artikel buat lomba

No Comments

Ciliwung : antara Harapan dan Kenyataan

This we know: the earth does not belong to man: man belongs to the earth. . . .

Whatever befalls the earth, befalls the sons of the earth.

Man did not weave the web of life: he is merely a strand in it.

Whatever he does to the web, he does to himself.[1]

-Chief Seattle

Potongan surat dari Chief Seattle, seorang pemimpin suku Indian, kepada presiden Amerika Serikat pada tahun 1855 yakni Franklin Pierce ini kiranya dapat menggambarkan betapa kita sangat tergantung pada alam. Salah satu unsur alam yang berperan penting dalam kehidupan kita adalah air. Air yang mengalir di berbagai belahan sungai di seluruh dunia telah menjadi bukti sandaran hidup bagi suatu masyarakat. Sejarah telah mencatat berbagai peradaban hebat di dunia lahir dari pinggiran sungai. Mulai dari peradaban India kuno yang berpusat di lembah sungai Indus hingga peradaban Cina yang berasal dari sungai Yang Tse Kiang.Begitu juga sungai yang ada di Indonesia, seperti sungai Musi dan sungai Bengwan Solo.

Dari beragam sungai yang ada di Indonesia, ada sebuah sungai yang selalu menjadi bahan berita di media massa setiap tahunnya akibat luapan air yang menghasilkan banjir besar di sebagian kawsan DKI Jakarta dan sekitarnya. Sungai Ciliwung yang memiliki panjang sekitar 130 kilometer ini selalu menjadi bulan-bulanan setiap kali musim hujan tiba. Dahsyatnya luapan air Ciliwung setiap musim hujan pernah mengakibatkan istana Presiden serta beberapa bangunan pemerintahan penting lainnya yang terletak di bantaran sungai, tak terelakan dari serbuan banjir. Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat sungai Ciliwung yang seharusnya menjadi tumpuan kota Jakarta dan sekitarnya malah membawa bencana bagi masyarakat.

Permasalahan banjir yang identik dengan sungai Ciliwung tidak terlepas dari berbagai permasalahan lain di sekitarnya. Tumpukan sampah yang menggunung di daerah hilir sehingga mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai di beberapa titik, bangunan liar yang ada di bantaran sungai, sampai pengelolaan wilayah hulu yang kurang diperhatikan merupakan permasalahan yang cukup pelik. Sungai yang berhulu di kawasan Cisarua, Bogor, tepatnya di Telaga Warna, desa Ciburial dari awal perjalanannya sudah menemukan banyak hambatan untuk mengalir dengan lancar. Vila-vila dan bangunan komersil liar yang ada di sekitar bantaran sungai ditengarai menjadi penyebab berkurangnya daya dukung lingkungan sungai tersebut. Walaupun demikian, kondisi di bagian hulu ini ternyata masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi di bagian hilir. Bahkan, sungai ciliwung di bagian hulu memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata alam.

Menyusuri bagian tengah sungai, sudah mulai terlihat beberapa kepadatan penduduk di bantaran sungai. Memasuki kota Bogor dilanjutkan ke kota Depok hingga akhirnya memasuki kota Jakarta, dapat kita lihat fenomena yang biasa. Sampah yang ada di sungai, bau busuk, serta berbagai kotoran ikut meramaikan sungai tersebut. Sungai Ciliwung yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih akhirnya harus kehilangan nyawanya akibat ulah manusia yang tidak menghargai lingkungan. Fungsi lain seperti fungsi transportasi, fungsi budaya, dan fungsi olahraga yang menjadi fungsi tambahan dari suatu sungai pun tidak dapat berjalan dengan baik.

Padahal, sungai yang terbentuk sekitar 5.000 tahun yang lalu di daeah Jakarta ini sempat menjadi sumber transportasi utama bagi masyarakat di Sunda Kelapa dan sekitarnya. Sisa-sisa sejarah dapat kita temukan apabila kita menyusuri sungai ini dari hulu ke hilir. Menurut Hasan Djafar, arkeolog Universitas Indonesia, di sekitar sungai Ciliwung setidaknya terdapat 15 situs purbakala.[2] Hal ini menunjukkan bahwa sungai Ciliwung pernah menjadi sumber peradaban manusia. Pada zaman kolonial Belanda pun, sungai ini tetap menjadi perhatian pemerintah. Berbagai bendungan dan pintu air dibangun sebagai upaya mencegah Ciliwung dari bencana banjir.

Masalah yang timbul dari sekitar sungai Ciliwung berasal dari masalah lingkungan. Masalah lain seperti masalah sosial dan budaya serta masalah kesehatan timbul akibat kondisi Ciliwung yang kurang dijaga pada masa sekarang. Banyaknya pendatang baru di wilayah Jakarta, membuat ruang hidup di Jakarta semakin sempit dan akhirnya pendatang baru tersebut memanfaatkan bantaran sungai sebagai tempat tinggalnya. Akibatnya, ketika sekarang kita mulai sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan, barulah rumah-rumah liar di bantaran sungai dibongkar paksa pemerintah sehingga menimbulkan masalah sosial. Sebenarnya, masalah utama yang ada di ciliwung adalah masalah kepedulian seluruh warga masyarakat dan pemerintah untuk menjaga sungai ini.

Perlu ada komitmen bersama dan kesadaran lingkungan yang tinggi dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga sungai yang menjadi nadi kehidupan kota Jakarta dan sekitarnya. Program-program dan kebijakan pemerintah seperti PROKASIH (program kali bersih) harus diimplementasikan secara nyata dan konsisten untuk mengembalikan fungsi sungai Ciliwung sebagaimana mestinya. Kembalinya kita ke kultur kearifan lokal juga dapat menjadi salah satu solusi agar sungai Ciliwung tetap terjaga kelestariannya.

Kita semua tentu berharap agar sungai Ciliwung dapat berfungsi kembali sebagai sumber kehidupan yang membawa banyak manfaat bagi kita. Baik sebagai sarana air bersih, sarana transportasi utama, dan sarana lainnya. Potensi alam dan budaya yang ada di sekitar sungai sepatutnya dapat kita manfaatkan dengan baik tanpa menghilangkan unsur kelestarian lingkungan di sekitarnya. Semoga suatu saat nanti sungai Ciliwung kembali bersih, tidak lagi membawa bencana bagi warga di sekitarnya dan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta dan sekitarnya pada khususnya, serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa sungai Ciliwung dengan berbagai macam masalah dan kompeksitas yang ada menggambarkan kurangnya perhatian dan kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat agar sungai yang menjadi urat nadi kehidupan ibukota ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya.



[1] http://shallowknife.wordpress.com/ diambil pada Sabtu 14 Februari 2009 pukul 22.03

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar