Cerita dalam Kereta

No Comments
Hari ini aku memang berencana pulang ke rumah naik kereta. Seperti yang kalian tahu, sebenarnya jarak dari depok ke bintaro bisa ditempuh setengah jam perjalanan jika tidak macet dan menggunakan mobil. Kalau naik deborah pun paling lama hanya satu jam (Sampai Lebak Bulus).Sementara, jika naik kereta, aku membutuhkan waktu satu sampai dua jam, karena harus memutar dahulu mengelilingi ibukota. Tidak ada sambungan rel kereta yang langsung dari Depok-Serpong. Namun, hari ini aku memilih naik kereta. Mode transportasi murah, bebas macet, paling disukai banyak kalangan. Dari eksekutif muda sampai mbak2 SPG. Dari anak sekolah sampai pedagang beras. Semuanya ada di kereta.
Selain itu, juga untuk menghindari kemacetan parah di dekat gerbatama gara2 perbaikan jembatan yang macetnya sampai ke Depok, sehingga pintu masuk UI pun dibuka untuk umum demi mengalihkan kemacetan teresebut.

Alhamdulillah, begitu sampai di stasiun UI, tak lama menunggu kereta jurusan tanah abang datang. Tak ada pilihan lain, kereta itu penuh dengan penumpang sehingga aku harus berdiri di tengah berbagai macam manusia. Memang, perjalanan Depok-Tanah Abang aku tempuh menggunakan kereta ekonomi. Realitas sosial yang tidak jauh beda aku alami jika pulang-pergi ngajar ke Citayam menggunakan KRL ekonomi tujua Bogor. Masih ada penjual minuman, pedagang asongan (mulai dari buah, buku, aksesoris), pengamen (baik yang masih sehat maupun yang -kurang sehat-), dan lain-lain. Tapi, kali ini tidak ada anak kecil peminta2 yang suka "membersihkan" lantai kereta. Tidak ada lagi ibu2 yang berpura2 jadi gila meminta sesuap nasi. Yang ada "hanya" pengamen2 yang menggunakan kaset dangdut yang ia putar keras2 dng 'sound systemnya' dan pedagang2 tahu, buah, dan buku yang mondar-mandir kesana kemari sepanjang gerbong.

Setidaknya, perjalananku kali ini cukup menyenangkan dengan KRL ekonomi, karena tidak banyak 'pengganggu' yang memintaku berpikir dua kali untuk mengeluarkan segenggam logam. Ya, teman. Aku memang bukan orang yang mudah untuk 'beramal' terlebih kepada peminta2. Bukannya aku pelit, tapi sampai sekarang aku belum bisa menemukan jawaban bahwa memberikan mereka uang, adakah faedahnya? Mungkin hanya untuk beberapa saat, sebelum uang itu masuk kembali ke kantong bos2 mereka, atau dibelikan rokok (seperti pengamen yg tadinya ingin kuberikan tapi tidak jadi). Paling banter masuk ke dalam perut mereka melalui nasi bungkus yang dibei di warteg. Ahh...sudahlah..kalau berbicara tentang fenomena sosial di dalam kereta pasti tak ada habisnya...nanti aku lanjutkan lagi...
Tapi, tunggu dulu. AKu masih menyimpan cerita selanjutnya. Perjalananku dengan kereta tidak berhenti di stasiun Tanah Abang. Dari Tanah Abang aku masih harus melanjutkan perjalanan sampai stasiun Pondok Ranji. Kali ini tidak lagi naik KRL ekonomi, melainkan naik ekonomi AC Ciujung yang harganya 45k rupiah. Setidaknya lebih nyaman karena ada AC dan ga ada pengamen, pedagang asongan, atau peminta2 yang lewat dalam kereta.

Tak disangka sebelum naik kereta, di stasiun aku bertemu teman lama. Yah, sebut saja Mr. X. Dia teman SDku. Wajahnya tak banyak berubah.hny postur tubuh yang nampak lebih atletis (karena trnyt dia sering fitness) dan lebih cempreng suaranya. Tapi, klakuannya masih seperti anak SD..menyebalkan,aneh, tp suka bikin ketawa=)

Ah, tapi aku cerita ini bukan berarti ada apa2nya lo sama dia....

Sebelum naik kereta, ternyata sudah bannnnyyyaaakk IBU2 yang menunggu untuk naik kereta yang sama. Si Mr. X bilang "Jangan ampe kalah ama ibu2, soalnya mereka ganas2 klo berebutan kursi, gw aja pernah dihadang pake tangan biar ga masuk duluan"..hhhee..dalam hati aku bilang, ah itu sih, aku udah tau. Wong ibuku juga kayak gituu klo naik kereta..hhhheee

Perjalanan pun dilanjutkan, akhirnya aku dapat tempat duduk dan kusediakan tempat di sebelah juga tempat untuknya.(Bahkan ibu2 di sebelahku sengaja ngetake tempat dng bed cover yg bru ia beli dr pasar..wuih..niat banget nih ibu). Sebenernya ini cuma omong2 biasa. Cerita tentang kampus. Mr. X sekarang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Barat di jurusan teknik. Saya terinspirasi dari kisahnya untuk menulis notes ini.

Alkisah, sewaktu Mr. X kelas 3 SMA dia berniat melanjutkan kuliah di sekolah tinggi penerbangan. Namun, sama ayahnya tidak boleh. Alasannya menurut saya kurang logis dan kurang bisa diterima : "klo jadi Air Crew itu ga boleh cacat sama sekali, sekalinya cacat kamu diGrounded untuk selamanya". Begitu kira2 alasan ayahnya. Teman saya itu tentu saja tidak terima karena alasannya hanya begitu. Karena ia sudah niat, maka pada waktu dibuka pendaftaran bersama temannya ia nekat untuk daftar dan mengikuti tes di dekolah penerbangan itu. Bahkan sampai merogoh koceknya sendiri. Tahapan demi tahapan ia lalui, dan akhirnya ia BERHASIL diterima di sekolah penerbangan tersebut. Ia pikir dengan adanya bukti bahwa ia mampu masuk ke sekolah tersebut ia dapat meluluhkan hati ayahnya. Ternyata TIDAK kawan. Ayahnya tetap teguh pendirian melarang anaknya masuk ke sekolah penerbangan. Padahal, ayahnya juga seorang Air Crew. Perdebatan panjang pun berlangsung, dan akhirnya tetap dimenangkan oleh sang Ayah dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. Sang Ibu pun sudah angkat tangan. Sang ayah tetap tidak membolehkan Mr. X masuk ke sekolah penerbangan padahal ia sudah diterima. Ayah Mr. X kemudian menyarankan agar anaknya mengambil jurusan teknik perminyakan di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia, namun sayangnya Mr.X gagal masuk ke perguruan tinggi tersebut, sehingga harus kuliah di tempatnya sekarang. Mr. X. sebenarnya sudah dapat membuktikan bahwa kekhawatiran ayahnya tentang kemungkinan dia di-grounded sangat kecil. Terbukti, dirinya tidak memiliki cacat fisik sama sekali, tidak merokok, no alcohol, dan sangat menjaga kebugaran tubuhnya dengan fitnes (bahkan waktu saya ketemu dia mau pergi fitness).
Ahhhh...miris saya mendengar cerita Mr. X. Sebuah cita2 harus kandas karena keinginan orang tua. Saya jadi teringat kisah saya setahun yang lalu, di mana saya keukeuh pingin masuk HI UI, tapi ibu saya (dan nenek serta kakek saya) masih berharap saya melanjutkan ke kedokteran. Sementara Om saya menyarankan masuk ke hukum, dan bapak saya masih ingin anaknya mencoba masuk di jurusan teknik ITB.

Memang, terkadang orang tua punya maksud sendiri mengapa mereka memilihkan jurusan untuk anaknya. Pun begitu, mengapa mereka tidak membolehkan anaknya memasuki bidang tertentu. DI lain pihak, anak juga tentu memiliki sebuah cita2 besar yang belum tentu sejalan dengan pikiran kedua orang tuanya. Kejadian seperti ini juga menimpa teman saya semasa SMA, yang bercita2 menjadi seorang ******* eh malah masuk *******. Jauhhh sekali dari bidang yang ingin ia tekuni. Menjadi dilema, ketika di satu sisi kita ingin membahagiakan dan berbakti kepada orang tua, sementara di sisi lain kita juga punya cita2 dan idealisme yang sesuai dengan minat dan bakat kita.

Cerita2 ini mungkin sangat banyak terjadi di sekitar kita. Saya hanya bisa bersyukur karena orang tua saya pengertian dan bisa memahami keinginan anaknya. Sekarang, malah mereka SANGAT mendukung bidang yang saya tekuni. Kuncinya cuma satu : KOMUNIKASI, ya komunikasilah yang harus dilakukan agar tercapai win-win solution, sehingga orang tua tidak perlu memaksakan kehendak kepada anaknya dan sang anak dapat mengakomodasi keinginan orang tuanya....

=)
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar