Langsung ke konten utama

Kontroversi Dana Aspirasi : Dilema Demokratisasi Indonesia


oleh : Avina Nadhila Widarsa, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia

Beberapa hari terakhir, media cetak maupun elektronik ramai-ramai memberitakan usulan kebijakan anggota DPR yang sangat tidak populis, yakni dana aspirasi daerah pemilihan (DAD). Mengapa usulan ini tidak populis? Sebab, usulan mengenai dana aspirasi daerah yang gencar-gencarnya didukung oleh partai berlambang pohon beringin ini, ditengarai hanya akan melegalkan korupsi berjamaah yang sangat mungkin dilakukan oleh para wakil rakyat jika mendapatkan dana Rp 15 Miliar setiap tahun untuk daerah pemilihannya. Selain itu, pemerintah melalui menteri keuangan, Agus Martowardojo dan menteri koordinator bidang perekonomian, Hatta Rajasa juga tidak sepakat dengan adanya usulan yang akan semakin memberatkan APBN ini. Alasan yang digunakan pemerintah adalah adanya dana aspirasi tersebut akan menimbulkan kerancuan anggaran, komplikasi pengalokasian dana, menimbulkan masalah administrasi di masing-masing APBD, kerumitan pada perencanaan dan implementasi, serta bermasalah dalam pertanggungjawabannya.

Dana aspirasi yang disebut-sebut menjadi suatu upaya untuk mengurangi gap pembangunan antara daerah yang maju dengan daerah yang kurang berkembang, tentu saja ditolak mentah-mentah oleh masyarakat. Alasan yang sangat simpel untuk mementahkan usulan tersebut adalah dana aspirasi yang diusulkan untuk memeratakan pembangunan daerah, nyata-nyata tidak akan bisa memeratakan pembangunan di daerah. Hal ini dikarenakan daerah pemilihan terbanyak berada di pulau Jawa, sementara jika anggota DPR ingin melakukan pemerataan pembangunan mereka seharusnya lebih memfokuskan pada daerah-daerah terpencil, yang ironisnya menjadi daerah pemilihan yang lebih sedikit sebab populasi di daerah tersebut juga sedikit.

Usulan ‘konyol’ dari anggota DPR mengenai daerah pemilihan ini sering diidentikkan dengan dana “Pork Barrel” (segentong babi) yang ada di Amerika Serikat. Praktik pengalokasian dana publik yang dilakukan oleh anggota parlemen AS dengan tujuan meraih kembali simpati para konstituennya untuk memilih mereka pada pemilu berikutnya telah menjadi hal yang lazim namun tetap menjadi kecaman di sana. Memang benar, bahwa di AS keberhasilan seorang anggota parlemen kadang kala diukur dari seberapa berhasilnya mereka memperjuangkan ‘dana aspirasi’ untuk daerahnya. Namun, apakah ini juga dapat berlaku di Indonesia?

Istilah demokrasi berharga mahal, sedikit banyak dijadikan justifikasi usulan dana aspirasi sebesar Rp 8,4 Triliun per tahun itu. Dana aspirasi daerah ini dijadikan sebagai ‘balas jasa’ dari anggota DPR kepada konstituen yang telah memilih mereka. Di negara demokrasi, siapa yang paling memberikan keuntungan bagi para konstituen tentu mereka yang akan dipilih kembali pada pemilu berikutnya. Dengan adanya dana aspirasi daerah, diharapkan para konstituen menikmati keuntungan langsung dari wakilnya di parlemen. Namun, apakah itu esensi dari demokrasi yang sedang dikembangkan di Indonesia saat ini? Demokrasi dari uang, untuk uang, kepada uang?

Seyogyanya esensi dari pemilihan umum adalah untuk memilih wakil rakyat yang diharapkan bekerja sepenuh hati untuk rakyat. Jikalau dana aspirasi daerah akan benar-benar dipergunakan untuk membangun daerah pemilihan, mungkin boleh saja para wakil rakyat itu bersikukuh untuk mempertahankan usulan ini agar menjadi kebijakan. Masalahnya track record DPR kita yang sangat buruk dalam hal transparansi dan akuntabilitas keuangan membuat masyarakat tidak percaya akan kemampuan mereka mengelola dana aspirasi tersebut. Selain itu, dalam fungsi budgetingnya, anggota DPR memang bukan pada tempatnya untuk mengelola anggaran, sebab pengelolaan anggaran hanya dilakukan oleh pihak eksekutif (pemerintah pusat dan daerah). Jadi, jelas sekali bahwa mereka yang mengusulkan dana ini tidak paham arti demokrasi sesungguhnya, ketika mayoritas rakyat menuntut mereka untuk menyejahterakan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan politik semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Operasi Abses Kelenjar Bartholini

Assalamu'alaikum wr. wb. Apa kabar kawan2? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat serta tetap semangat menjalani aktifitas. Apa kabar saya? Alhamdulillah, keadaan saya hari ini jauh lebih baik dari kemarin maupun beberapa hari yang lalu. Teman2 yang baca postingan saya sebelumnya mungkin telah mengetahui bahwa beberapa hari ke belakang saya menderita suatu penyakit yang membuat saya susah duduk, bangun dan berjalan. Sampai - sampai saya harus masuk UGD untuk disuntik obat penghilang rasa sakit di pantat saking tidak tahannya. Ternyata, setelah pulang dari UGD, obat penghilang rasa sakit itu hanya bertahan satu malam. Keesokan harinya, saya mengalami sakit yang sama. Susah duduk, bangun dan berjan. Terkadang, rasanya perih sekali, sampai-sampai saya menangis karena tidak dapat menahan sakitnya. Namun, karena sudah diberikan salep dan obat penghilang rasa sakit beberapa saat sakitnya mereda. Bahkan dua hari kemudian saya memberanikan diri untuk pergi ke Jurong Point

Selamat 7 Bulan Kemilau :)

 Halo anak sayang, Selamat 7 bulan lahir ke dunia ya.  Semoga Kemilau tumbuh sehat, bahagia, jd anak baik dan sholehah, selalu dilindungi Allah SWT dan terhindar dari segala hal-hal buruk dan keburukan. Kemilau yang baik, semakin pintar ya nak sayang, sekarang sudah kuat mengenggam, bisa tengkurap dan bolak balik sendiri. Sudah mulai makan, walaupun kemarin mulai GTM dan diare huhu. Maafin mama ya nak, kemarin kasih kemi makanan yang ngga fresh. Semoga membaik hari ini dan hari-hari berikutnya ya. Nak sayang, mama denger lagu dari tante Raisa, judulnya "Jangan Cepat Berlalu", persis pas mama dengerin lagu ini, teman kantor Mama, mba Dewi dateng dan pesan ke mama, "nikmati waktu-waktu bersama anak ya Vin, ga kerasa tiba-tiba udah besar, udah sekolah, kuliah dll." Nak, mama sayang banget sama Kemi. Kalau Kemi nanti bisa baca ini, Kemi doain mama ya.  I love you Kemilau 💗 Hm hm Saat engkau dipelukanku Ba gaikan beribu kisah cinta Melebur jadi satu Ajariku tentang cin

Aku Takut

 Tragedi stadion Kanjuruhan malam minggu lalu benar-benar membuat aku shock. Sedih dan marah sekali. Kukira di pagi hari aku melihat running text TVone beritanya ada total 129 penonton yang meninggal dalam waktu satu tahun atau mungkin akumulasi semua total korban tewas selama pertandingan sepak bola di Indonesia diadakan. Ternyata bukan, angka tersebut merupakan angka manusia yang hilang nyawanya dalam satu malam . Innalillahi wa inna ilaihi roji'un Bencana kemanusiaan. bukan tragedi. bisa jadi settingan? Naudzubillahi min dzalik, jikalau ini memang di-setting untuk mengguncangkan tanah air dengan ratusan nyawa melayang dalam semalam. Terlepas apapun motifnya, penembak gas air mata (dan yang memberi perintah) harus dihukum seberat2nya.  Di mana rezim yang melindungi? ratusan korban hilang seketika dalam hitungan jam.  Sementara para petinggi masih bisa haha hihi memikirkan perputaran uang yang terhenti sementara karena bencana itu. Ya Allah, lindungilah kami semua. Kami dan keluar