Tanggal 4 Desember 2016 merupakan hari yang bersejarah dalam hidup saya.

Alhamdulillah, saya berhasil menyelesaikan "perlombaan lari" BRI RUN sejauh 10 km. Angka yang tidak sedikit, namun jauh dari kata "Full-Marathon".

Sebetulnya, ini lari kedua saya untuk jarak 10k. Sebelumnya, pada tanggal 13 November 2016 saya mengikuti perlombaan lari "Combi Run" dengan jarak yang sama dan catatan waktu yang lebih singkat.

Namun, untuk BRI RUN ini, sangat spesial hingga saya bersyukur sekali bisa menyelesaikan perlombaan lari tersebut walaupun catatan waktunya lebih lama dan saya menjadi peserta dengan juara ketiga dari belakang :p

Saya sempat de-motivasi melihat rute jarak yang harus ditempuh, harus berjibaku dengan parade "Kita Indonesia" dan orang-orang lain di Car Free Day, menempuh jarak yang menurut saya lebih jauh, sempat hampir tidak finish karena tidak melihat papan petunjuk...

Dan akhirnya ketika saya berhasil finish dan diberikan TOSS oleh teman-teman IMRunners yang menunggu saya di garis finish, saya merasa bersyukur sekali. Alhamdulillah. Saya masih bisa menyelesaikan perlombaan lari ini di bawah 2 jam :D

Semoga tahun 2017 saya bisa berlari lebih cepat, lebih kuat dan lebih semangat lagi ya :)
Read More
Saya baru membaca artikel mengenai pernikahan (lagi? katanya mau berhenti ngomongin nikah :p), yang menurut saya bagus dan pas banget sama kondisi saya sekarang. Judulnya "Marriage is a Marathon" (https://fitriariyanti.com/2016/10/19/marriage-is-a-marathon/).

Saya suka dengan pengandaian yang disampaikan oleh Mbak Fitri, bahwa
Pernikahan adalah marathon. Ia yang punya persiapan dan nafas lebih panjang, yang akan sampai garis finish. Sampai garis finish dengan senyum manis, bersama pasangan dan anak-menantu-cucu.
Sepertinya itu diambil dari sebuah kutipan dari seseorang. Melalui tulisan blognya, Mbak Fitri menyebutkan pentingnya persiapan sebelum pernikahan. Hal ini sangat saya amini, bahwa pernikahan butuh persiapan yang panjang karena menyangkut komitmen, kesadaran dan segala konsekuensi yang ada di dalamnya.

Tapi, saya sebenarnya juga ingin mengkritik, kalo lari marathon kan sendirian Mbak, sementara menikah itu berdua :p

Just kidding, haha.

Intinya dari tulisan tersebut saya membaca bahwa pernikahan adalah "sebuah tahap perkembangan manusia". Hanya manusia-manusia yang sudah "kokoh akar dirinya" yang siap melaju ke jenjang pernikahan. Hal ini membuat saya berefleksi kembali, sudah kokoh kah akar diri saya?

Saya ingat sewaktu pelatihan FIM, Ibu Elly Risman dan Bunda Tatty Elmir berkali-kali mengatakan bahwa, kenali konsep diri dan potensi dengan baik.

Ya, banyak dari kita yang sebenarnya belum tahu "siapa kita"?

Kalau ditanya orang, Avina Nadhila Widarsa itu siapa sih? Hal pertama yang akan saya jawab adalah apa pekerjaan saya sekarang, saya tinggal di mana, asal daerah/suku orang tua, sekolah di mana, dan lain sebagainya.

Saya tidak akan menjawab Avina adalah anak yang individualis, suka galau dan sering malu terhadap dirinya sendiri karena "kebodohan" yang sering dia lakukan. Padahal memang itu ya :p

Oke, punya konsep diri yang baik, berarti tau potensi dan "kelemahan" diri. Saya mulai mengenal diri saya sejak kecil dan hingga saat ini saya masih terus belajar untuk menghargai diri saya apa adanya.

Apakah diri saya sudah memiliki akar yang kokoh? Saya rasa untuk memiliki "akar diri yang kokoh", saya harus selesai dengan diri saya. Seperti kata mbak @retnohening kepada bulek @sundarihana "Apa lagi yang mau dicari? Saya sudah selesai dengan diri saya, oleh karena itu saya mau menikah?"

Ah, rasanya kalau definisi "akar diri yang kokoh" berarti "selesai dengan diri sendiri" (untuk meminta), saya masih jauh. Saya masih belajar bagaimana saya bisa memberi sebanyaknya tanpa menerima balasan apapun. Saya masih belajar untuk sabar, toleran dan mendengarkan. Kemampuan empati saya juga masih harus diasah. Saya kurang peka dan saya sadar hal tersebut, saya ingin berubah menjadi lebih peka, peduli dan sadar. Saya harus bisa menjalankan komitmen yang sudah saya canangkan, termasuk dalam berlari dan menulis.

Semoga diri ini cepat kokoh akarnya ya :)
Read More
I think I'll move on to a brand new blog, because I feel to write something much more important rather than a diary, haha
Read More
Hari ini hari kedua saya menjadi dosen di semester ganjil, tahun ajaran 2016/2017. Saya mendapat jatah mengajar sebanyak tiga kelas, yang masing -masing untuk anak semester 1, 3, dan 5. Adapaun mata kuliah yang saya ajarkan adalah Character Building Pancasila dan Agama.

Jangan tanya apa yang saya ajarkan. Intinya, saya bersyukur diberi kesempatan lagi oleh kampus untuk mengampu kelas yang lebih banyak dan lebih menantang. Alhamdulillah.

Di satu sisi, sempat terbesit keraguan, apakah saya bisa mengajar dengan optimal, mengingat kesibukan kerja dan yang lainnya. Saya merasa kadang saya terlalu angkuh untuk tidak mengatakan tidak pada setiap tawaran. Apapun. Mulai dari pekerjaan termasuk soal pria. Duh. Salah banget buat yang satu ini.

Setelah mengalami fase kehilangan kepercayaan diri, saya merasakan juga akhirnya bagaimana didekati oleh seorang pria. Dia baik. He is in my acceptable rate, at first. Awalnya, saya agak hesitant untuk mencoba peruntungan dengan beliau, namun akhirnya saya mencoba memberanikan diri menerima ajakan jalannya. Namun, sayang sekali, saya memang belum bisa menerima (mengidolakan?) dia semestinya. Saya tetap tidak ada chemistry ataupun ketertarikan untuk melanjutkan hubungan. The end.

Selanjutnya, setelah saya mengetahui bahwa saya menderita penyakit Bartholinitis lagi (yang Alhamdulillah sudah sembuh), saya harus menghadapi kenyataan bahwa uang saya habis. Ya, sehabis itu untuk berobat. Selain untuk membayar hutang perjalanan travelling saya kemarin mulai dari Dieng, Pangandaran, hingga Kuala Lumpur, Malaysia. Judulnya sih ini "bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian", ahahaha.

Jadi, sembari mengharapkan gaji yang-entah-kapan-datangnya, saya harus hidup dari hutang. Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi. Semoga setiap rezeki yang saya dapatkan dahulu, sekarang dan nantinya selalu berkah. Amin.

Ah ya, judul kali ini tentang menerima. Saya hanya ingin berefleksi untuk diri sendiri: menerima bahwa di usia 25 tahun saya masih sendiri dan belum ada tanda-tanda untuk menikah, menerima bahwa sedikit beban keuangan keluarga (seperti membantu biaya adik kuliah, uang bensin dan kebutuhan lainnya) harus ikut saya tanggung, menerima bahwa keluarga sudah menginginkan saya menikah (yang belum bisa saya penuhi), menerima bahwa naik mobil itu mahal dan kereta adalah alternatif transportasi terbaik, menerima bahwa semakin banyak teman saya yang menikah dan semakin sedikit teman yang hadir dalam acara pernikahan tersebut (bisa dibayangkan ketika saya menikah nanti yang entah kapan, sesedikit apa teman saya yang hadir), menerima bahwa menjadi atau tidak menjadi bridesmaid dan diberikan atau tidak diberikan seragam bukanlah suatu indikator pertemanan/persahabatan, menerima bahwa setelah lari 100km berat badan saya tidak turun banyak (bahkan fluktuatif, karena memang bukan itu tujuan awalnya), dan menerima bahwa sebentar lagi saya akan ke Paris bersama bos saya (mudah-mudahan tidak ada pengalaman buruk di sana).

Semoga kita semua tetap semangat dan sehat selalu!

Salam,

ANW
Read More
Alkisah, satu bulan yang lalu, setelah sesi mengaji tahsin, salah satu teman saya mengumumkan agar teman-teman perempuan (termasuk saya dong :p) agar stay sejenak sebelum pulang. Ternyata, ia mau membagikan bahan untuk seragam nikah salah satu teman yang pernah tahsin di grup ini.

Sebagai satu-satunya yang tidak mengenal beliau yang akan menikah, tentunya saya tidak diberikan seragam. I'm fine with that. Tapi, kenapa harus mengumumkan semua yang cewek2 untuk stay di ruangan? kan jadi keki, haha.

Lalu, saya berpikir kembali tentang makna pertemanan. Makna in group dan out group. Saya sudah bergabung di kelompok ini sejak Februari, ya relatif baru sih. Intensitas hubungan kami juga tidak terlalu mendalam, hanya seminggu sekali selama 2 jam.Wajarlah saya tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan para anggota, walaupun kami tergabung (berhubungan) lewat satu institusi besar.

Kemarin,teman SMA saya menikah. Kami berteman baik sejak kelas X, memang sejak kuliah hubungan kami merenggang dan baru pada bulan April lalu kami bertemu di salah satu pernikahan teman yang lain. Memang saya tidak diundang secara personal, tidak ada undangan fisik apalagi seragam. Ternyata, tiga teman saya yang lain ia berikan seragam. Saya datang bertiga bersama dua teman lain yang memakai seragam. Ahahaha. Can you imagine that? Pas foto bersama, saya sendiri yang tidak memakai seragam.

Teman saya yang menikah memang pada bulan April pernah melontarkan perntanyaan "Jangan-jangan gw ngga lo anggap sebagai teman dekat ya?" ketika saya bertanya kepadanya kenapa akhirnya mengajak saya ke pesta pernikahan. Oh, ternyata memang saya dianggap tidak sedekat itu olehnya. Atau mungkin dia berpikir saya akan terlalu sibuk, sehingga tidak akan menyempatkan hadir di pesta pernikahannya yang jauh di luar kota.

Kisah seragam ini sebenarnya membuat saya berpikir, seberapa besar makna kehadiran saya di tengah teman-teman saya. Banyak artikel yang membahas tentang relasi pertemanan di usia dewasa muda. Mereka mengungkapkan bahwa relasi pertemanan di usia dewasa muda akan semakin sempit. Mengingat pada usia ini, kita akan memasuki fase kehidupan baru di lingkungan kerja dan mulai untuk berkeluarga. Semakin sempit lingkungan pertemanan, semakin dalam akan semakin baik.

Hal ini berkebalikan dengan saya, saya mempunyai teman dan relasi yang banyak. Namun, yang deep saya rasa sedikit sekali, dan itu pun bukan dalam bentuk grup/geng. Hal ini ternyata berpengaruh besar perihal undangan fisik dan seragam yang akan diberikan oleh calon pengantin kepada teman-teman dekatnya.

Minggu depan, teman SMP saya akan menikah. Ia memberikan undangan fisik, saya agak terkejut. Ternyata saya memiliki makna yang lebih untuknya. Sebelumnya, teman SMP saya menikah memberikan undangan personal, walaupun saya tidak bisa hadir, namun undangan personalnya memberikan arti untuk saya. Ketika teman SMP saya yang satu lagi menikah, saya diberikan seragam, wah, rasanya cukup senang walaupun sebenarnya saya tahu seragam itu seharusnya untuk teman saya yang tidak bisa hadir karena melanjutkan studi di luar negeri.

Ah, sudahlah, kenapa jadi galau karena seragam? Hahahaha
Read More
Hampir 4 tahun yang lalu saya menulis postingan tentang "Operasi Abses Kelenjar Bartholini".

Saat ini, saya kembali harus bergelut dengan sakit yang sama :(
Ya, kelenjar Bartholini saya bengkak lagi, radang lagi, infeksi lagi. Setelah dioperasi, ternyata kelenjar ini tetap bisa aktif dan timbul infeksi jika ada bakteri yang masuk....

Sakit, saat ini saya susah bergerak terutama untuk gerakan yang menuntut perubahan sikap dari duduk dan berdiri. Terutama duduk di antara dua sujud dan duduk tahiyat akhir maupun awal ketika sholat. Oh ya, sujud juga agak sakit...

Bartholin saya mulai bengkak sejak hari Jumat, saya pikir dia tidak akan berkembang begitu cepat. Ternyata semalam, saya merasakan sakit yang luar biasa dan pagi ini saya mendapati ukurannya sudah berubah menjadi lebih besar sehingga terasa jelas jika diraba.

Oke, kemarin saya ke dokter kandungan dan kebidanan di Yankes. Beliau memberikan dua obat untuk mengurangi rasa sakit dan antibiotik untuk infeksi. Tadi pagi, karena saya merasakan sakit yang luar biasa, saya pergi ke dokter kandungan di RS Premiere Bintaro dan mendapati bahwa ternyata nanah dalam kelenjar yang radang tersebut tidak dapat dikeluarkan (tidak ditemukan?). Kelenjarnya terlalu keras untuk dipencet sehingga dokter kembali memberikan resep obat yang sama (dengan harga yang luar biasa!) untuk mengurangi nyeri, sakit dan infeksi.

Lesson learned untuk abses kelenjar Bartholini kali ini:
1. Kelenjar Bartholini adalah kelenjar yang menghasilkan pelumas untuk berhubungan seksual, sehingga bagi saya jika ingin terbebas dari penyakit ini selamanya tidak mungkin, sebab saya belum menikah dan jika diangkat nantinya jika berhubungan seksual akan terasa sakit sekali dan tidak nikmat.

2. Operasi yang dilakukan 4 tahun yang lalu bukan operasi marsupialisasi (pengambilan kelenjar), merupakan operasi insisi (mengeluarkan nanah dari kelenjar yang bengkak). Gejala abses kelenjar bartholini ini bisa terjadi lagi, indikasinya akan lebih banyak ketika sudah menikah.

3. Obat yang wajib diberikan bagi penderita abses kelenjar bartholin: obat anti nyeri dan antibiotik, jika bengkaknya besar juga dapat diberikan obat untuk bengkak. Saya sendiri mendapatkan resep Cefspan (Cefixime - antibiotik), Cataflam (Potasium Dikoflenak - obat anti nyeri) dan Arcoxia (untuk bengkak).
Terdapat dua perbedaan penanganan dari dokter di Yankes (kantor) dan dokter di RS. Dokter di Yankes mengerutkan kening ketika saya menjelaskan bahwa saya berendam di air hangat dan mengompres abses tersebut. Ia menyarankan untuk menggunakan betadine Vaginal Douce untuk menjaga kebersihan Miss V. Sementara dokter di RS menyarankan untuk mengompres dengan air hangat dan tidak menggunakan betadine tersebut melainkan menggunakan obat lactacid atau sebamed yang pHnya balanced.

Saya lebih cenderung mengikuti saran dokter di RS dan beberapa website untuk mengompres dengan air hangat atau berendam di air hangat.

Fine. Hari Jumat harus kontrol lagi, semoga nanahnya udah bisa keluar ya guys. Amin.
Read More
Sebuah pesan masuk ke dalam inbox Facebook saya. Pesan dari Mbak Deni, bidan yang merupakan tetangga sekaligus sahabat saya di desa Bajo, Halmahera Selatan mengabarkan anaknya yang sudah masuk SD dan harus berpisah dengan orang tuanya karena mereka dimutasi ke Bisui. Daerah yang jauh dari hindari bingar kota Labuha dan fasilitasnya tidak semenarik di Bajo

Semua karena politik. Kepala puskesmas Bajo diskon job kan mungkin karena beliau tidak mendukung bupati yang sekarang terpilih (dengan pengajuan banding ke MK, sengketa pilkada Halsel akhirnya dimenangkan pasangan Bahrain Kasuba dan Iswan Hasjim). Walaupun saya cukup akrab dengan Pak Iswan (dahulu, 2 tahun yang lalu) dan pernah berinteraksi dengan pak Bahrain, saya kira politik tetap politik. Jika banyak yang menyayangkan kepergian Anies Baswedan karena strategi politik Jokowi, hey jangan heran praktek tersebut sudah lazim dilakukan di 34 provinsi di Indonesia. Upaya saling jegal, mutasi dan non-job mereka yang tidak sepemikiran dan lain sebagainya sudah jadi realita politik di daerah. Dan ternyata, tidak harus melihat jauh ke sosok sekaliber pak Anies, bidan dan perawat desa pun merasakan kejamnya "politik". Yang saya sesali semua yang berbau politik dibalik dengan dalih untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Hello!

Kembali lagi ke kabar dari Mbak Deni, bersama mas Pur atas titah kepala puskesmas yang baru mereka dipindahkan ke daerah lain. Bersamaan dengan itu, mbak Deni yang sedang hamil 4 bulan harus meninggalkan Livie anak semata wayangnya untuk memperoleh pendidikan yang baik, di Jawa. Sungguh berat nian perjuangan keluarga ini. Semoga Allah rahmati mereka semua dan memberikan berkah untuk jalan baik yang mereka ambil.

Lalu, ada kabar duka datang dari Bajo. Mama Meri, tetangga depan rumah mama Juk, mama piara saya di Bajo, meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya sedih, mama meri baik sekali dengan saya. Mama meri salah satu orang pertama yang membuat saya betah di Bajo, mengajak saya bercerita dan membantu saya menjemur pakaian. Banyak cerita yang saya dengar dan saya bagi dengan mama Meri. Mama Meri orang baik, saya tidak bisa membayangkan betapa terpukulnya Eka dan Nanda, dua anak perempuan terakhir mama Meri atas kepergiannya. Sungguh, saya berdoa semoga Mama Meri diampunkan segala dosa dan kesalahannya, dilapangkan jalannya menuju surga. Aminnn
 Al fatihah.

Kemudian saya menelepon mama Juk, menanyakan kabar Ari, Abi dan Alvin. Tentu saja mereka sudah bertambah besar. Saya juga bertanya mengenai desa, katanya om Narto mau pergi haji, listrik pln bisa menyala hingga siang saat bulan Ramadhan dan pemilihan kepala desa serentak akan diadakan di bulan Oktober. Pak Acun papa piara saya maju menjadi kandidat kepala desa di Waya, daya tanya ke mama Juk, mana yang lebih mama pilih, apakah pak Acun jadi kepala desa atau di Bajo. Mama dengan bijak mengatakan "mana-mana saja yang baik, kewajiban kita kan ikut suami"... Ya, semoga yang terbaik untuk pak Acun, Mama Juk dan keluarga.

Terakhir mama Juk bertanya"kong sudah menikah? "

Hahaha. Saya jawab," tenang saja mama, kong saya menikah to undangan akan sampai ke Bajo... " insyaAllah :)
Read More
Salam.

Hari ini secara  tidak sengaja saya tidak membawa handphone saya ke kantor. Saya lupa, hape saya masih tertinggal di kamar karena semalam saya lupa men-charge baterainya hingga kosong. Tidak seperti biasanya, saya selalu mengecek hape di tempat charger, kali ini saya baru ingat ketika sudah sampai stasiun pondok ranji. Walaupun saat itu kereta masih di Serpong, tapi rasa malas untuk kembali ke rumah, hanya untuk mengambil "sebuah alat komunikasi".

Tidak dapat dipungkiri, sejak awal tahun 2000an, hape sudah menjadi kebutuhan primer bagi jutaan bahkan milyaran orang di dunia (termasuk saya). Ketinggalan hape merupakan sebuah "disaster" bagi orang yang menjadikan komunikasi sebagai kegiatan utamanya. Mereka yang selalu menundukkan kepala ketika menunggu kereta tiba atau para pekerja yang senantiasa scrolling timeline instagram, Path, atau social media lain di kala tidak ada/malas dengan kerjaan kantor pasti akan merasa kehilangan jika tidak ada hape.

Tadinya, saya berpikir, waduh rencana saya hari ini bakalan ribet nih karena ga bawa hape. Secara agenda hari ini selain ke kantor ada juga jadwal mengaji/tahsin yang tempatnya masih tentative. Saya juga harus mengabari orang tua saya jika saya jadi mengaji. Tapi saya pikir kendala komunikasi tersebut bukan suatu hal yang besar di era modern saat ini.

Alhamdulillah, masih ada Facebook dan telepon di kantor. Urusan mengaji dan izin orang tua untuk pulang malam saya kabarin lewat Facebook messenger. Beruntungnya kantor saya tidak memblokir akses Facebook, hehe. Ya, sekarang ini bahkan komunikasi tidak hanya bisa dilakukan lewat hp tapi juga via komputer atau gadgets lain (yang penting ada internet) 24/7. Well. Kebutuhan primer jadinya sekarang bukan hape, tapi lebih ke akses Internet untuk sarana komunikasi.

Saya pernah mengalami kendala komunikasi ketika di penempatan, tepatnya di Desa Bajo, Halmahera Selatan. Sinyal internet di sana hanya bisa ditemukan di titik2 tertentu. Kebetulan di rumah mama piara saya tidak ada sinyal hape langsung, jadi harus dipasang alat penangkap sinyal. Itu pun selama beberapa bulan pertama hanya bisa menangkap sinyal GPRS, yang hanya bisa terima telpon/sms. Namun, ternyata keberadaan rumah saya yang jauh dari sekolah sehingga harus melewati jembatan papan semacam Blessing in Disguise. Sembari saya berjalan ke dan dari sekolah, saya bisa menangkap sinyal dan membaca beberapa pesan yang masuk melalui Whatsapp  Tak heran saya kadang nongkrong di area sekitar jembatan papan dan dekat pelabuhan, serta tempat mas Mukhlis di rumah tete Umar, hanya untuk menangkap sinyal dan berkomunikasi. Untungnya pas di camp selama 1,5 bulan sudah dilatih untuk "puasa" komunikasi dengan hape. Jadi, selama di penempatan tidak risau karena tidak bertemu dengan internet setiap saat.

Kembali ke Ibukota di mana hampir semua orang sibuk dengan hapenya masing2, urusan ketinggalan hape mungkin merupakan masalah yang besar (jika ingin dibesar2kan). Namun saya merasa satu hari ke belakang, hari berjalan normal. Tidak ada hape bukan merupakan halangan untuk beraktivitas bahkan di kantor menjadi lebih produktif karena tidak sebentar2 melihat hape. Selain itu, saya jadi punya lebih banyak waktu untuk memikirkan ide, merencanakan dan berimajinasi tentang apa yang saya mau lakukan setelah ini. Mungkin hape merupakan distraksi yang tinggi untuk produktif dalam bekerja.  Semoga kita semua bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan sebaik-baiknya :)

Salam,

ANW

Read More
"Menyambung tali kasih sayang"

Begitu kira-kira arti harafiahnya. Dalam suasana idul fitri kali ini, saya juga mau mengucapkan Taqabalallahu Minna wa Minkum. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman. Semoga kita menjadi orang yang menang di bulan Syawal ini dan seterusnya. Amin.

Saya lagi batuk dan pilek parah nih, haha. Saya heran, kenapa kayaknya setiap bulan saya selalu dikasih kesempatan sama Allah untuk"cuci dosa" lewat sakit seperti ini. Apakah dosa saya terlalu banyak? Bisa jadi sih, huhu.

Silaturahmi saya rasa juga bisa menjadi salah satu jalan untuk memperpanjang rezeki, umur dan jodoh (eh.). Saya senang bersilaturahmi, terutama dengan keluarga, kerabat dan teman yang jarang saya temui sehari-hari.

Jujur saya bukan orang yang pandai menjaga hubungan dalam jangka panjang. Saya bukan seorang yang eager untuk memulai kontak duluan hanya sekedar say Hi, sebab meskipun kita banyak berhubungan di masa lalu tapi banyak pula waktu yang tidak saya lewati dengan sahabat-sahabat saya karena kesibukan kami masing-masing.

Semoga Allah mengampuni kami dan membuka jalan untuk bersilaturahmi lebih panjang lagi. Amin.
Read More
Halo!

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah diberi kesempatan untuk mengisi blog yang sudah berganti domain (.com) ini kembali. Seharusnya semakin sering postingan bermanfaat ya karena saya sudah mengeluarkan effort (baca: beli domain) yang lebih untuk blog ini, dan meminta bantuan Ecky yang superb serta baik hati untuk memindahkan domain dari blogspot ke situs pribadi dengan nama saya sendiri. Fyi, situs pribadi ini mungkin akan saya gunakan untuk kampanye politik, 5-10 tahun mendatang. Haha.

Ngomongin soal kampanye, saya jadi inget, Tina, temen S2 saya yang waktu itu pernah saya ceritain meng-encourage saya untuk "run for a legislative candidates" akhirnya nikah juga! Setelah bertahun-tahun pacaran, akhirnya menikah juga di Jerman. Lalu, ada teman se-asrama ppsdms saya yang namanya Avina juga, Avina Anin Nasia lebih tepatnya sudah menikah minggu lalu dengan seseorang yang mengaku dirinya jomblo dan sering minta di-bully di media sosial. Barakallah Pram dan Anin!

Minggu lalu banyak banget memang yang nikah selain Anin dan Pram: 1) Lili dan Iqbal, sama-sama rekan ppsdms yang keduanya sama-sama sedang melanjutkan studi Ph.D di Belanda dan Inggris; 2) Bow dan Oci, ketua angkatan PM 7 ini akhirnya bisa meng-halal-kan gadis pujaan hatinya sejak di Majene; 3) Kak Alsha, senior PM 5 Halsel yang menggenap dengan pujaan hatinya yakni bang Aulia; 4) Afu, junior saya HI 09 sekaligus pendamping saya waktu studi lapangan Mapres FISIP 2011 akhirnya menikah dengan pujaan hatinya, Wikan; 5) Avi, teman saya di jurusan antropologi FISIP UI yang menikah dengan seorang pilot. Congratulations all!

Lah, kenapa jadi ngomongin nikah ya? Haha.Sekalian aja deh. Semoga ini bukan salah satu posting FOMO (Fear of Missing Out) ya karena satu per satu teman dekat dan teman jauh saya sudah menikah.

Well, di antara semua kisah pernikahan yang saya sebutkan di atas, saya paling suka dengan kisah Anin dan Pram. For me, it's a kind of fairy tale wedding story yang saya impikan. You can read full version of their journey here: http://avinaninasia.tumblr.com/.

Semoga mimpinya bisa jadi nyata ya :))

- dari Avina yang masih berdoa-


Read More
Alkisah, bulan Mei 2016 saya di-assign untuk membuat bahan pertemuan Parliamentary Session on World Health Assembly. Sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi parlemen dunia, Inter-parliamentary Union bekerja sama dengan World Health Organization sebagai wadah bagi para anggota parlemen untuk berdiskusi mengenai isu-isu kesehatan, khususnya yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan global dan strategi global untuk meningkatkan kesehatan Ibu, Anak dan Remaja.

Beberapa hari kemudian, setelah membuat sekitar dua halaman point of interventions, saya dikabari oleh Koordinator bahwa saya harus siap-siap, karena kemungkinan akan mendampingi delegasi DPR RI ke pertemuan tersebut.

What a surprise!

Tugas ke Jenewa, mendampingi anggota, sendirian. Saya belum terbayang bahwa kesempatan ini juga akan menjadi kesempatan pertama saya menginjakkan kaki di bumi Eropa. Wow!

Setelah sebelumnya saya mendapat kesempatan bertugas ke benua hitam, Afrika, lebih tepatnya ke Zambia, kali ini saya bertugas ke Swiss. Alhamdulillah...

Tapi saya masih belum cerita ke siapa-siapa. Bapak saya sempat bertanya, apakah saya akan dikirimkan bertugas ke luar negeri dalam waktu dekat. Saat itu belum ada kabar bahwa saya akan berangkat ke Jenewa, jadi saya jawab bahwa saya belum tahu dan mungkin tidak akan berangkat dalam waktu dekat.

Ternyata, beberapa hari kemudian, saya ditelpon oleh sekretariat untuk mengurus visa ke Jenewa. Oh dear! This is real, saya akan pergi ke Swiss di akhir bulan Mei :D

Mulailah ke-stress-an mengurus persiapan ke berangkatan. Mengurus visa ternyata mudah (setelah dilewati) asalkan mengikuti prosedur yang tepat, haha. Kebetulan di ruangan saya, hampir semua TA lama sudah pernah ke Jenewa dan semuanya sudah pernah mengurus visa schengen, jadi saya banyak bertanya ke mereka, terutama mengenai pengalaman dalam mengurus visa.

Jadi, jika Anda memiliki tugas untuk berangkat ke Jenewa (atau Swiss) secara umum, berikut langkah-lagkahnya:

1. Buka laman TLS Contact (https://www.tlscontact.com/id2ch/login.php) atau https://ch.tlscontact.com/id/JKT/index.php
TLS Contact adalah agen visa resmi kedutaan besar Swiss di Jakarta.

2. Buat akun di web tersebut, ada beberapa isian terkait informasi pribadi Anda. Isian ini merupakan formulir visa Schengen yang nantinya akan di-print sebagai dokumen syarat pengajuan visa.

3. Setelah selesai, buat janji (appointment) dengan pihak TLS untuk menyerahkan dokumen dan melakukan pengambilan biometri (foto dan sidik jari)

4. Catat dan print daftar dokumen yang diperlukan. Adapun untuk Business Visa bisa dilihat di link berikut: https://ch.tlscontact.com/id/JKT/page.php?pid=business

5. Lengkapi dokumen persyaratannya.

6. Datang ke TLS Contact di Menara Anugerah lantai 3, Mega Kuningan, Jakarta tepat pada hari dan jam yang telah ditentukan.

7. Tunjukan konfirmasi pendaftaran dan paspor kepada petugas. Anda kemudian akan diarahkan untuk menaruh handphone di loker yang tersedia.

8. Masuk dan tunggu nomer antrian Anda dipanggil untuk menyerahkan dokumen serta persyaratan yang diperlukan.

9. Petugas TLS Contact akan mengecek kembali dokumen-dokumen yang Anda bawa. Jika dirasa ada yang kurang dan tidak cocok, misalnya waktu itu saya mengajukan visa untuk tanggal 24-28 Mei 2016, namun tanggal asuransi saya hanya berlaku sampai tangal 27 Mei, petugas akan memberikan catatan untuk kita lengkapi dan diserahkan langsung ke kedutaan Swiss melalui e-mail.

10. Membayar biaya visa, total biaya yang saya keluarkan saat itu Rp 1.085.000,- termasuk biaya layanan dan biaya visa. Jika Anda mendapat surat undangan langsung dari organisasi internasional/perusahaan yang menyebutkan nama Anda, maka kemungkinan besar Anda digratiskan dari biaya visa, namun Anda tetap harus membayar service fee sebesar kurang lebih Rp 330.000,- . Jangan lupa siapkan uang cash, karena mereka tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debit.

11. Mengambil biometri, foto dan sidik jari. Selesai!

Waktu pengurusan visa normal adalah 5 hari kerja, jika Anda memasukkan dokumen pada  Senin pagi, kemungkinan visa Anda akan selesai pada Jumat siang. Kedutaan Swiss akan menelepon Anda keesokan harinya jika dirasa ada yang kurang dalam dokumen yang diantar oleh TLSContact.

Jadi, dokumen yang dibawa dari TLSContact akan dimasukan setiap hari kerja pada pukul 12.00 WIB dan Kedutaan Swiss akan mengembalikan passpor pada pukul 14.00 WIB.

Saya sendiri sempat deg-degan, karena waktu itu reservasi tiket yang saya berikan tidak ada nomer bookingnya dan asuransi saya jumlah harinya tidak sesuai dengan surat tugas saya. Setelah tiga hari kerja, saya coba telepon TLSContact, namun tidak ada jawaban bahwa paspor saya telah dikembalikan.

Ternyata, saya bisa men-track aplikasi saya di website, apakah paspor saya sudah selesai atau belum. Alhamdulillah, tepat 5 hari kerja paspor saya selesai dan dikembalikan dalam amplop, dimana hasilnya adalah VISA SCHENGEN! sukses tertempel pada salah satu laman paspor saya.

Demikian cerita hari in, semoga bermanfaat!

Salam,

Avina Nadhila W.


Read More
Welcoming my new blog slash personal website address:

www.avinanadhila.com

Thanks a lot Ecky Agassi!
Read More
Suatu hari saya membaca tulisan di blognya Fikri. Tulisannya agak filosofis,  seperti biasa.  Poin yang saya dapat dr tulisan itu adalah "otak manusia pada hakikatnya adalah chaos, banyak sekali data dan informasi yang kita tangkap,  namun manusia seyogyanya akan selalu mencari keteraturan..."

Setuju banget sama poin ini.  Mungkin yang suka membaca blog saya akan melihat bagaimana usia, kesibukan dan aktivitas yang saya lakukan berpengaruh terhadap isi tulisan saya. Kalau saya lagi ga ada kegiatan biasanya saya suka nulis yg galau2.

Sewaktu saya mencari kerja misalnya, saya merasa saya kurang cocok dengan pekerjaan yg saya lakukan, suasana kantor yg baru dan lain sebagainya. Otak saya kacau sekacau2nya. Alhamdulillah, Allah kasih saya jalan yg tidak saya duga sebelumnya.

Saya dipertimbangkan dengan banyak orang baik dan akhirnya bisa mulai "settle down"  dalam hal pekerjaan dan karir.

Semoga cinta bisa menyusul ya :)






Read More
Hari ini gw ikut pembekalan panitia FIM 18. Sebagai peserta FIM 11 yg mana kejadiannya hampir 5 tahun yg lalu,  membuat saya berpikir,  ya ampun udh tua banget ya gw.  Seharusnya di usia segini kesibukan gw ga lagi jd panitia x y z. Harusnya udah lebih settle, seperti yg sudah banyak dilakukan sana teman2 gw.  Nikah dan punya anak.

Tapi hidup memang ga bisa gw planning "as I wish". Planning ya sih pengen nikah tahun ini. Bulan Juni.  Tgl 1. Biar angkanya cantik gitu,  1 6 16. Apa daya belum ada yg mau serius sama gw #eh

Pertanyaannya lebih ke "apakah gw layak menikah tahun ini?"

Mungkin gw ga peka. Ada yg menaruh hati tp gw cuekin. Asli.  Gw ga mau GR. Kalo ada yg niat serius,  sila langsung aja ajak nikah. Ga perlu basa basi bilang cinta, apalagi sekedar ngajak main2.

Saya cari suami,  saya cari imam,  saya cari laki2 yg sholat ya bener :)
Read More
29 Januari 2016.

Ruang Tenaga Ahli BKSAP, Gedung Nusantara 3 lantai 4. Kompleks Gedung DPR/DPR/MPR RI, Jakarta.

Bagaimana saya bisa sampai di sini?

Sudah dua bulan saya menempati sebuah kursi di ruangan ini. Perjalanannya panjang, lebih dari satu semester proses sejak memasukan berkas berupa CV dan surat lamaran kerja, ke gedung ini.

Proses berlanjut dengan mengirimkan berkas-berkas tambahan: IELTS, Ijazah, Transkrip dan beberapa sertifikat. Sempat pesimis, ternyata saya dipanggil untuk mengikuti tes tertulis yang bertepatan dengan hari terakhir saya di Bappenas, 4 September 2015.

ini tes lamaran  pekerjaan tersusah yang pernah saya ikuti. tugasnya membuat pidato dalam bahasa Inggris sebanyak kurang lebih 2.000 kata dan menjawab 5 pertanyaan esai terkait isu internasional dalam waktu 2,5-3 jam. susah. saya pesimis.

Takdir ternyata berkata lain, di akhir bulan, di tengah kegalauan saya setelah proyek CPL-GIZ ini saya mau ke mana, e-mail itu datang, memberitahukan jadwal wawancara dengan pimpinan BKSAP.

dan saya pun diwawancara, oleh Ibu. Sebentar saja, tidak sampai 15 menit. Saat itu saya yakin, mungkin inilah jawaban doa-doa saya selama ini.

Alhamdulillah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bulan Januari ini banyak sekali yang patut disyukuri. Pendakian pertama saya ke Gunung (beneran) Papandayan di awal bulan bersama Nicko, Alfa, Ina, Mba Roro dan Frengki berjalan lancar. Walaupun mama marah ketika mengetahui anaknya naik gunung, saya senang. Badan pegal seharian setelah saya pulang, counterpain dan pijat menjadi solusi yang efektif, sejenak. Berjibaku dengan TU TA tentang gaji yang belum cair, semoga minggu depan betul-betuk cair untuk dua bulan, seperti yang dijanjikan, amin. Refleksi Komsos PM XII. Sharing Alumni OPP PM IX. Halsel Squad gathering di rumah.

Lalu, ada perjalanan wedding crashers Andini-Biqi, Icha dan Bahrul di hari Minggu. Event Grand Launching SabangMerauke 2016. Akhirnya sign up di FitnessFirst Senayan City.

Beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan: APPF, PUIC, GKSB Thailand dan Parliamentary Network on World Bank and IMF Field Visit.

dan beberapa kegalauan yang saya paksa hentikan.
Read More
Yesterday was so furious. A bomb (and several other fire shots) blasted in Sarinah and its vicinity. The tension was high, in the noon, however the police managed to calm it down before night.

This week is not as packed as last week. Last week, I had several meetings with Sabang Merauke Raising Awareness Team, Komsos PM XII, meet up with my fellow PM 7 Majene, sharing alumni and Halsel Squad welcoming party. *drained mode on*

This week, I just met several friends and go home early almost everyday.

I went to ATM machine last night and found out that there was a mistransaction which cut my balance off. While the fund was so limited, I haven't got any transferred salary for last month. The TU TA said it will be "dirapel" and transferred along the salary for this month. Hopefully, it will be transferred as early as possible and well. Ameen.

And yeah, the idea of listing my activities hampered my initial ideas to write a note about The Theory of Developed Country by Pak Arief Havas Oegroseno, one of the calibre diplomat of Indonesia. According to my friend, Pak Havas as he always called, though that there are three criteria that a country should pose to be a developed country. At least, a country should pose two out of three criteria to be considered as a developed country. Those criteria are:

1. A small territory
2. Have four seasons
3. Less democratic government.

And yeah, Singapore-China-US (to some extent) fit to these criteria. Haha.

Well, those criteria reminded me of Pak Anies criteria for choosing a job:

1. Socially impactful
2. Intellectually developed
3. Sufficient salary.

If you get an offer from a company or institution, which entails two out of three criteria, then go accept it!

So, this is just a small note from a meeting with my friend.

terima kasih untuk waktu dan traktirannya ya :)





Read More
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda