Refleksi Nilai-Nilai Pancasila Setelah 64 Tahun Kemerdekaan Republlik Indonesia

No Comments
Pancasila. Sebuah kata yang harusnya kita hafal diluar kepala isinya. Ya, karena selama 12 tahun dari SD hingga SMA kita terus didoktrin dengan ideologi yang katanya menjadi perjanjian luhur, falsafah hidup bangsa, pandangan hidup negara, dan lain-lain. Namun, setelah Republik Indonesia merdeka setelah 64 tahun, nilai-nilai pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa tersebut belum benar-benar diterapkan dengan sepenuh hati oleh seluruh masyarakat Indonesia, dan bahkan cenderung memudar sejak zaman reformasi atau pasca orde baru saat ini.Menurut AM Fatwa dalam sebuah wawancara dengan koran Suara Pembaruan 2 tahun lalu mengatakan "Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara telah memudar. Bukan hanya pada generasi muda, tapi juga pada diri para tokoh yang ada sekarang ini, yang menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia, Kita lihat dari gejala-gejala dan bukti-bukti, sekarang ini nilai-nilai itu sudah memudar. Bukan hanya pada generasi muda," tutur Fatwa, di Jakarta, Minggu (3/6/2007).
Dia berpendapat, semangat dan nilai-nilai Pancasila, seperti saat dilahirkan melalui pidato mantan Presiden Soekarno, mesti diangkat kembali. "Peristiwa penting dan heroik yang mengandung nilai historis, filosofis kenegaraan, sudah banyak dilupakan," ucap politisi dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu.
Apa yang membuat nilai-nilai Pancasila memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia tentu saja tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa 'penting-yang-mengandung-nilai historis-dan kenegaraan semata'. Selain itu tentu saja ketauladanan dari para pemimpin bangsa yang semakin kemari tidak menempatkan pancasila sebagai acuan tindak dan perilakunya mungkin bisa lebih menjelaskan mengapa selama 64 tahun kemerdekaan pancasila tetap akan menjadi slogan dan hafalan wajib bagi seluruh siswa sekolah dasar hingga menengah di Indonesia. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh HAR Tilaar "Pancasila hanya dijadikan slogan di bibir para pemimpin, tetapi berbagai tindak dan perilakunya justru jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila,kurangnya komitmen dan tanggung jawab para pemimpin bangsa melaksanakan nilai-nilai Pancasila tersebut, telah mendorong munculnya kekuatan baru yang tidak melihat Pancasila sebagai falsafah dan pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya, terjadilah kekacauan dalam tatanan kehidupan berbangsa, di mana kelompok tertentu menganggap nilai-nilainya yang paling bagus".
Pancasila Sebagai Ideologi Pada zaman orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto, Pancasila dijadikan sebagai alat untuk membentuk suatu integrasi nasional dan integrasi sosial, walaupun terkesan dipaksakan dengan menggunakan cara-cara yang koersif. Pemaksaan penanaman ideologi pancasila tersebutlah yang akhirnya membawa dampak bagi sebagian kelompok masyarakat bahwa pancasila sebagai sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah dan tidak boleh ditolak. Di lain pihak, ada banyak kelompok yang menentang keras ideologi yang dipaksakan tersebut sehingga dapat dipastikan pelaksanaan nilai-nilai pancasila yang ditanamkan secara represif tidak berhasil menumbuhkan kesadaraan kebangsaan dan kebernegaraan masyarakat Indonesia sepenuhnya pada waktu itu.Setelah orde baru tumbang, nilai pancasila pun sudah tidak lagi ditanamkan secara represif. Nilai-nilai pancasila saat ini malah semakin terabaikan, seperti yang ditulis oleh harian Pikiran Rakyat, hal ini bisa dirasakan dari dicabutnya Tap MPR nomor 2/1978 ttg P4 & dibubarkannya BP7, yang berarti secara formal tidak ada lagi lembaga yang mengkaji dan mengembangkan Pancasila. Selain itu UU nomor 20/2003 tentang pendidikan nasional tidak lagi menyebut Pancasila sebagai pelajaran wajib. Sehingga kedepan generasi muda akan kehilangan makna Pancasila, sebagai jatidiri bangsa yang digali dari bumi sendiri. Sebuah ideologi yang mampu mengakar kuat dalam masyarakat suatu bangsa disebabkan karena ideologi tersebut telah mampu dijasikan sistem hidup dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya, bukan hanya sekedar mitos dan angan-angan belaka. Apa yang kita lihat sebagai suatu ideologi pancasila sebenarnya belum menjadi sebuah ideologi yang sekuat ideologi kapitalisme di barat maupun ideologi komunisme di China. Ideologi pancasila hanyalah sebuah angan-angan belaka jika masyarakat Indonesia masih menjadikan ideologi lain sebagai panduan hidupnya. Contoh kecil saat ini, setelah pancasila bukan lagi dijadikan alat untuk memaksa integrasi sosial dan integrasi nasional Indonesia, banyak kelompok yang memproklamirkan ideologi lain untuk dipraktikan di kehidupan berbangsa dan bernegara seperti idologi berdasarkan agama, sosialisme, hingga masyarakat yang pro pada liberalisme dan kapitalisme. Semua berlomba menunjukkan bahwa pancasila saat ini sudah tidak relevan lagi dan ketinggalan zaman.
Pancasila dan Kelima SilanyaApakah benar pancasila sudah tidak relevan lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini? Mari kita lihat implementasi dari kelima sila tersebut satu persatu.1. Ketuhanan Yang Maha EsaSempat dikabarkan ada segolongan orang yang ingin mengubah bunyi sila pertama ini ke bentuk aslinya (dalam piagam Jakarta sehingga berbunyi "Ketuhanan yang maha esa dan kewajiban menjalankan syariah islam bagi para pemeluknya"). Namun, tentu saja hal ini ditolak oleh banyak kalangan yang beranggapan bahwa Indonesia bukan negara agama, namun negara yang berdasarkan multikulturalisme. Relevansi sila pertama saat ini juga masih terus digoyang dengan semakin banyaknya penduduk dan warga negara Indonesia yang memproklamirkan dirinya sebagai atheis (tidak bertuhan) maupun agnostik (tidak beragama). Fenomena ini muncul setelah orde baru di mana di KTP yang baru ada pilihan untuk tidak mencantumkan agama yang mereka anut apabila mereka menganut agama lain selain yang diakui oleh pemerintah secara resmi ataupun bagi mereka yang atheis dan agnostik2. Kemanusiaan yang adil dan beradabBeberapa tahun belakangan ini sila kedua tidak lagi bisa dijadikan sebagai patokan bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang adil dan beradab. Buktinya, masih banyak kita dengar tindakan-tindakan tidak terpuji seperti pemerkosaan, mutilasi, dan tindakan kriminal lain yang seharusnya tidak dilakukan oleh manusia yang mempunyai adab dan moral. Pemerintah pun memiliki andil besar dalam menurunkan citra manusia Indonesia dengan memperlakukan mereka dengan tidak adil dan tidak beradab. Penggusuran dan penertiban pedagang kaki lima yang dilakukan oleh satpol PP misalnya, menjadi berita yang miris ketika kita melihat para warga yang berasal dari kelas menengah ke bawah tersebut ditendang-tendang dan diperlakukan bukan selayaknya sebagai manusia. Pembagian BLT (bantuan langsung tunai) pun bisa dijadikan sebagai contoh bahwa pemerintah saat ini telah menurunkan harkat dan martabat bangsa dengan mengajarkan manusia Indonesia sebagai orang yang tergantung dan peminta-minta.3. Persatuan IndonesiaSetelah habisnya masa orde baru, sampai saat ini belum ada lagi kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat Indonesia ke dalam ikatan nasionalisme yang kuat seperti dahulu. Pancasila yang dahulu dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa sekarang mulai hilang dan pudar dimakan waktu, sehingga persatuan Indonesia yang ada saat ini bukan lagi persatuan berdasarkan asas dan ideologi, melainkan persatuan berdasarkan keuntungan dan kebermanfaatan.Hilangnya ikatan nasionalisme tersebut bisa jadi disebabkan oleh orientasi masyarakat Indonesia saat ini yang cenderung ke arah individualis dan eksklusifis.4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilanAdanya pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung sebenarnya mengurangi fungsi lembaga perwakilan rakyat seperti yang tertuang dalam sila keempat pancasila tersebut. Anggota DPR dan DPRD sebagai representatif masyarakat saat ini bukan lagi dilihat sebagai lembaga yang merakyat-memiliki hikmat kebijaksanaan-dan menentukan setiap kebijakannya dengan permusyawaratan. Lembaga legislatif saat ini lebih dilihat sebagai lembaga 'pengkhianat rakyat' karena tidak menjalankan fungsi dan kewajiban sebagaimana mestinya dan banyak mengecewakan rakyat dengan skandal-skandal kotor yang dilakukan oleh para anggotanya. Asas permusyawaratan juga mulai ditinggalkan dan digantikan oleh asas suara terbanyak saat ini yang disebabkan oleh perkembangan demokrasi di Indonesia.5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaSila kelima ini menjadi sangat menarik untuk dibahas sebab ada kata-kata "keadilan sosial" di sini. Beberapa pihak mengartikan keadilan sosial di sini sebagai tanda bahwa Indonesia pada saat pancasila ini dibuat adalah salah satu negara yang cenderung sosialis karena mengutamakan keadilan sosial daripada keadilan individu. Sementara itu, saat ini justru yang terjadi adalah keadilan individu lebih diprioritaskan daripada keadilan sosial. Hal ini terlihat dari gejala persaingan usaha di Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perkembangan ke arah sistem kapitalisme, di mana yang paling banyak memiliki modal, dia yang akan menguasai seluruh pasar. Ekonomi pancasila yang didengung-dengungkan sebagai perwujudan sila kelima ini sudah tidak lagi memiliki tajinya. Paham neo-liberalisme yang masuk ke Indonesia secara tidak langsung menggeser paradigma ekonomi pancasila yang selama ini dibangun secara normatif. Amandemen pasal 33 UUD 1945 juga mengisyaratkan kepada kita bahwa nilai keadilan sosial yang selama ini kita pegang sudah bergeser dari apa yang seharusnya diimplementasikan.
Melihat dari kelima sila di atas dan pengimplementasiannya pada saat ini, sepatutnya kita berpikir kembali apa makna pancasila dalam kehidupan kita masing-masing, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apa yang sudah dirusmuskan dan disetujui oleh para pemimpin bangsa terdahulu seharusnya menjadi pegangan hidup kita karena mengandung cita-cita luhur bangsa Indonesia. Pancasila setelah 64 tahun kemerdekaan sebaiknya dilihat bukan hanya sebagai slogan ataupun ucapan belaka. Namun, lebih dari itu, sebagai sebuah pegangan yang menjadi pedoman hidup dan falsafah hidup bangsa. Oleh sebab itu, perlu kesadaran dari seluruh elemen bangsa ini jika kita ingin mengembalikan nilai-nilai dalam pancasila sebagaimana mestinya.Pertanyaannya sekarang : sudah sadarkah dan maukah kita untuk mengimplementasikan nilai-nilai dalam pancasila?

ditulis untuk dialektika KSM EP UI Agustus 2009
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar