Langsung ke konten utama

Membumikan Zakat, Meretas Jalan Kebaikan


Sumber : http://filipspagnoli.files.wordpress.com/2008/08/poverty.jpg


If the misery of the poor be caused not by the laws of nature, but by our institutions, great is our sin.
~Charles Darwin



Hidup itu nikmat. Ya, nikmat bagi orang yang bisa menikmati hidup. Kenikmatan hidup biasanya diidentikkan dengan kenyamanan, kemewahan, kekayaan, dan kebahagiaan. Namun, apakah semua orang memiliki kenikmatan tersebut? Tentu tidak jawabannya.

sumber : http://www.worldhunger.org/articles/Lear
/world%20hunger%20facts%202002.htm#Number_of_hungry_people_in_the_world

Dunia hari ini adalah dunia yang penuh ketimpangan. Hampir 1/6 penduduk bumi masih hidup di bawah garis kemiskinan, lebih dari 700 juta penduduk miskin menderita kelaparan ekstrim. Mirisnya, hampir 80% penduduk miskin tersebut tinggal di wilayah Asia Pasifik, Sub-Sahara Afrika, dan Timur Tengah serta Afrika Utara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Bandingkan dengan negara-negara maju yang minim penduduk muslimnya. Angka kemiskinan ekstrim yang ada di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa bahkan kurang dari 1% angka penduduk miskin dunia. (sumber : http://www.worldhunger.org/articles/Lear/world%20hunger%20facts%202002.htm#Number_of_hungry_people_in_the_world)

Sungguh, merupakan suatu ironi jika di negara berpenduduk mayoritas muslim, justru di sanalah ketimpangan sosial paling banyak terjadi. Di manakah perwujudan nilai-nilai islam mengenai persamaan, kesetaraan, keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan? Bukankah dalam ajaran islam terdapat suatu sistem yang mencegah masyarakatnya tidak memusatkan kekayaan pada satu golongan? Di manakah sistem tersebut berada saat ini?

Islam memang telah membangun sebuah sistem yang mengatur persebaran kekayaan bagi masyarakat, sehingga tercipta sebuah trickle down effect untuk mendukung jaringan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Sistem tersebut bernama sistem zakat. Zakat yang merupakan salah satu rukun islam dan kewajiban atas manusia, terbukti membawa kemakmuran bagi masyarakat jika diimplementasikan dengan baik. Dapat kita lihat bukti dari kemakmuran yang terjadi pada masyarakat di masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dari kekhalifahan Bani Umayyah.

Ketika itu, para amil (pengumpul) zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika untuk mencari mustahik (orang yang berhak menerima) zakat, tapi mereka tidak menemukan seorangpun yang mau menerima zakat. Rakyat saat itu benar-benar hidup makmur karena sistem pengelolaan dan pendistribusian zakat serta kekayaan negara dikelola dengan baik. Sulit rasanya mengulangi masa kemakmuran di zaman Umar bin Abdul Aziz, jika saat ini umat islam enggan mengeluarkan minimal 2,5% dari penghasilannya untuk diberikan kepada mustahik zakat.

Padahal, dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 103 dijelaskan
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat kamu membersihkan dan menyucikan mereka. Sesungguhnya doa kamu menjadi ketentraman jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Jelas, di sini bahwa zakat tidak hanya berperan secara sosial untuk meratakan kemakmuran tetapi juga berfungsi sebagai penyuci dan pembersih jiwa. Hal inilah yang tidak disadari oleh masyarakat kebanyakan. Kebanyakan umat islam masih menganggap zakat yang wajib dikeluarkan hanya zakat fitrah dan untuk orang mampu saja. Belum lagi terlalu berat rasanya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan untuk dimasukkan ke dalam kotak amal, sementara uang tersebut bisa disimpan untuk makan malam yang agak mewah. Keuntungan zakat yang tidak bisa dilihat secara kasat mata juga menjadi salah satu faktor keengganan sebagian umat islam dalam mengeluarkan zakat.

sumber : http://tabunganpeduliummat.com/wp-content/uploads/2011/04/lembaga_amil_zakat.gif

Menjadikan zakat sebagai sebuah tren atau gaya hidup, mungkin merupakan alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Untuk menjadikan zakat sebagai sebuah tren, tentu memerlukan dukungan dari semua pihak dan stakeholder yang terlibat di dalamnya. Diperlukan upaya inovatif untuk mengkampanyekan zakat sebagai gaya hidup modern.

Salah satu ide yang tercetus di benak penulis adalah menggunakan
social media sebagai alat untuk mempromosikan zakat.

Di era web 2.0 saat ini, rasanya kita tidak lagi asing dengan pemakaian situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan You Tube. Jumlah pengguna internet di dunia yang mencapai 27,1% dari jumlah penduduk merupakan potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan dalam penyebaran suatu informasi (data dari Bank Dunia, 2010). Tidak heran, banyak kampanye sosial saat ini memanfaatkan berbagai jejaring sosial yang ada di dunia maya untuk mempromosikan idenya.


sumber : http://www.google.com/publicdata/explore?ds=d5bncppjof8f9_&met_y=it_net_user_p2&tdim=true&dl=id&hl=id&q=pengguna+internet+di+dunia#ctype=l&strail=false&nselm=h&met_y=it_net_user_p2&scale_y=lin&ind_y=false&rdim=country&idim=country:IDN&tdim=true&hl=in&dl=in

Saya membayangkan, kampanye "membumikan zakat" bisa dimulai dari beberapa orang yang berinisiasi untuk membuat gerakan #supportzakat menjadi trending topic di Twitter ataupun Fan Page di Facebook. Kita dapat melihat contoh sukses iklan es krim "Magnum" yang memanfaatkan fasilitas social media untuk membentuk tren baru di kalangan remaja. Oleh sebab itu, saya optimis kampanye yang gencar dilakukan di social media juga dapat mengubah gaya hidup masyarakat untuk sadar mengeluarkan zakat.

Dengan kekuatan masyarakat Indonesia sebagai pengguna twitter terbanyak keempat dan pemilik akun Facebook terbanyak kedua di dunia, kampanye
#supportzakat ini merupakan salah satu alternatif upaya membumikan zakat.

Selain kampanye yang dilakukan baik melalui
social media tentu saja harus ada upaya dalam perbaikan sistem pengelolaan zakat itu sendiri. Pemerintah sebagai stakeholder utama harus berperan untuk mendorong keaktifan masyarakat mengeluarkan zakat bekerjasama dengan stakeholder utama lainnya seperti lembaga amil zakat dan Majelis Ulama. Harus ada komitmen bersama di tingkat atas untuk membuat sistem perzakatan menjadi lebih profesional dan bersinergi dengan upaya pemerintah dalam memberantas kemiskinan.

Diharapkan melalui kampanye-kampanye yang dilakukan melalui
social media, mengeluarkan zakat menjadi sebuah tren ataupun gaya hidup baru yang dapat meretas jalan menuju kebaikan. Sehingga, kebahagiaan hidup tidak hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi juga oleh seluruh umat manusia tanpa memandang golongan.(ANW)

Komentar

Ecky Agassi mengatakan…
Tulisannya bagus, penuh data pendukung,

betul, saya sangat setuju dengan kampanye zakat dan saling berbagai menjadi sebuah gaya hidup,
Subhanallah, dengan adanya sistem zakat, sistem ekonomi syariah, membuktikan Islam memang sangat menyeluruh

Postingan populer dari blog ini

Operasi Abses Kelenjar Bartholini

Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar kawan2? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat serta tetap semangat menjalani aktifitas.
Apa kabar saya?

Alhamdulillah, keadaan saya hari ini jauh lebih baik dari kemarin maupun beberapa hari yang lalu. Teman2 yang baca postingan saya sebelumnya mungkin telah mengetahui bahwa beberapa hari ke belakang saya menderita suatu penyakit yang membuat saya susah duduk, bangun dan berjalan. Sampai - sampai saya harus masuk UGD untuk disuntik obat penghilang rasa sakit di pantat saking tidak tahannya.
Ternyata, setelah pulang dari UGD, obat penghilang rasa sakit itu hanya bertahan satu malam. Keesokan harinya, saya mengalami sakit yang sama. Susah duduk, bangun dan berjan. Terkadang, rasanya perih sekali, sampai-sampai saya menangis karena tidak dapat menahan sakitnya. Namun, karena sudah diberikan salep dan obat penghilang rasa sakit beberapa saat sakitnya mereda. Bahkan dua hari kemudian saya memberanikan diri untuk pergi ke Jurong Point sendirian memb…

PKS dan Kampus

Assalamualaikum Wr.Wb.

Iseng, lagi googling ttg "Majelis Syuro SALAM UI" eh malah nemu di thread ini http://forum.dudung.net/index.php?topic=14562.20;wap2

padahal, tadinya gw mau ngebandingin aktivitas LDK2 di universitas2 di Indonesia, macam Salam UI dan Gamais ITB...yo weis lah....
skg saatnya dibuka semuanya....

yang mau tau siapa mereka?apa saja yang mereka lakukan? yuk intip curhatan mba Arbania Fitriani ex-kader PKS

Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari 'am sirriyah sampai ke 'am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS. Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran,yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro'ah (MS), lingkaran ke dua yakni majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), dan lembaga kerohanian islam. Jenjangnya adalah mulai dari lembaga d…

S3 atau Nikah dulu?

Kemarin saya baru kenalan dengan Mbak Margie, yang baru saja diterima menjadi salah satu Research Analyst di RSIS.

Beliau ini adalah lulusan Mechanical Engineering di NUS, yang kemudian melanjutkan masternya di Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) dan King's College, London. Sebagai peraih dua gelar master dan lulusan Teknik Mesin di NUS, tentu saja keahlian dan tingkat kecerdasan beliau tidak usah kita pertanyakan lagi.

Sayangnya, di usia mbak Margie yang mungkin 10 tahun di atas saya, beliau masih single. Pernyataan ini tiba-tiba terlontar, setelah pak Ardian, rekan saya dari TNI bertanya, apakah setelah ini mau melanjutkan S3 langsung atau ke mana. Mbak Margie yang mungkin terdesak oleh social pressure dan merasa membutuhkan seorang pendamping dengan segera menjawab, "tentu saja menikah dulu Pak..."

Diskusi pun berlanjut dengan tanggapan Pak Paulus, salah seorang rekan dari TNI juga yang berkelakar, "wah, sudah punya 2 gelar master agak susah lho Mbak untuk m…