Memenangkan Pertarungan

No Comments
"History is written by the winner"

Alhamdulillah.

Sudah 6 bulan lebih gw merantau di tanah Saruma. Banyak pelajaran yang bisa gw petik selama perjalanan ini. Mengikuti program Indonesia Mengajar bukanlah suatu hal yang gw bayangkan 4 tahun yang lalu, ketika gw pertama kali kenal yayasan ini dari Iman Usman yang ngajak buat magang di sini.

Perkenalan gw dengan IM bukan baru terjadi begitu saja. Pun dengan orang-orangnya, para pengajar muda dan officernya banyak yang masuk dalam lingkaran pertemanan gw baik di kampus, FIM, maupun PPSDMS. Gw percaya ketika orang-orang baik dipertemukan akan menghasilkan kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda. Itulah yang gw rasakan di IM.

Gerakan ini penuh dengan orang-orang baik yang keras kepala. Ya, keras kepala. Seringkali banyak pihak yang nyinyir dengan keberadaan gerakan ini. Tapi korps pengajar muda, relawan Indonesia Menyala, Kelas Inspirasi dan korps Donatur Publik tetap bekerja. Bekerja demi menciptakan dunia pendidikan di Indonesia yang lebih baik.

Jujur, gw baru menemukan sekolah kepemimpinan yang sebenarnya di IM. Bayangkan, hidup sendiri di desa terpencil yang susah sinyal dan tidak ada listrik saja sudah merupakan suatu kesulitan hidup (bagi orang kota yang terbiasa hidup nyaman dan dimanjakan dengan segala kemudahan fasilitas-red), apalagi ditambah harus mengajar di SD yang gurunya jarang masuk, kemampuan akademis anak-anaknya rendah, guru-guru dan kepala sekolah yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada kemajuan anak didik dan seterusnya. Belum lagi ditambah berurusan dengan pemerintah daerah yang terkadang membuat kita mengelus dada berkali-kali. Ada juga dinamika kelompok penempatan yang terkadang membuat dilema jika tidak sepahan dengan kelompok maka habislah kita, ga ada teman sehidup semati lagi di sini.

Ah ya, 6 bulan. Waktu yang tidak singkat. Terasa singkat setelah dilewati. Jika kalian bertanya apa yang sudah saya berikan selama menjadi PM? Jawabannya simpel, saya belum memberikan apa-apa selain melaksanakan kewajiban saya mengajar di kelas, mengembangkan bakat anak didik dan membantu pemda melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk memajukan pendidikan bersama kelompok. Tapi, jika kalian bertanya apa yang saya dapatkan selama 6 bulan ini? Banyak sekali. Saya mendapat beragam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya memilih hidup mapan and "do nothing" di kota.

Saya belajar banyak, bagaimana selama ini saya kurang mengenal diri saya. Bagaimana keramahan penduduk Halmahera Selatan, khususnya di desa Bajo Sangkuang menyapa saya setiap saya lewat, bagaimana keceriaan anak-anak yang rindu akan kehadiran guru yang dekat dengan mereka, serta bagaimana hidup bersama dalam kelompok yang terdiri dari berbagai sifat dam karakter dalam jangka waktu yang sangat panjang.













Saya percaya, Allah telah menakdirkan saya di sini bukan tanpa alasan. Saya bersyukur, bisa melihat indahnya awan  dan pelangi selepas hujan.  di pulau Bacan. Indahnya gugusan bintang dan bulan purnama yang dapat dinikmati dari tengah lautan. Lezatnya ikan ngafi (teri) dan kerupuk kamplang khas desa Bajo. Serunya berenang di tepian pantai dan menikmati gugusan karang serta ikan kecil yang indah. Langit di kala matahari akan terbit dari timur dan terbenam dari barat yang sangat menawan.















Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Saya bisa katakan, akhirnya saya merasakan bahagia hidup di tempat ini. Saya merasakan kenikmatan hidup yang luar biasa di sini. Saya telah memenangkan pertarungan dari ego pribadi saya yang pada bulan-bulan awal masih sangat menyesal dengam keputusan yang telah saya ambil. Saya percaya dan berharap 6 bulan ke depan akan menjadi waktu yang terbaik dalam hidup saya di Halmahera Selatan. Amin.














Labuha, 26 Juni 2014

Menunggu waktu liburan ke Guraici :)
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar