadi pagi kelihatan galau ya? Haha. Iya, gw tadi bingung dan nggak fokus (seperti biasa). Terlalu banyak takut dan memikirkan hal nggak penting. Jujur, gw jadi mudah mengisi pikiran gw dengan hal-hal negatif kalau gw lagi sendirian. Selalu merasa kurang maksimal dalam perform, karena ngerasa ga menyiapkan diri sebaik-baiknya, khususnya sebelum kasih materi kuliah.

Well, sepertinya gw harus menggalakkan kebiasaan gw seperti di Halsel, hampir setahun yang lalu: membuat jurnal syukur.

Kalau dulu, jurnal syukur dibuat sama anak didik gw dengan melingkar dan mendengarkan mereka satu per satu mengucap syukur atas apa pun yang nikmat yang ingin mereka syukuri pada hari itu. Sepertinya, mulai hari ini gw harus melakukannya lagi. Paling tidak untuk diri gw sendiri dan membuat pikiran gw lebih positif dari hari ke hari.

Oleh karena itu, hari ini saya bersyukur untuk:
1. Kelancaran perjalanan ke kampus, masih bisa diantar oleh kedua orang tua yang kesehatannya berangsur pulih
2. Menjalankan kuliah dengan lancar, termasuk kuis dan presentasi
3. Makan siang bersama teman di Mix Diner and Florist, nyobain mie goreng yang mirip bungkusnya :D
4. Pulang ke rumah tanpa macet
5. Whatsappan sama teman-teman lama dan aktif di sosial media.

Anugrah terbesar yang saya dapat selama mengajar di HI Paramadina adalah mendapat kelas terbaik. Ya, saya diingatkan oleh mahasiswa saya bahwa kelas yang saya ajar adalah kelas terbaik. Anak-anaknya rajin dan pintar, patuh dan penurut, dan bisa menerima dosen mereka apa adanya.

Alhamdulillah :)
Read More
bismillahirrahmanirrahim

Semoga bisa mengerjakan segala sesuatu hal dengan lancar dan fokus, tetap semangat dan bahagia setiap saat :)
Read More
Kalo kamu gak merasa berkembang, pindah aja vin.
Prinsip aku sih, aku bakal stay walaupun gajinya ga seberapa, kalo peluang belajar di tempat itu besar. Jadi kayak investasi. Cuman ketika aku ngerasa stuck dan ga berkembang, saat itu pula aku mikir bahwa aku harus pindah.

Kamu pikirin lagi aja vin.


Indeed mir :) 
Read More
Barusan baca surat dari anak-anak. Bahagia rasanya membaca surat-surat mereka.

Erna bilang, "jangan cengeng ya Bu, selalu tersenyum ya". Tau aja Ibunya habis nangis di sini. Haha.

Intan bilang, "Intan selalu mendukung Ibu!". Ah ya, Intan memang setia mendukung Ibu, terutama untuk mengajak teman-teman yang lain sholat di masjid.

Dera bilang, "Kalau menikah bilang-bilang ya Bu." Tentu saja Dera, Ibu pasti kabari kalau Ibu menikah :)

Dan semangat-semangat lain yang diucapkan oleh Ija, Nana, Dani, Putri, Rifka dan lain-lain.

Nak, Ibu kangen.
Read More
Hi apa kabar?
Udah beberapa waktu ga nulis di blog. Hehe.

Update kabar dari saya? Ada yang mau tau? Kalo ga mau ga apa2 sih. Da aku mah orangnya gitu ga berharap apa-apa dari orang lain :p

Gw pindah kerja. Kemarin setelah internship selama sebulan di divisi ONL BNI, gw cabs ke badan perencanaan pembangunan nasional.

Kenapa cabs sebelum tiga bulan?

Alasan gw yang pertama apa yang gw kerjain sekarang lebih relevan sama bidang ilmu gw. Gw di-assign di subdit kerjasama pembangunan global, direktorat kerjasama pembangunan internasional. Lebih khususnya lagi, gw mengurus perumusan cetak biru peran Indonesia di G-20 (khusus bidang pembangunan). Ribet ya? Ahahaha.

Lumayan. Kerjaan gw baca dokumen-dokumen tentang G-20 Development Working Group dan nge-trace komitmen2 yang sudah disepakati Indonesia di DWG. Itu baru awal sih, ke depan mungkin akan banyak koordinasi dengan Kemlu dll.

Alasan gw yang kedua, BNI Kota jauh banget dari rumah gw. Gw harus berangkat sebelum jam setengah 7 dan sampai rumah minimal jam 7 malam. Duh, ga tahan eike, mana itu baru banget balik dari Halsel. Tiap hari yang ada marah2 melulu gara2 desek2an di kereta dan ngomel2 ke supir angkot. Wkwkwk.

Alasan ketiga, emang pengen nyoba kerja di pemerintahan aja, untungnya di sini ada kesempatan seperti itu, kerja seperti pegawai tetap tapi bukan pegawai tetap. Haha. Walaupun dari segi remun ga se-wah orang2 yg kerja di corporate sih. Tapi suasana kantornya nyaman kok :)


Lalu lalu lalu, iya gw pengen cerita aja. Soalnya jaaaaraaaangggggg banget ada yang nanyain kabar ke gw, hahaha. Biasanya gw yang nyapa orang duluan, nanya gimana ceritanya, dan lain sebagainya. Iya, gw lebih sering mendengarkan cerita orang lain daripada cerita tentang diri gw sendiri ke orang lain. Makanya, kadang-kadang agak depresi juga sih soalnya gw merasa gw selalu sendiri (memang begitu sih). Hahaha.

Okelah, itu aja kali ya. Terima kasih :)
Read More
Salam,

Akhir-akhir ini gw merasa menjadi orang yang sangat gak sabaran. Akibatnya, banyak kesalahan kecil dan sepele yang harusnya bisa gw hindari malah kejadian. Sebut saja, gw sedang tidak menapak saat ini. I miss the old me.

Lagi-lagi, belum bisa bersyukur. Lagi-lagi, permasalahan klasik, saya belum bisa menerima perubahan yang terjadi pada diri saya saat ini. Akibatnya, saya jadi kurang pede dan merasa semua hal yang saya lakukan salah. Tipikal golongan darah A.

Saya merasa, saya menjadi sangat serius dan jaim akhir-akhir ini. Saya takut salah dalam mengambil keputusan, seperti yang sedang saya jalani saat ini. Saya risau akan masa depan dan ketidakpastian yang hadir di depan sana. Ah, sudahlah. Lebih baik saya #terusbekerja walaupun saya ga tau di mana ujungnya.
Read More
Hi all,

Just a quick note after lunch. Today, I feel so worried about my next week interview in one of government agency. I really want to be in that position. So, I did a substantive research about the topics that are going to be my scope of work.

After a while, I just realized that, I don't have to be worry and panic. I know that we have to perform efforts and pray if we want something so bad. But then, after all, it's all God's decision.
Something that I called as jodoh.

Sebenernya kalo kita berjodoh dengan suatu hal, pada waktunya, insya Allah sesuatu tersebut akan datang kepada kita.

Sekarang saya belajar untuk menjadi orang yang lebih membumi. Setelah melewati kenyamanan hidup selama beberapa tahun ke belakang, saatnya saya lebih down to earth.

Saya memang senang hidup di alam mimpi. Sekolah di luar negeri dan mengikuti program Indonesia Mengajar adalah mimpi indah yang saya jalani dua tahun ke belakang. Hidup di luar negeri, mendapatkan beasiswa, kesempatan dan bisa magang di salah satu perusahaan ternama di Singapura tentu bukanlah hal yang bisa didapatkan semua orang.

Apalagi mengikuti program Indonesia Mengajar, tinggal di daerah yang tanpa sinyal dan tanpa listrik namun setiap hari bisa makan ikan, terbebas dar polusi dan kemacetan serta debu jalanan adalah kenikmatan tersendiri. Sapaan hangat dari anak-anak dan masyarakat yang masih menjaga ikatan kekeluargaan yang erat, membuat saya menemukan keluarga baru di belahan lain Indonesia. Sebuah kesempatan merajut tenun kebangsaan yang belum tentu bisa dinikmati oleh jutaan pemuda lainnya di Indonesia.

Saat tulisan ini ditulis, saya berada di sudut meja di sebuah Bank di kawasan ibukota. Ya, saya sedang menjalani program magang yang memang saya rencanakan selepas pulang penugasan dari Indonesia mengajar. Setiap harinya, saya harus bertarung dengan puluhan juta orang lainnya yang sama-sama mencari penghidupan di Ibukota yang lebih baik. Saya bersyukur, saya diberi kesempatan untuk cepat beradaptasi pada situasi yang tidak mudah ini.

Saya berdoa, semoga saya bisa semakin menebarkan manfaat bagi orang banyak, terlepas status atau jabatan yang akan saya emban di kemudian hari. Aaminnn.
Read More
Hari ini gw telat. Well, telatnya pake banget. Harusnya masuk jam 08.00, gw malah baru dating ke kantor jam 09.48 (kalo ga salah). Yah, payah banget deh. Gw masih gagal mengatur waktu sedemikian rupa sehingga bisa telat banget.

Ada yang salah? Iya, ada. Terlepas dari gw baru berangkat dari rumah jam 06.30 dan ga berusaha mengejar kereta yang pertama gw lihat di stasiun, balik lagi ke rumah dan akhirnya dianterin naik motor sampai ke stasiun Palmerah (yang itu juga udah terlambat banget), ga berusaha naik kereta pertama yang gw lihat di stasiun tersebut dan mau nggak mau akhirnya nunggu kereta berikutnya yang berjarak sekitar 30 menit dari kereta pertama, gw merasa hidup di Jakarta semakin pathetic.
Iya, pathetic. Kalo di Microsoft Word, “pathetic” itu sinonimnya useless, dismal,weak, etc.

Ketika gw menunggu di stasiun Pondok Ranji, tiga kereta lewat begitu aja, padahal gw udah nunggu sekitar 20 menit, karena gw ga bisa masuk ke dalam kereta. Manusia sudah berhimpit memenuhi ruang gerbong dan tidak ada lagi ruang tersisa, bahkan untuk udara. Hanya beberapa orang yang memiliki badan elastis atau yang emang punya daya dorong yang sangat kuatlah yang bisa masuk ke dalam gerbong. Sementara ratusan orang lainnya terus berdatangan dari arah pintu masuk stasiun, untuk berjuang melanjutkan kehidupan mereka dengan KRL commuter line.
Jakarta is pathetic.

Bukan cuma di stasiun Pondok Ranji, di jalan dari Bintaro-Keb.Lama-Palmerah, saya melihat lautan mobil, free parking, di mana-mana. Sementara motor masih bisa melaju walaupun sedikit-sedikit, saya kira mobil hanya bisa berjalan 50 meter dalam waktu 30 menit. Saya ga tahu kalau saya berangkat naik mobil dari rumah sekitar jam 07.00 WIB bisa sampai jam berapa di kantor, yang letaknya di kawasan Kota. Kemacetan di Ibukota sudah semakin gila.

Orang-orang yang berjuang hidup di Jakarta menurut saya orang yang daya tahan (resilience)-nya tertinggi di dunia. Dengan semakin banyaknya manusia yang menggantungkan hidupnya di sini, semakin banyak pula yang memakai konsep one car one man. Inefisiensi transportasi umum dan ketika semua orang keluar pada jam yang bersamaan, the road in Jakarta is like a road to hell heaven.

Saya ga tau, bagaimana caranya mengurai kemacetan di kota Jakarta yang semakin hari semakin parah. Saya juga ga tau, gimana caranya mendidik masyarakat Jakarta yang lebih disilin, lebih toleran dan ga banyak gaya. Saya ga tau, gimana pada akhirnya mereka betah hidup di Jakarta.

Saya rasa, keluar dari Jakarta selama tiga tahun akan membuat saya semakin betah tinggal di Jakarta. Tetapi, saya salah. Saya masih belum bisa menghadapi kenyataan bahwa saya hidup di antara 25 juta orang yang menggantungkan hidupnya di kota ini dan sama-sama menciptakan kota yang aman, nyaman dan bersahaja bagi penduduknya.





Read More
“Takkan lari gunung dikejar”

Peribahasa yang cukup akrab di telinga khalayak ini sedikit banyak menggambarkan pemikiran saya tentang topik yang akan saya bahas pada tulisan ini: mengejar lelaki.

Saya kira setiap orang memiliki naluri untuk hidup secara berpasangan. Pun dengan mereka yang saat ini mengatakan “tidak ingin menikah terlebih dahulu”, “mau fokus berkarir” atau “mau sekolah dulu”, saya kira tidak ada orang yang “sambil sekolah/bekerja” tidak “mencari”. Yeah, mencari pacar atau calon pasangan untuk hidup bersama, terlepas orientasi seksualnya terhadap lawan jenis atau sesama jenis.

Pardon me, tulisan ini memang akan menggunakan bahasa yang mungkin tidak enak dilihat atau dibaca. Jadi, bagi anda yang merasa atau mau hidup “lurus-lurus” saja, silahkan tinggalkan halaman ini dan pergi ke halaman lainnya.

Hukum alam berkata, dalam prinsip mencari pasangan hidup, lelaki lah seharusnya pihak yang “mengejar” bukan pihak yang “terkejar”. Perempuan seharusnya menunggu pihak lelaki mendekati dan kemudian memutuskan apakah dia mau dengan si A, si B, atau si C.

Namun, realita berkata, tidak semua laki-laki bisa take action duluan. Semua laki-laki akan melihat dan mengobservasi terlebih dahulu, kemudian mencari celah untuk mereka mendekati perempuan tersebut. Ada yang agresif, ada juga yang malu-malu.

Laki-laki yang pemalu, pendiam, dan takut untuk ditolak biasanya punya waktu observasi yang lebih lama dalam jangka waktu tahun atau bahkan puluhan tahun sebelum akhirnya berani mendekati wanita tersebut atau mengikhlaskan pujaan hatinya bersama laki-laki lain.

Perempuan, di satu sisi, dituntut oleh masyarakat (pada umumnya) untuk menikah cepat, menjadi Ibu rumah tangga yang baik dan merawat anak yang banyak. Fitrah perempuan untuk tidak mendekati laki-laki, pada akhirnya berubah karena tekanan psikologis-sosial-budaya. Perempuan harus menikah SECEPATNYA! Kalau belum menikah sampai umur 30 tahun = perawan tua.

Mau tidak mau, perempuan harus melakukan upaya untuk mendapatkan pasangan hidup yang pas. Caranya? Ya, dengan mengejar lelaki. Sesuatu yang menurut hukum alam tidak biasa. Namun, hal ini pada akhirnya menjadi biasa karena sudah banyak dipraktekan walaupun hasilnya terkadang tidak sesuai harapan.

Saya rasa, mengejar lelaki adalah suatu hal yang tidak perlu dilakukan oleh perempuan. Laki-laki yang nalurinya “mengejar” akan merasa tersaingi jika si perempuan cenderung dominan dan agresif. Se-cinta2-nya seorang perempuan terhadap seorang laki-laki, menurut hemat saya, mengejar laki-laki tersebut bukanlah sesuatu yang bijak. Sebab hal tersebut akan menurunkan derajat perempuan. Perbuatan seperti itu juga bisa jadi sebuah hal yang sia-sia, jika pada akhirnya lelaki hanya akan menjebak dan memainkan perasaan perempuan.

Defaultnya laki-laki, kita tahu bersama, hanya ada dua: homo dan brengsek. Apakah perempuan mau mengejar kedua lelaki dengan sifat tersebut? Saya rasa perempuan normal pasti tidak akan mau mengejar salah satu di antara keduanya. Sementara kedua hal ini yang akan kita temui pada kebanyakan lelaki di dunia.

Walaupun nalurinya laki-laki yang mengejar, bukan berarti mereka tidak suka dikejar. Mereka bahkan suka sekali dikejar. Ketika ada perempuan yang mendekati mereka, laki-laki bisa menjadikan hal tersebut sebagai prestasi untuk mengukur tingkat kegantengan dan kekerenan mereka. Laki-laki yang brengsek tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan tersebut begitu saja. Ia akan segera merespon dan “menyayangi" si perempuan tersebut dalam beberapa waktu, sebelum akhirnya melukai perasaan dan bahkan fisik si perempuan.

Sementara, laki-laki yang homo cenderung lebih halus sikapnya dan berusaha menghindari perempuan tersebut. Ya, karena mereka tidak tertarik untuk berhubungan dengan lawan jenis. Namun, ada juga yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menutupi kenyataan bahwa dia berbeda dari orang kebanyakan.

Jadi, apa yang bisa dilakukan perempuan? Hanya menunggu dan menunggu? Saya rasa, pilihan terbaik saat ini adalah menjadi orang yang keren terlebih dahulu dan berdoa supaya segera dipertemukan dengan laki-laki yang tepat.

Karena saya percaya, perempuan yang high quality tidak akan jomblo. Laki-laki yang baik, pasti akan punya nyali untuk mendekati dan tidak perlulah kaum perempuan mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan datang kepada kita di saat yang tepat. Sebab, tidak akan lari laki-laki dikejar.

The writer opens the room for discussion and debate on this note.
Read More
Hi, how are you guys?

Been long time no writing in here ya? Haha. I updated my other blog btw, you can see my posts in: http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/avina-widarsa-3

So, I've finished the Indonesia Mengajar program. Such an amazing year I had through in South Halmahera with great friends, community and family.

Yeah, I had nothing to regret for. The work that I chose was the best life path of my life so far.

Now, I'm back in town. Jakarta. The city that I've ever missed before.

I'm back again to my parent's house. The suppose building to be called home.

Well, actually is not easy to adapt in Jakarta, live back with your parents and family whom you left for almost 10 years.

I have left my home since high school. I went to an Islamic boarding school called MAN Insan Cendekia Serpong in 2005. Since then, I never stayed at home more than 3 months I guess.

Yeah, the school actually is close to my parent's house. It's only 15-20 minutes ride via JORR highway. However, I can only go back to home on the weekend or when the school holiday.

Then, I continue my study in UI. I rented a room near my campus. I've ever decided not to "ngekos" for some time, but then it failed. I saw myself can't stay for a long time in my parent's house. Since, it will only make me disappointed or angry.

In the third year, I was chosen as one of the PPSDMS scholarship recipients that I must stay in the dorm. So, until I graduated (and 6 months after that), I stayed in the dormitory.

In July 2012, I moved to Singapore to continue my study and came back in Jakarta in June 2013. I did my internship in Bank Indonesia for a month. That was the moment when I stayed at home just a little longer. In August 2013, I went back to Singapore to have my internship in 701 Search, SPH. I stayed in Singapore until mid-October 2013.

From October 2013 - January 2015, I joined Indonesia Mengajar. I only go back at home before I depart to South Halmahera around 4-5 times and in August 2014, when the Eid's holiday.

Yeah, I've left home since then and found the others home in several places.

Let me go back to the theme. Actually, it's not easy to go back to home. The situation has been changed: the people who stay, the communication style, the habits, the layout of the rooms.

I feel so strange in my parent's house. I feel that I often disagree with my parents and sisters. I feel so egoistic and can't do what they want me to do. I feel that they also disappointed with me because I'm not consider enough to help the daily works.

Hmm, what do you think? Do you have any suggestions to make me feel home at my own home?


Read More