Republik Twitter

3 comments

 Sabtu kemarin saya (akhirnya) nonton film Republik Twitter, sebuah film yang dipromosikan sama Bang Bachtiar pas TPD (dan sama Bang Ihsan juga kayaknya pas KIK). Sebabnya, itu film yang produserin salah satu alumni PPSDMS namanya Fauzan Zidni. Bahkan, sebetulnya peserta dan alumni PPSDMS diajak nonton bareng film ini (dan dibayarin) sayangnya saya gak bisa males ikut nonton karena minggu malem dan saya baru balik dari Bandung siangnya.



Jadi, film ini bercerita tentang kisah cinta dua orang yang kenalan lewat twitter, namanya @lorosukmo, mahasiswa asal Jogja dan @dyahanum seorang wartawati junior yang tinggal di Jakarta. Suatu ketika, si Sukmo, panggilan akrab Loro Sukmo, pergi ke Jakarta, tujuan awalnya untuk "Mencari Komitmen" sama hubungannya dengan si Hanum, panggilan akrabnya Dyah Hanum.



Perjalanan ke Jakarta dia tempuh dengan menumpang mobil temannya, menginap pun juga di tempat temannya yang diperankan oleh Ben Kasyafani.  Tapi, karena ke"chiken"annya, Sukmo belum berhasil bertemu Hanum pada janji mereka yang pertama. Alih - alih komitmen, justru kerja yang didapat Sukmo. Saya tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang pekerjaan yang diambil Sukmo yaitu "Konsultan Komunikasi".



Sebetulnya, pekerjaan yang dilakukan Sukmo adalah Viral Campaign, yang termasuk ke dalam salah satu strategi PR. Menyebarluaskan tweet tentang "ArifPambudiforDKI1" hingga akhirnya menjadi trending topic dan dibicarakan oleh banyak pihak. Sukmo dan tim Pak Belo, pemilik warnet yang mempekerjakan Sukmo akhirnya berhasil menjadikan "Arif Pambudi" yang tidak lain adalah bapak pacar teman Sukmo. Namun, karena kecintaannya terhadap Hanum, ia membuka rahasia viral campaign akhirnya usaha yang dirintis Belo dan teman2nya hancur.



Suatu hal yang membuat saya tertarik membahas film ini adalah tentang kisahnya yang mengangkat pekerjaan "Konsultan Komunikasi". Pekerjaan itulah yang sedang saya jalani saat ini, lebih tepatnya Public Relations Consultant (Konsultan Relasi Publik). Saya mulai akrab dengan istilah-istilah komunikasi, termasuk di dalamnya advertising, PR dan jurnalisme.



Menurut saya, film ini belum dapat dikatakan sebagai film yang "wajib" ditonton. Pasalnya, ceritanya biasa saja dan pesan yang ingin disampaikan belum dapat ditangkap dengan baik. Saya juga merasa bahwa cerita tentang "Konsultan Komunikasi" itu diangkat karena produsernya juga bekerja di dunia itu...hehe.



All in all, film ini masih cukup baik bagi mereka yang ingin merefleksikan aktivitasnya di twitter :)

 
Update : dan sekarang gw dapet projek tentang penggunaan sosial media dalam PR zzzz
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

3 komentar

Ecky Agassi mengatakan...

sungguh postingan yang sangat pendek

bagus gak filmnya vin?

komentar saya lebih panjang dai postingannya, hahaha :D

akuanaktambang mengatakan...

Komen juga ah..
pertama film itu ga ada di bandung,itu yang ngebuat saya agak kesal dengan postingan itu
Yang kedua ternyata seru juga negeri 5 menara, apalagi..
hahahahaha..

Udah ah, komen asal nih..

avina_nadhila mengatakan...

Sudah saya apdet Ecky, sila dibaca :D